Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 133


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam kamar dan pintu kamar terkunci rapat. Vera mulai menyambar handuk lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Memanjakan tubuhnya dengan cairan sabun beraroma vanilla mampu merilekskan sekujur tubuh wanita yang bernama Vera.


"Huh! tubuhku terasa rileks saat mencium bau vanilla ini." gumam Vera sambil memejamkan mata.


Putra menajamkan pendengarannya saat di depan pintu kamar Vera, "Apa Vera sudah tidur? Atau, dia sedang mandi?" gumam putra lirih.


Sedangkan di satu sisi. Setelah sampai di kediaman rumah yang selama ini dia kosongkan. Dave berjalan masuk ke dalam rumah mewahnya di ikuti oleh Excel di belakangnya.


"Dave ini rumahmu?" tanya Excel memandang setiap sudut rumah Dave yang penuh debu. "Kau yakin, kita akan tinggal di sini? Semua berdebu, Dave! Aku tidak mau tidur dengan debu! Apa tidak ada asisten rumah tangga yang bisa membersihkan rumah ini?" tanyanya lagi.


"Aku sudah pecat asisten rumah tanggaku yang dulu. Dan aku mau, kamu yang membersihkan setiap sudut ruangan rumahku" jawab Dave berjalan dan membersihkan sofa dengan tangannya, 'Sangat berdebu!' batin Dave.


"Hachim!" ujar Excel sambil menutupi wajahnya, "Kau gila, Dave! Aku ada di belakangmu! Kenapa kamu buang semua debu itu ke belakang! Bisa-bisa aku bersin-bersin terus!" kesal Excel.


Dave menoleh lalu tersenyum sesaat, "Aku pikir, kau sedang di dapur membuatkanku makanan!" sindir Dave menjatuhkan pantatnya di sofa yang baru saja dia bersihkan.


"Cuci piring, lalu bawa ke sini! Aku mau makan makanan yang kamu beli! Tiba-tiba perutku terasa lapar!" titah Dave menyenderkan tubuhnya di punggung kursi.


"Tidak mau! Itu makananku, bukan makananmu!" ketus Excel.


"Kau ini! Aku tanya sekali lagi, kau pakai uang siapa untuk membeli semua makanan ini!" tanya Dave yang lagi dan lagi membuat Excel mendengus kesal.


"Aku bakal ganti! Tapi jangan makan makananku!" ketus Excel mengeluarkan uang dollar.


"Aku tidak butuh uangmu! Sekarang, kita makan lalu setelah itu, kita langsung ke rumah Zena." titah Dave.


"Kenapa, kamu tidak menghubungi Zena dulu, Dave? Jika benar, Vera ada di rumah Zena, baru kita ke rumahnya!" saran Excel.


"Aku ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak butuh jawaban dari orang lain melalui telfon atau lainnya. Sekarang, kamu cuci piring yang ada di dapur! Setelah itu, bawakan piring itu kemari! Aku lapar, sedari pagi, aku hanya makan manisan saja!"


"Siapa bilang, di pesawat! Kau juga makan nasi! Tapi, berhubung aku malas berdebat denganmu, aku akan patuh dan menerima semua perintah darimu! Sekarang, tunjukkan dapurnya padaku!" titah Excel.


Dave menunjuk lurus ke depan, "Dapurnya lurus lalu belok kanan! Di sana ada dapur! Tapi hati-hati, mungkin perabot di dapur sudah ada beberapa yang rusak karena tidak terpakai!" jawab Dave.

__ADS_1


'Asalkan tidak ada hantu saja, aku bisa tenang. Tapi, apa rumah sebesar ini akan terbebas dari hantu? Sudah beberapa bulan, Dave meninggalkan rumah ini. Aduh, jangan sampai rumah ini banyak hantunya.' batin Excel merasakan bulu kuduknya merinding.


"Kenapa diam saja? Aku bilang lurus dan belok kanan, Excel! Apa telingamu tidak mendengar ucapanku?" ujar Dave membuat Excel tersadar dari lamunannya.


"Em, aku boleh tanya, Dave? Memangnya, kamu tidak takut, kalau kita berdua tinggal di rumah sebesar ini? Apalagi rumah ini sudah kosong dari beberapa bulan yang lalu! Aku saja yang melihatnya sedikit--"


"Kau takut? Kau takut ada hantu di rumah ini? Jangan gila, Excel! Di rumah ini tidak ada hantu!" ketus Dave. "Hantu saja takut padamu," sambungnya lagi.


"Dave, aku sedang bicara serius! Apa kau tidak takut? Rumah ini cukup luas dan mewah loh! Ada tingkatnya juga!"


"Aku tidak takut dengan hantu! Kalau pun ada hantu di rumah ini, pasti hantu itu yang sudah menjaga rumahku selama aku tidak ada di sini. Aku akan berterimakasih pada hantu itu!"


"Kau ini selalu menyebalkan!" ketus Excel melanjutkan langkahnya berjalan menuju dapur.


Setelah sampai di dapur, Excel menatap sekilas sudut dapur. Banyak sarang laba-laba dan hewan lainnya. "Ini benar-benar mengerikan!" gumam Excel mencari piring lalu mencucinya.


Sedangkan di satu sisi. Setelah merendam tubuhnya di dalam bathup, Vera beranjak dan menyambar handuk miliknya.


Dia berjalan keluar kamar mandi dan langkahnya terhenti saat menyadari bahwa dirinya belum memiliki pakaian ganti.


"Aduh, aku lupa, kalau aku belum beli pakaian ganti untuk sehari-hari. Bagaimana, ini?" gumam Vera sambil berjalan mondar-mandir. "Aku tidak mungkin keluar dan mencari Putra untuk menanyakan pakaian ganti ku. Bisa-bisa, Putra khilaf dan gelap mata. Aku tidak mau semua itu terjadi, tapi bagaimana ini? Aku tidak mungkin tidur menggunakan handuk yang melilit di tubuhku. Aku takut, handuk ini lepas!" lirihnya lagi.


Belum sempat Vera membuka pintu kamar, tiba-tiba dia mendengar suara ketukan dari luar kamar.


Tok ...


Tok ....


"Ver!" panggil Putra.


"Aduh, putra! Untuk apa dia mencariku? Apa jangan-jangan Putra-- Oh tidak tidak! Aku tidak boleh keluar kamar seperti ini!"


Tok ...


Tok ....

__ADS_1


"Ver! Bangun Ver!" panggil Putra lagi.


"Iy-iya! Ada apa, Put!" teriak Vera dari dalam kamar.


"Buka pintunya, aku mau memberikan sesuatu untukmu!" jawab Putra.


"Apa! Aku tidak bisa buka pintu sekarang! Katakan saja, kamu mau beri aku apa?" tanya Vera.


"Pasti kamu sudah selesai mandi? Atau kamu baru bangun tidur?" tanya Putra.


"A-aku--"


"Jangan takut! Aku mau kasih kamu pakaian ganti!" potong Putra.


"Kamu serius, put? Kamu mau kasih aku pakaian ganti?" tanya Vera tak percaya, dia berjalan mencari kain panjang untuk menutupi tubuhnya yang tidak tertutup sempurna dengan handuk.


"Cepat buka, Ver!" titah putra.


"Tunggu sebentar! Aku mau cari kain!" teriak Vera.


"Kain untuk apa? Aku hanya ingin memberimu pakaian ganti! Udah itu aja! Sekarang, kamu keluar, aku janji ... aku tidak akan aneh-aneh!" ucap putra meyakinkan Vera.


"Kamu janji, Put? Kamu tidak akan berbuat aneh-aneh padaku?"


"Aku janji, sayang!" jawab Putra.


Vera menghembuskan napasnya kasar, dia berjalan dan membuka pintu kamarnya.


Krek!


Vera menyembulkan sedikit kepalanya saat pintu terbuka.


"Mana?" tanya Vera dengan salah satu tangannya di ulurkan keluar kamar, "Cepat!" sambungnya lagi.


Putra tersenyum, "Buka yang lebar, dong!" titah Putra yang mendapat gelengan kecil dari Vera.

__ADS_1


"Cepat, put! Aku sudah kedinginan! Kamu tahu, aku baru selesai mandi!" ketus Vera.


"Buka dulu, baru aku kasih!" titah putra.


__ADS_2