
Ke esokkan harinya, Vera terbangun lebih dulu. Dia melihat tangan suaminya yang memeluk tubuhnya. Segera, Vera menepis tangan suaminya dengan kasar, "Kamu melanggar batas, Mas. Dan di mana guling pembatasnya? Kenapa tidak ada!" ucap Vera merubah posisi tidurnya menjadi duduk.
Dave yang berada di alam mimpi pun terkejut saat tangannya di lempar kasar, dia mengucek kelopak matanya, "Hei, apa yang kau lakukan! Apa kau tidak lihat, suamimu ini sedang tidur, Hem!" ketus Dave yang ikut merubah posisi tidurnya menjadi duduk.
"Di mana pembatasnya? Di mana guling itu, Mas. Kamu sudah melanggar, dan kamu harus mendapat hukuman dariku. Memangnya, kamu saja yang bisa memberiku hukuman, tidak, Mas! Sekarang, aku akan memberikan hukuman padamu!" ketus Vera, membuat Dave mengusap rambutnya berulang kali dengan kasar.
"Kau, kau berani menghukumku dan kau berani membentakku seperti tadi. Memangnya, siapa kau!"
"Aku istrimu, Mas. Dan sudah sepantasnya, kamu mendapat hukuman dariku, karena kesalahanmu!"
"Aku salah apalagi, Ver. Kamu jelas-jelas lihat mataku yang baru saja terbuka. Aku baru bangun tidur, dan ini ... kamu marah-marah tidak jelas. Memangnya, semalam tidak cukup untukmu marah-marah. Aku saja yang mendengarnya capek!" kesal Dave.
"Apa Mas? Kamu capek! Ya sudah, aku pergi saja! Kamu bilang, kamu capek mendengar ocehanku, kan? Lebih baik, aku pergi. Aku kembali ke--" ucapan Vera terhenti saat perutnya terasa mual. Kakinya turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi, membuat Dave yang melihatnya langsung menyusul istrinya. Dia memijat tengkuk leher Vera perlahan.
"Hoek!"
__ADS_1
"Hoek!"
"Aku tidak suka seperti ini, Mas. Tolong sembuhkan aku, Mas. Aku tidak mau seperti ini terus. Perutku terasa mual. Aku-- hiks ... hiks ... aku tersiksa, Mas!" ucap Vera di selingi isak tangisnya.
"Kita bersiap-siap, kita cek kondisimu ke rumah sakit. Kamu mandi dan--"
"Aku tidak mau ke rumah sakit, Mas. Aku tidak suka baunya. Bau obat-obatan yang menyengat, membuat perutku mual!"
"Tapi, Ver. Bagaimana, kita tahu kondisimu. Atau begini saja, aku panggilkan El untuk memeriksamu. Kamu istirahat di kamar, okeh!" tawar Dave yang mendapat pukulan maut dari istrinya.
"Kamu mau curi-curi kesempatan apa, Mas! Mentang-mentang aku sedang sakit, dan kamu mau membawa wanita itu ke rumah. Keterlaluan sekali, kamu!" kesal Vera.
"Siapa yang keterlaluan. Dia seorang dokter yang--"
"Stop! Mau dokter atau bukan, aku tidak mau. Lebih baik, aku pergi ke rumah sakit, dari pada di periksa oleh selingkuhanmu."
__ADS_1
"Aku tidak pernah berselingkuh!" kesal Dave membela dirinya sendiri.
"Kamu selingkuh, Mas. Jangan mengelak!" ketus Vera.
"Aku tidak selingkuhan. Bukankah yang selingkuh itu kamu?" sindir Dave.
"Aku jujur aku selingkuh. Kejujuran lebih di hargai dari pada--"
"Sudahlah. Kenapa kita harus bertengkar masalah sepele seperti ini, sih! Seharusnya, kita pikirkan kondisimu. Cepat mandi dan kita ke rumah sakit! Aku tidak ingin di bantah!" tegas Dave.
"Aku tidak mau!" ketus Vera membasuh mulutnya dengan air yang mengalir dari wastafel.
"Baiklah. Jika kamu menolak, dengan terpaksa, aku sendiri yang akan memandikanmu. Mau, aku mandikan, Hem!" ucap Dave dengan senyuman misteriusnya.
"Apaan sih kamu! Aku lagi sakit, dan kamu malah menggodaku! Jangan harap, aku mau mandi denganmu. Sekarang, aku ngantuk, aku mau tidur!" ucap Vera berjalan keluar kamar mandi.
__ADS_1