Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 128


__ADS_3

Tak membutuhkan waktu lama untuk Vera menyelesaikan ritual mandinya. Kini, Vera telah siap dengan pakaian barunya.


"Sekarang, aku harus memikirkan cara, untuk merahasiakan kehamilan ku ini. Aku harus bisa bujuk dokter mengatakan jika aku keguguran." gumam Vera setelah melihat pantulan dirinya di dalam cermin. "Semoga saja, di saat perutku sudah terlihat membesar, aku sudah bisa berhasil kabur!" sambungnya lagi.


Setelah beberapa menit bercermin. Vera memantapkan dirinya untuk keluar kamar.


Perlahan Vera membuka pintu kamarnya. Dia bisa melihat Putra yang sedang menunggunya di ruang tamu.


Mendengar suara pintu kamar terbuka, Putra menoleh dan dia melihat sosok bidadari yang sangat cantik.


"Ver, kamu sudah siap?" tanya Putra dengan takjub, "Kamu sangat cantik!"


"Kamu bisa aja, Put! Ayo, kita berangkat, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada calon anakku!" titah Vera.


'Itu sudah pasti terjadi, Ver! Dan aku pastikan ... calon anakmu sudah tiada!' batin Putra. "Okeh, kita berangkat sekarang ... tapi apapun hasil dari dokter, kamu harus bisa bersabar!" ujar Putra.


"Bersabar? Memangnya, kamu tahu hasilnya apa?" tanya Vera berpura-pura boodoh.


"Aku juga tidak tahu, aku hanya bicara apa adanya. Namanya musibah, tidak ada yang tahu. Maka dari itu, aku mau ... apapun keputusan dokter, kamu harus bisa bersabar, okeh!" titah Putra berjalan menghampiri Vera. Dia mengulurkan tangannya, "Biar aku bantu! Aku takut, tubuhmu masih lemas dan jatuh di jalan!" sambungnya lagi.


'Demi sandiwaraku berhasil, aku rela berpegangan tangan dengannya!' batin Vera menerima uluran tangan Putra, "Sekali lagi, aku mengucapkan terimakasih, put!" ujar Vera sambil menampilkan senyum manisnya.


'Akhirnya, Vera mulai luluh padaku. Aku jamin, setelah dokter mengatakan jika dirinya keguguran, pasti orang pertama untuknya bersandar itu aku! Karena hanya aku yang ada di dekatnya saat ini!' batin Putra.


Mereka berjalan keluar rumah. Setelah keluar rumah, Vera dapat melihat taksi yang sudah berhenti di depan rumahnya.


"Siapa yang pesan taksi? Aku belum pesan taksi?" gumam Vera.


"Aku yang pesan. Aku tidak mau melihatmu kepanasan mencari taksi. Ya, sudah. Kita masuk! Dan periksakan kondisimu!" titah Putra membukakan pintu taksinya.

__ADS_1


'Kamu memang baik, Put! Tapi kamu juga jahat! Aku tidak bisa hidup bersama orang yang mempunyai muka dua!' batin Vera setelah mendudukkan pantatnya di kursi taksi di ikuti oleh Putra di sampingnya.


Taksi pun mulai berjalan. Di sepanjang jalan, Vera selalu mengingat nama jalanan ibu kota. Karena beberapa bulan di luar negeri, membuat dirinya sedikit lupa dengan kota yang menjadi tempat kelahirannya.


'Kira-kira rumah Kak Zena sudah pindah belum, ya? Aku merindukan kak Zena!' batin Vera menatap pepohonan di pinggir jalan.


Setelah beberapa menit taksinya membelah jalanan ibu kota. Akhirnya, kini taksi yang ditumpangi Vera juga Putra telah sampai di rumah sakit yang tak jauh dari rumahnya.


"Kita sudah sampai. Sebaiknya, kita turun!" titah putra lalu membayarkan tarif taksi.


"Kamu mau temani aku masuk, Put?" tanya Vera.


"Tentu! Karena aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Sekarang, kita masuk!" titah Putra membuka pintu taksi dan keluar.


Setelah keluar dari taksi. Vera dan Putra berjalan memasuki rumah sakit.


"Aku ambil nomer antrian dulu. Kamu pegang tanganku. Jangan sampai di lepas, okeh!" titah Putra.


"Sudah! Aku sudah berhasil mendapatkan nomer antrian. Kita langsung ke ruangan saja dan tunggu namamu di panggil!" ajak Putra yang mendapat anggukan kecil dari Vera.


"Iya," jawab Vera mengikuti langkah kaki Putra, "Aku tidak bisa kabur sekarang ... aku takut, Putra meletakkan anak buahnya di setiap sudut rumah sakit ini!' batin Vera.


Setelah sampai di ruang praktek kandungan. Putra meminta Vera untuk duduk mengantri dengan beberapa ibu hamil lainnya. "Kamu duduk, ya, sayang!" titah Putra perhatian.


"Iya, Put!" jawab Vera menatap beberapa ibu hamil yang di dampingi suaminya. 'Kemarin, aku memeriksa kandunganku bersama suamiku, sekarang ... aku memeriksakan kandunganku ini bersama pria yang menculikku. Dan lebih parahnya, aku harus membujuk dokter untuk melancarkan sandiwaraku ini!' batin Vera.


Putra menggenggam erat tangan Vera, "Jangan takut, ada aku di sini!" bisik putra yang lagi dan lagi membuat Vera memaksakan menampilkan senyum manisnya.


'Kamu jahat, Put! Kamu berusaha melenyapkan calon anakku. Aku tidak percaya dengan sikapmu yang sekarang!' batin Vera, "Jika terjadi sesuatu dengan calon anakku, bagaimana, Put? Aku takut Mas Dave marah dan dia mencelakaiku!" lirih Vera.

__ADS_1


"Semua itu tidak akan terjadi, sayang! Kan ada aku di sini! Aku kan berjanji, aku akan melakukan apapun untukmu dan aku akan melindungimu dari suamimu itu!" ujar Putra.


"Tapi, Put! Aku takut saja! Kamu tahu kan? Orang hamil itu tidak boleh mengeluarkan bercak merah sampai sebanyak itu. Semalam yang keluar itu banyak sekali. Dan perutku juga terasa sakit! Aku takut! Padahal, aku tidak makan apapun selain makanan yang diberikan kamu!"


"Tapi aku tidak memasukkan apapun ke dalam makananmu. Kenapa bisa, ya?" ujar Putra.


"Aku juga tidak tahu." jawab Vera, "Semoga saja semuanya baik-baik saja!" titahnya lagi.


'Semuanya tidak akan baik-baik saja, Ver! Aku sudah sediakan tissue untukmu menangis!' batin Putra.


Setelah menunggu hampi satu jam, akhirnya nama Vera di panggil oleh suster.


"Ibu Vera, silahkan masuk!" titah suster membuat Vera beranjak berdiri di ikuti oleh Putra di belakangnya.


"Ver, kamu kuat!" titah putra.


'Kalau Putra ikut masuk, bagaimana caraku membujuk dokter itu?' batin Vera kebingungan. "Kamu mau temani aku masuk ke dalam, Put?" tanya Vera memastikan.


"Iya, aku akan menemanimu." jawab putra.


Vera tersenyum kecut. Dirinya berjalan masuk menuju ruang praktek dokter kandungan.


Sampai di dalam ruang praktek, Vera bertemu dengan dokter cantik yang mempersilahkan Vera juga Putra duduk.


"Ibu Vera," ucap dokter tersebut.


"Iya, saya Vera. Saya mengeluh, dok! Saya sedang hamil, tapi semalam saya mengeluarkan bercak merah dari bagian bawah saya dan saya takut terjadi sesuatu dengan calon anak saya!" ujar Vera menatap sekilas Putra yang sedang menyimaknya.


"Bisa kita periksa. Ibu bisa tidur di bangsal sebelah sana!" titah dokter.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini saja, put! Aku malu, kalau di suruh buka-bukaan ada kamu! Tidak apa-apa, kan?" ucap Vera.


"Tidak apa-apa. Aku tunggu di sini. Sekarang, periksakan kandunganmu dulu!" titah putra


__ADS_2