Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 82


__ADS_3

"Sudah pulang? enak jalan-jalannya?" ujar Dave, setelah sampai di hadapan istri dan anak buahnya.


"Em, Mas ... a-aku ... aku sakit, Mas, hiks ... hiks ... kakiku Mas, kakiku! Mas Dave bisa lihat sendiri kakiku, hiks ... hiks ...," ucap Vera memperlihatkan kakinya yang memar.


"Ulah istrimu sendiri. Suruh siapa, dia menabrak meja dihadapannya," ujar Excel yang mendapat anggukan kepala dari Lord.


"Benar, apa yang dikatakan Excel, dia yang membuat masalah," timpal Lord kepada Tuannya.


"Mas Dave, huaa ... Mas mereka jahat. Mereka melihatku terjatuh, tapi dengan teganya ... mereka malam menertawaiku," ucap Vera, merentangkan kedua tangannya.


Dave tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan istrinya yang kekanak-kanakan.


"Kemana saja, hem?" ujar Dave menjatuhkan bokongnya di sofa dekat istrinya.


"Mall," ujar Excel menjatuhkan bokongnya di kursi depan sahabatnya.


"Hah? kenapa Mas Excel bisa tahu?" tanya Vera terkejut, "Mas Dave, Mas aku bisa jelaskan--"

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan. Tadi Nyonya meminta saya untuk menemaninya bermain di mall," ucap Lord.


"Mas, aku bisa jelaskan. Aku tadi--"


"Wah Dave, dia enak-enakan pergi, setelah meninggalkanmu di caffe seorang diri. Keren sekali istrimu," sindir Excel sesekali tertawa mengejek.


"Mana ada Mas, jangan mengarang cerita. Aku tidak enak-enakan," ucap Vera, "Kita hanya--"


"Nyonya, ini bonek yang Nyonya dapat di area bermain," ujar Lord membuat Vera semakin terpojokan.


'Aku tahu, pasti mereka sengaja memojokkan aku di depan Mas Dave, agar aku mendapatkan hukuman atas perbuatanku. Tapi, kalian salah besar. Aku akan menggunakan kakiku yang sakit ini sebagai senjata untuk melindungi diri,' gumam Vera dalam hati.


"Jangan maafkan dia, Dave! Beri dia hukuman, semisal membersihkan seluruh rumah ini dalam waktu satu jam atau membersihkan taman belakang dalam waktu 5 menit, agar dia jera. Dan berpikir, jika ingin melakukan sesuatu yang di luar batas," ujar Excel.


" Mas Excel jangan ikut-ikutan. Mas Dave orangnya baik, gak pendendam seperti Mas Excel!" gerutu Vera, "Jangan dengarkan Mas Excel, ya ... Mas," titah Vera menampilkan senyum manisnya pada suaminya.


"Dave, jangan termakan dengan rayuan mautnya, dia sedang menghindari hukuman darimu!" ucap Excel membuat Vera melototkan matanya, tajam.

__ADS_1


"Aku akan memberikan hukuman untukmu. Benar, apa yang dikatakan Excel. Jika, di diamkan seperti ini. Kamu tidak akan bisa menjadi orang yang dewasa, sikapmu akan kekanak-kanakan terus,"


"Kira-kira, hukuman yang tepat untuk Vera, apa? Kau bisa kasih saran, Lord? Atau aku ambil saran dari Excel?" ucap Dave yang mendapat gelengan dari Vera.


"Jangan Mas, jangan gila! mana bisa, aku membersihkan halaman belakang dalam waktu 5 menit! Mas, aku bukan robot,"


"Em, Tuan ... bagaimana, kalau kita memberikan hukuman yang pertama, maksud saya, hukuman pertama yang diucapkan Excel, membersihkan rumah ini dalam hitungan jam," usul Lord yang ditolak mentah-mentah dari Vera.


"Lord! Kita teman, tega ya! Mas, Mas Dave harusnya Menguhukum Lord juga, ini tidak adil bagiku, mas!" ketus Vera.


"Ets, tunggu Nyonya. Saya hanya menjalankan perintah. Yang membuat kekacauan ini, itu Nyonya, bukan saya!" bela Lord.


"Mas, jangan memberikan hukuman yang berat untukku. Aku khilaf Mas. Mas Dave juga tahu kakiku sedang sakit," ujar Vera.


"Berikan hukuman ringan seperti pemanasan dulu, Dave. Setelah itu, baru beri pelajaran yang sebenarnya," ucap Excel.


"Boleh, itu saran terbaik menurutku," jawab Dave tersenyum manis.

__ADS_1


'Apa ini, pemanasan? Aku tidak mengerti apa arti dari kata-kata mereka. Dan kenapa, firasatku mengatakan jika akan ada bahaya besar yang menimpaku,' gumam Vera dalam hati.


"A-apa maksud Mas Excel dan Mas Dave?" tanya Vera terbata-bata.


__ADS_2