
"Saya serius Nyonya, Tuan Dave sangat memperhatikan Nyonya, maka dari itu ... jangan pernah membuat orang seperti Tuan Dave marah atau kecewa, karena akan terlihat begitu menakutkan!" titah Lord membuat bulu kuduk Vera merinding.
"Kau tidak perlu menakutiku, Lord. Setiap hari saja, tubuhku sudah merinding jika berhadapan dengan Mas Dave," jawab Vera kesal.
Setelah berjalan cukup lama. Akhirnya, Vera dan Lord sampai di depan kelas Vera, "Ingat! Jangan membuat keributan saat aku sedang belajar," ancam Vera sebelum benar-benar masuk ke kelasnya.
"Baik Vera ...," jawab Lord.
Setelah mendapatkan jawaban yang memuaskan dari anak buah suaminya, Vera mulai melangkahkan kakinya dan berjalan menuju tempat duduknya di dekat Vin.
"Bell, di mana Vin? Apa dia tidak masuk kampus?" tanya Vera yang tak melihat batang hidung teman prianya.
Bella memicingkan matanya, dia menatap Vera dari atas kepala sampai ujung kaki.
"Untuk apa ... bertanya tentang Vin?" tanya Bella tak suka, "Vin sedang keluar, sebentar lagi ... dia akan kembali," sambungnya lagi.
"Oh, ya sudah. Terimakasih," jawab Vera tersenyum kecut.
Dan benar saja apa yang dikatakan Bella, di saat mata kuliah akan di mulai, tiba-tiba Vin datang dengan membawa beberapa kantong plastik ke arah Vera.
"Hai, Ver ...," sapa Vin.
"Dari mana saja, Vin?" tanya Vera menatap pakaian berantakan temannya, "Kau tidak apa-apa, kan?" tanyanya lagi.
"Hehehe ... aku tidak apa-apa, aku hanya mencari mu. Di jam sebelumnya, kau tidak ada. Jadi, aku memutuskan untuk mencari mu di sekitar kampus. Setelah itu, aku membelikan makanan ini, siapa tahu ... perut mu lapar?" ujar Vin membuka kantong plastik tapi di cegah oleh Vera.
"Terimakasih Vin, tapi dosen sudah masuk. Lebih baik, simpan makananmu," jawab Vera.
Akhirnya setelah 2 jam berada di dalam kejenuhan karena mendengarkan semua ucapan dosen. Akhirnya jam kuliah pun telah usai.
"Aku tinggal dulu, Vin ...," ujar Vera mengambil satu burger yang diberikan oleh teman prianya.
"Tunggu! Aku akan antar kamu pulang. Sekarang, aku tidak butuh penolakan," titah Vin.
"Eh tidak usah, Vin. Lagi pula ... aku tidak akan pulang, aku akan ke suatu tempat. Maafkan aku, Vin ...."
"Biar aku antar. Please! Aku antar, ya?"
"Di depan kelas, sudah ada teman yang sedang menungguku, aku tidak bisa. Lain kali saja, aku diantar olehmu," ujar Vera mengambil tas nya dan pergi.
"Vera! Biar aku antar!" titah Vin menyusul Vera yang sudah meninggalkannya.
'Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, aku membutuhkan uang yang banyak,' batin Vin.
__ADS_1
'Aduh, aku harus menolak dengan cara apa?' batin Vera melangkah menghampiri Lord.
"Nyonya, Nyonya kenapa?" tanya Lord lirih.
Mendengar ucapan dari Lord, Vera melototkan matanya. Dia memberi kode melalui kedipan mata untuk anak buah suaminya.
"Apa maksud nyo--"
"Sekali lagi, ucap Nyonya ... aku patahkan lehermu!" ancam Vera membungkam mulut Lord dengan kedua tangannya, "Vin mengikutiku, bagaimana?" sambungnya lagi.
"Vin?" ulang Lord membuat Vera menganggukkan kepalanya.
"Lebih baik, kita pergi dari sini!" titah Vera berlari dan meninggalkan Lord yang masih bingung.
Setelah istri Tuan nya berlari, tiba-tiba dari dalam ruangan terdengar suara pria yang tengah memanggil nama Nyonya mudanya, seketika Lord menghadang pria tersebut.
"Vera!" pekik Vin.
"Di mana dia? Kenapa cepat sekali hilangnya?" gumam Vin saat melihat sekitar depan ruangan, "Hei, lihat Vera?" tanya Vin pada Lord yang tengah berdiri di depan ruangan.
"Untuk apa mencarinya?"
'Oh iya, aku lupa. Dia bukannya bodyguard Vera?' batin Vin menatap tajam pria dewasa di hadapannya.
"Em ... ada sesuatu yang harus aku sampaikan, bisa antarkan aku pada Vera?" pintanya memohon.
Mendengar semua ucapan Lord, tangan Vin mengepal erat, amarahnya tiba-tiba muncul.
'Apa dia tidak tahu, jika aku adik dari Kak El, dokter pribadi dari Kak Dave!' batin Vin.
"Lihat saja nanti, akan ku adukan semuanya pada Kak El!" ketus Vin lirih.
Di dalam perjalanan menuju kantor suaminya, tak henti-hentinya Vera tersenyum membuat Lord yang sedang menyetir menjadi heran dan bertanya-tanya sendiri.
"Nyonya, ada apa?" tanya Lord memecahkan keheningan yang sempat menyelimuti keduanya.
"Em ... tidak ada apa-apa, Lord. Oh iya, kamu tidak memberitahukan Mas Dave, jika aku sudah pulang kan?" tanya Vera menatap sekilas pria yang sedang menyetir mobilnya.
"Tidak Nyonya, sesuai perintah Nyonya. Memang, ada apa?" tanya Lord.
"Em ... boleh kita berhenti di dekat sana, Lord? Aku mau membelikan Mas Dave kue, dia suka kue kan? Atau sebutkan makanan kesukaan Mas Dave?"
"Tuan menyukai apa saja yang diberikan Nyonya," jawab Lord.
__ADS_1
"Sungguh? tapi, aku belum pernah memberikan apapun pada Mas Dave. Jangan terlalu percaya diri, atau ... kau ingin membuatku terbang karena pujian mu, itu?" ucap Vera terkekeh.
'Akhirnya mereka bisa akur juga,' batin Lord bahagia.
"Yakin, Nyonya tidak pernah memberikan apapun pada Tuan?" goda Lord sambil menunjukkan senyumannya.
"Tidak pernah. Sudah-sudah, aku tidak mau membahas tentangnya lagi. Berhenti di sana, Lord!"
"Baik Nyonya ...," jawab Lord.
Akhirnya mobil yang ditumpangi Vera terparkir dengan mulus di depan toko kue yang cukup besar.
"Tunggu sini, biasanya Mas Dave suka kue apa? Maksudku rasa coklat, brownies atau ... apa?" tanya Vera sebelum membuka pintu mobilnya.
"Semua makanan yang diberikan Nyonya, Tuan akan memakannya," jawab Lord.
"Sungguh? Jika aku memberikan makanan basi, apa Tuan mu akan memakannya? Lebih baik, sudahi gombalanmu itu!" ketus Vera, tangannya menengadah ke arah Lord.
"Ada apa Nyonya? tangan anda sakit?"
"Jangan berpura-pura, aku membutuhkan uang untuk membeli kue!"
"Cepat berikan beberapa lembar uang untukku!" titah Vera.
"Baik Nyonya," jawab Lord mengeluarkan beberapa lembar dollar kemudian diberikan pada istri Tuan nya.
"Terimakasih,"
"Lain kali, aku akan menyuruh Mas Dave menitipkan uang lebih banyak untukku, dan aku akan membagikannya kepadamu," ucap Vera keluar dari mobil dan berjalan memasuki toko kue tersebut.
Setelah memilih beberapa kue, akhirnya Vera membeli satu kue Black Forest kesukaannya dan rainbow cake untuk suaminya.
Setelah membayarnya di kasir, Vera langsung keluar dan masuk ke dalam mobilnya.
"Cepat Lord, aku membeli dua kue, untuk kita makan bersama," titah Vera mengangkat satu kantong plastik berukuran besar ke udara.
"Siap Nyonya, sekarang Nyonya banyak berubah. Pasti Tuan senang," ucap Lord membuat Vera mengerutkan keningnya.
"Berubah? Memangnya, dulu ... aku seperti apa?" tanya Vera.
"Tidak Nyonya, Nyonya orang yang baik, hanya saja sedikit--"
"Sedikit apa, Lord?"
__ADS_1
"Sedikit menyebalkan, maafkan saya Nyonya," ucap Lord saat melihat ekspresi wajah Vera yang berubah.
Bersambungš