Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 76


__ADS_3

"Sekarang, kita bersiap-siap untuk pulang. Dan mulai besok, aku akan benar-benar mengurungmu di rumah. Lord sudah menghubungi beberapa dosen, jadi kau tidak ada alasan untuk bolos, mabuk, berkencan dan lain-lainnya." ucap Dave kemudia berjalan menuju pintu kamarnya.


'Berarti, semuanya benar-benar pupus. Aku benar-benar dikurung dalam sangkar emas. Kenapa semuanya jadi seperti ini, dan kenapa aku bisa mabuk di saat ada suamiku. Aduh, aduh. Bisa-bisa, aku tidak diberi kebebasan di dalam rumah,' gumam Vera dalam hati.


"Mas, Mas Dave jangan seperti ini, Mas. Bagaimana aku bisa mempunyai teman yang banyak, jika pekerjaanku hanya di dalam rumah. Aku juga tidak mau bertatapan dengan dosen. Dosen itu galak Mas, kalau di kelas aja ... aku suka duduk di ujung untuk menghindar dari dosen, masa iya sekarang, aku harus bertatapan langsung empat mata dengan dosen yang killer Mas, aku tidak mau. Mas maafkan aku, aku janji ... aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku berjanji, aku akan berhenti mabuk, dan aku akan--"


"Jangan kebanyakan janji, kalau tidak bisa ditepati. Lebih baik, ikuti aturanku saja dulu. Kalau kau bisa melewatinya tanpa membantah sedikitpun, maka aku akan mempertimbangkan mu masuk ke dalam kampus itu lagi," potong Dave sambil tersenyum manis.


"Mas jangan senyum. Aku takut senyummu Mas, senyummu mengandung arti mengerikan dalam kamus kehidupanku," ucap Vera keceplosan, "Eh, maksudku bukan begitu Mas. Jangan salah paham dulu, jangan marah," sambung Vera kemudian menampar bibirnya yang ember.


"Bicara apa tadi? coba ulang sekali lagi. Aku tidak mendengarnya?" ujar Dave berjalan kembali ke arah istrinya.


Vera tersenyum manis, dia memundurkan langkahnya dengan tangan mengatup di depan dada.


"Please! jangan seperti ini, okeh. Kita bicarakan ini baik- baik Mas. Mas Dave kan orang baik, orang yang paling sempurna," rayu Vera.


"Baik? aku tidak baik. Aku ingin--"


"Hust, Mas Dave katanya mau pulang. Aku akan bersiap-siap untuk pulang. Aku sayang Mas Dave," ujar Vera memundurkan langkahnya sampai membentur tembok.


"Kita tunda kepulangan kita, aku melupakan sesuatu," ucap Dave menampilkan senyum manisnya kembali.


'Aduh, sudah aku bilang, jangan menampilkan senyum manismu seperti itu. Di mata orang lain, mungkin mereka akan terpeson, tapi di mataku ... senyummu membuat bulu kuduk ku berdiri, aku benci senyummu yang seperti ini Mas,' gum Vera dalam hati.

__ADS_1


"Mas, kita pulang lalu makan. A-aku lapar Mas, memangnya Mas Dave tidak kasihan melihatku kelaparan?" ucap Vera memelas.


"Untuk apa? Bukankah, perutmu sudah di isi oleh minuman itu. Seharusnya, sekarang--"


"Eh tunggu dulu Mas, tiba-tiba perutku mules. Aduh sakit Mas, aku bolehkan ke kamar mandi. Sudah tidak tahan Mas, sumpah, sungguh, suer deh!" ujar Vera memegang perutnya, "Marahnya, nanti lagi Mas. Tunggu perutku membaik, okeh?"


Dave tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya di rentangkan ke samping kanan kiri.


"Aku tidak mengizinkan mu," ucap Dave membuat Vera membulatkan matanya.


"Tap-tapi Mas, perutku. Apa Mas mau, kalau aku buang air besar di sini?" ujar Vera, 'Aku harus pergi. Kupingku panas mendengar ocehan Mas Dave. Aku khilaf, seharusnya Mas Dave memaafkanku, bukan memberikan hukuman bertubi-tubi,' geram Vera dalam hati.


"Aku izinkan kamu buang air besar di sini."


"Mas Dave menyebalkan. Aku benar-benar heran, kenapa suamiku semakin hari semakin gila!" sambungnya lagi.


"Udah selesai berbohongnya?" tanya Dave saat melihat istrinya yang merajuk.


"Siapa yang berbohong Mas, aku benar-benar mules!" ujar Vera, semenit kemudian menutup mulutnya, 'Kenapa, kenapa aku ada di sini! seharusnya aku sedang berakting sakit perut bukan malah duduk di ranjang sambil meluruskan kakiku! ah dasar bodoh, ketahuan juga aku berbohong!' gumam Vera dalam hati.


"Hukumanmu akan aku tambah. Kali ini, aku akan menghajarmu habis di atas ranjang," ujar Dave menjatuhkan bokongnya di samping istrinya.


"A-aku tidak mau Mas, kata Mas ... aku bau alkohol. Sebaiknya, kita pulang Mas. Aku mau mandi, aku gerah. Aku benar-benar gerah Mas. Ayo pulang," rengek Vera menggoyangkan tubuh suaminya agar berhenti mengikis jarak diantaranya.

__ADS_1


"Dosa menolak kemauan sumai," jawab Dave ketus.


"Siapa yang menolak. Aku bilang, aku cape. Aku gerah, aku mau mandi. Aku tidak mengatakan kalau aku menolak Mas, aku belum dosa. Mas Dave jangan asal bicara. Ya sudah, aku mau pulang sendiri," ujar Vera merangkak meraih tasnya yang berada di atas meja.


"Ets, mau kemana? Siapa yang menyuruhmu pergi. Suamimu ini tidak membutuhkan penolakan!" ucap Dave.


"Tapi Mas--"


'Aduh, ini tidak adil. Aku malas bermain dengan Mas Dave, aku kan sedang patah hati karena putra,' gumam Vera mendorong tubuh suaminya.


"Mas, aku sedang patah hati. Aku baru saja dikhianati oleh putra, dan kini Mas Dave malah membuatku teraniaya," gumam Vera masih bisa di dengar oleh Dave.


"Teraniaya? dikhianati? otakmu benar-benar geser. Apa hubungannya denganku? Aku hanya ingin menyalurkan hasraaatku yang tertunda saja,?


" Apa maksud Mas Dave, hasraaat tertunda? Memangnya,--ah, otakku benar-benar geser, Mas. Bawa aku pulang dan aku akan tenangkan otakku ini, Mas,"


"Aku akan membawamu pulang, setelah melakukan aktivas ini," ujar Dave kemudian tangannya sudah menurunkan resleting gaun Vera.


Glek ....


"Mas, baiklah, aku kalah!" gumam Vera menghembuskan napasnya kasar.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2