
"Em ... bagaimana, ya?" ucap Excel membuat Vera semakin penasaran.
"Cepat katakan, Mas! Jangan membuatku penasaran, "Apa jangan-jangan mereka memang mempunyai hubungan. Dan Mas Dave sudah mengancammu agar tidak membocorkan rahasia ini. Iya?" tebak Vera yang mendapat gelengan dari Dave.
"Jaga bicaramu. Cepat masuk ke kamar! Hitungan ke tiga tidak masuk. Maka, aku akan mengurungmu seminggu di kamar tanpa keluar sedikit pun!" ancam Dave membuat Vera membulatkan matanya.
"Mas, kamu ini. Jangan su--"
"Satu!" hitungan pertama sudah di mulai.
Vera yang mendengar hitungan itu pun berdecak sebal. Dia berdiri dari tempat duduknya dan menatap Excel yang terdiam, "Urusan kita belum selesai, Mas. Sebelum, kamu jawab dengan jujur. Maka, aku akan terus bertanya." ucap Vera berjalan masuk ke dalam rumah.
Melihat istrinya masuk, Dave menghembuskan napasnya lega. "Aku tidak mau ada drama lagi, jadi jangan membuatku bertengkar dengannya." ucap Dave pada Excel.
Excel mengedikkan bahunya. Dia berjalan masuk menuju kamarnya dan meninggalkan Dave di teras sendiri.
Dave menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara kasar, dia berjalan masuk menuju kamarnya.
__ADS_1
"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan pria lain terma Excel!" ketus Dave setelah masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa, Mas? Aku berteman baik. Aku--" ucapan Vera terhenti saat merasa kepalanya terasa pusing dan perutnya terasa mual. Dia langsung berlari menuju kamar mandi membuat Dave menautkan ke dua alisnya bingung.
"Hei, aku sedang bicara. Dengarkan ucapanku!" kesal Dave.
Hoek ...
Hoek ....
"Ver, kamu kenapa?" tanya Dave saat melihat istrinya muntah. Segera dia memijat tengkuk belakang sang istri, "Kamu sakit, Hem?" sambungnya lagi.
"Kapan kamu terakhir datang bulan?" tanya Dave.
"Apaan sih, kamu, Mas! Kamu mengira, kalau aku hamil? Aku tidak mungkin hamil. Jangan aneh!" kesal Vera, kemudi berpikir sejenak. 'Oh iya, aku kan bulan kemarin belum datang bulan, tapi aku tidak mungkin hamil. Aku sudah meminum pil KB secara teratur! Mungkin, aku hanya kecapean karena berdebat dengan Mas Dave. Jangan berpikir negatif, kamu tidak mungkin hamil, Vera!' batin Vera.
"Istirahatlah. Aku akan menghubungi dokter untuk--"
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku hanya masuk angin biasa. Sudahlah, kamu jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Aku tidak hamil!" potong Vera berjalan keluar kamar mandi.
'Tidak hamil? Ciri-cirimu saja sudah seperti wanita hamil. Untung aku berhasil menukar pil itu dengan obat penyubur kandungan.' batin Dave tersenyum manis, lalu menyusul istrinya.
"Aku akan tetap memanggilkan dokter untukmu!" titah Dave diabaikan Vera.
Merasa di abaikan, Dave menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang, "Jangan egois. Jika kamu benar hamil, bukankah itu bagus, ini kesempatan untukmu menjadi ibu?"
"Tapi, aku tidak mungkin hamil, Mas. Aku selalu rutin meminum pil KB!" ketus Vera keceplosan, seketika langsung menutup mulutnya.
"Apa? Pil KB?" pekik Dave berpura-pura emosi, 'Ngaku juga!' batin Dave.
"Mas, dengarkan penjelasanku dulu. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku memang meminum pil KB, tapi demi--"
"Demi apa? Demi putra? Pria yang telah menghancurkanmu! Seharusnya, kau berpikir! Aku sudah mau memungutmu dan menjadikanmu istri. Jadi, apa susahnya aku minta kamu hamil anakku."
"Maaf, Mas. Aku belum siap hamil!" ucap Vera lirih.
__ADS_1
"Aku tidak butuh kata-kata itu!" ketus Dave