
"Tidak ada Mie instan. Makanlah, makanan yang ada. Jangan banyak protes," titah Dave membuat Vera menghela napasnya.
"Huh, ya sudah Mas, aku akan makan makanan ini demi cacing di perutku yang sudah meminta jatah makanannya." ketus Vera membuka dan menyuapkan nasi serta ayam bakarnya.
Melihat istrinya patuh, Dave menarik kedua sudut bibirnya. Mata dan tangannya kembali menatap dan menari di komputernya.
"Mas Dave!" panggil Vera yang tiba-tiba sudah berada di samping suaminya.
"Aaaaaa ... ayo makan, Mas. Aku suapi, santai saja ... ini sendok bersih kok, aku tidak jadi menggunakan sendok ini," titah Vera saat melihat wajah suaminya yang terlihat lelah.
"Aku tidak lapar, lebih baik ... kamu saja yang makan," ucap Dave menatap sekilas istrinya.
"Ya sudah, aku gak jadi makan Mas! Aku mau pulang aja," seru Vera beranjak dari tempat duduknya.
"Jangan pulang, kalian kan baru sampai. Nikmati waktu kalian di sini dan temani aku," ucap Excel yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruangan Dave.
"Mas Excel?" lirih Vera.
"Mas Dave lagi mogok makan, Mas. Ini ada makanan dari mantan kekasih Mas Dave. Ayo kita makan bersama, aku suapi Mas Excel," titah Vera mengambil makanannya dan berjalan menuju Excel yang tengah duduk di sofa.
Baru beberapa langkah, Dave menarik tangan istrinya dan meminta istrinya untuk kembali duduk di kursi sampingnya.
"Mas, makanannya bisa jatuh, jangan asal-asal tarik tangan orang, dong!" gerutu Vera menjatuhkan bokongnya di kursi semula.
"Suapi aku!" titah Dave lirih membuat Vera dan Excel terkekeh di dalam hati.
"Siap Mas, aku cuci tangan dulu. Tanganku kotor," ucap Vera mendapat gelengan dari Dave.
"Tidak perlu, suapi aku menggunakan tanganmu saja, sama seperti kamu makan."
"Tapi Mas, tanganku kan kotor bekas aku makan dan apa Mas Dave tidak jijik?" tanya Vera sedikit terkejut.
"Sudah cepat, lakukan semua perintah yang aku katakan!"
__ADS_1
"Iya Mas," jawab Vera mulai mengambil sedikit nasi dan ayam bakarnya, "Aaaaa ... Mas," titah Vera, kemudian Dave membuka mulutnya dengan lebar.
"Enak ya Mas, lain kali ... kita harus beli makanan seperti ini. Di mana mantan kekasih Mas, beli?" tanya Vera mengambil nasi dan menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.
"Eh, Ver! maksudku Nyonya, memang siapa mantan kekasih suamimu? setahuku, dia tidak mempunyai mantan di sini?" tanya Excel yang sedari tadi penasaran.
"Itu loh Mas, yang mau jadi istri kedua Mas Dave. Dia kan tadi datang kesini sambil membawa makanan ini, terus mereka bertengkar dan tidak jadi menikah. Iya kan, Mas?" tanya Vera meminta persetujuan dari suaminya.
"Mas, dijawab ucapanku. Kalian tidak jadi menikah kan?" sambung Vera saat tidak mendengar jawaban dari suaminya.
"Maksudmu, El?"
"Dokter genit itu?" tanya Excel membuat Dave menatap tajam sahabatnya.
"Aku rasa iya, Mas. Dia memang genit sih, tapi wajahnya biasa saja, masih cantik aku. Cuma sayangnya, aku belum mapan. Masih berstatus mahasiswa yang mau dikeluarkan dari kampus karena membolos, dan hebatnya yang mengeluarkan itu suamiku sendiri. Hebatkan Mas!" kesal Vera tangannya mengambil nasi dan ayam dalam jumlah banyak kemudian memasukkannya ke dalam mulut Dave.
Uhuk ...
Excel tersedak air liurnya sendiri saat mendengar penuturan dari istri sahabatnya.
"Mas Excel tidak perlu memanggilku Nyonya. Panggil saja Vera, namaku sudah bagus Vera dan aku tidak suka dipanggil Nyonya," ujar Vera lagi.
"Hem ... baiklah. Jadi, kamu dikeluarkan dari kampus karena suamimu itu?" tanya Excel meluruskan kakinya di sofa.
"Bukan dikeluarkan tapi mau dikeluarkan Mas, karena aku ketahuan menjalin hubungan dengan Putra dan membolos di saat jam kuliah, tapi Mas Excel, aku tidak membolos. Hanya saja, aku lupa kalau ada kelas pagi, hehe ...," kekeh Vera.
"Hemph--" Excel menahan tawanya saat mendengar penuturan dari istri sahabatnya, dia melihat reaksi sahabatnya yang datar, hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Lalu suamimu memukul atau meninju kekasih gelapmu?" tanya Excel penasaran.
"Tidak, seperti biasa, Mas Dave seperti patung dan tidak mau berbicara sepatah kata pun. Dan aku tahu, Mas Dave melakukan semua itu karena Mas Dave juga melakukan kesalahan yang sama. Dia tidak berani memarahiku karena dia juga memiliki calon istri." ujar Vera menaik turunkan alisnya saat suaminya menatap dirinya dengan tatapan menusuk.
"Kita pulang. Pekerjaanku sudah selesai!" titah Dave mematikan komputernya.
__ADS_1
"Tapi Mas Dave, makanan kita belum habis. Dan perutku masih lapar," ucap Vera.
"Makanya kalau makan itu diam jangan banyak bicara," jawab Dave setengah emosi.
"Dan kau, Excel. Memangnya pekerjaanmu sudah selesai, hem? kenapa bersantai di sini!"
"Santai Dave. Pekerjaanku sudah selesai, dan semua berkas yang sudah aku kerjakan sudah berada di atas mejamu. Jadi, aku bolehkan bersantai dengan istrimu?" goda excel saat melihat kecemburuan di mata sahabatnya.
"Iya Mas, kasihan Mas Excel, dia bukan robot yang harus bekerja 24 jam. Dia juga membutuhkan waktu untuk istirahat," timpal Vera membuat Excel tersenyum bahagia.
"Kenapa kalian menjadi kompak seperti ini hah!" seru Dave memakai jas kerjanya.
"Karena Mas Dave mengenalkan aku kepada semua orang dengan status kekasih Mas Excel. Jadi, aku harus mempunyai chemistry dengan Mas Excel, agar akting yang kita buat sempurna," ucap Vera santai.
'Senjata makan Tuan kan, sekarang! Rasain Dave, sudah aku peringatkan berulang kali tapi tetap saja melawan,' batin Excel menggelengkan kepalanya.
'Siaalan, kenapa jadi seperti ini. Dan sejak kapan, dia menjadi berani melawanku. Apa karena dia sedang membalas perbuatanku yang --'
"Mas Dave, jangan melamun. Aku lanjutkan makan dulu, biar Mas Dave dan Mas Excel berbincang sampai aku selesai makan," titah Vera.
"Excel, masuk ruanganmu dan bersantailah di ruanganmu, jangan mengganggu ketenanganku di sini!" titah Dave.
"Katanya kita mau pulang Mas, tapi kenapa ... sekarang Mas Dave bilang jangan mengganggu ketenanganku? Apa pekerjaan Mas Dave belum selesai dan mulutku sangat berisik, jadi Mas Dave secara tidak langsung sedang menyindirku?" ucap Vera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan membuang bungkus makanannya.
'Mulai kembali ke sikap dan sifat yang semula. Lebih baik, aku sudahi drama ini,' gumam Dave dalam hati.
"Bersihkan tanganmu, lalu kita pulang. Dan Excel juga akan ikut pulang dengan kita!" titah Dave membuat Excel menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau, aku mau pulang sendiri. Ada beberapa berkas yang lupa aku kerjakan. Lebih baik, aku kerjakan dulu. Bye ... bye ...." ujar Excel berjalan keluar ruangan sahabatnya.
"Mas, kenapa Mas Excel jadi berubah? apa dia takut denganmu? memangnya, apa yang ditakuti dalam diri Mas Dave, eh maksudnya Mas Dave kan baik, kenapa Mas Excel bisa lari seperti tadi?"
Bersambung 🥰😘
__ADS_1