Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 149


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit. Dave langsung membawa istrinya ke dalam ruang IGD.


"Cepat dok, tangani istriku!" titah Dave panik.


"Bapak tunggu saja. Saya akan berusaha sema--"


"Cepat, dok! Aku tidak butuh kata-kata dokter!" kesal Dave.


"Mas, kamu temani aku!" pekik Vera kesakitan.


"Dok, aku tunggu di luar. Aku tidak berani!" pinta Dave.


"Mas Dave! Cepat!" pekik Vera lagi.


"Excel, kamu ditemani Excel saja, Ver!" teriak Dave mengusap lengannya yang tercakar oleh istrinya.


"Dok, kalau bukan suamiku sendiri, aku tidak mau melahirkan!" ancam Vera membuat Dave menghembuskan napasnya kasar.


"Sebaiknya, Bapak sendiri yang menemani istri Bapak!" titah dokter wanita.


"Hem, terpaksa, dok! Tanganku sudah di cakar habis!" keluh Dave menghampiri istrinya.


"Kamu keterlaluan, Mas! Kamu pikir aku apa, ha! Aku sedang berjuang mengeluarkan anakmu!" pekik Vera kesakitan. "Aw, sakit, Mas! Sakit sekali!" titahnya lagi.


"Kamu jangan marah-marah terus, Ver! Bagaimana anak kita mau keluar kalau kamu marah-marah terus!"


"Mas, kamu sumpahin anak kita susah keluar! Aku tidak percaya denganmu! Kamu jahat!"


"Bukan begitu, Vera sayang!" kesal Dave.


"Kamu panggil aku apa, Mas? Sayang?" tanya Vera tak percaya.


"Hem," jawab Dave. "Dok, bagaimana?" tanya Dave saat melihat dokter wanita yang menangani istrinya menyelesaikan pemeriksaan.


"Sudah pembukaan 5. Kita tunggu sampai pembukaan sepuluh!" jawab dokter tersebut.

__ADS_1


"Apa, dok? Tapi istri saya sudah kesakitan! Dia-- Aw ... iya iya sayang. Jangan cakar dan tarik rambutku! Sakit!" pekik Dave.


"Aku juga sakit, Mas! Aku sudah tidak kuat lagi!"


"Dok, istriku sudah tidak kuat lagi. Kita percepat saja proses persalinannya. Kasihan istriku, dok!" pinta Dave.


"Tidak bisa. Kita tidak bisa mempercepat proses persalinan. Kita tunggu sampai pembukaan sepuluh." jawab dokter yang lagi dan lagi membuat Dave kesal.


"Tidak bisa di percepat, Ver! Kamu sabar ya!" titah Dave mengusap keringat istrinya yang terus mengalir.


"Kamu rasakan saja sendiri, Mas! Jangan bilang aku sabar terus! Aku sakit, Mas!"


"Ya, aku tahu. Tapi aku tidak bisa-- Aw ... iya iya, aku diam Ver! Tapi jangan cakar tanganku!" kesal Dave.


Di satu sisi. Putra tertangkap polisi karena melakukan tindakan penipuan terhadap beberapa wanita.


"Aku tidak bersalah!" ketus putra berusaha memberontak.


"Anda bisa jelaskan di kantor polisi. Sebaiknya anda ikut kami. Karena sudah beberapa wanita yang melapor kasus ini!" jawab Pak polisi.


Setelah menunggu beberapa jam. Akhirnya, kini Vera sudah pembukaan sepuluh dengan Dave yang sudah acak-acakan.


"Kita lakukan persalinan sekarang. Ibu bisa mengejan jika--"


"Cepat, dok! Dokter tidak lihat aku seperti apa, ha! Aku capek!" potong Dave.


"Baik, Pak!" jawab dokter. "Ibu tarik napas ya."


"Huh, Huh, iya, dok! Perutku mulas sekali!"


"Sabar, sebentar lagi akan lahir buah hati ibu!" titah dokter.


Vera berusaha mengikuti semua instruksi dari dokter.


Dave seakan pasrah. Wajahnya, pakaiannya yang sudah sobek pun dia ikhlaskan demi sang istri.

__ADS_1


"Ibu dorong Bu!" titah dokter.


"Huh, huh, Aaaa ..."


"Lagi Bu!"


"Dok, aku capek! Aku mau makan dulu!" titah Vera membuat Dave menggelengkan kepalanya.


"Jangan gila, Ver! Kamu sedang melahirkan, mana mungkin kamu bisa makan!" ujar Dave.


"Bisa, Mas! Aku lapar, tapi perutku sakit! Aaaa ...."


Oek ... Oek ....


"Mas!" panggil Vera saat mendengar suara tangis anaknya, "Itu anakku?" sambungnya lagi.


"Iya, Ver. Dia anak kita!" jawab Dave, "Terimakasih sudah mau melahirkan anak kita. Terimakasih, aku mencintaimu!" ucap Dave lalu mencium kening istrinya.


"Kamu bicara apa, Mas? Kamu cinta aku?"


"Iya, aku cinta kamu!" jawab Dave.


"Selamat, anaknya laki-laki" ujar dokter.


Dave mengambil dan mengadzankan putranya.


Melihat kebahagiaan itu, Vera tersenyum bahagia, dia meneteskan air mata bahagianya.


'Terimakasih Tuhan. Akhirnya cintaku terbalas.' batin Vera.


"Aku beri nama Rafanza. Bagus tidak?" tanya Dave.


"Bagus! Terimakasih, Mas. Namanya sangat bagus." jawab Vera.


"Aku juga terimakasih, Ver. Akhirnya, aku jadi seorang Ayah juga." ucap Dave.

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2