
Dan akhirnya terjadilah sesuatu yang seharusnya tak terjadi di sore hari.
"Mas sudah, aku capek. Aku mau tidur!" ketus Vera menarik selimutnya sampai atas leher.
"Hem ..."
"Mas! Pergi!" jangan dekat-dekat denganku, aku gak mau terjadi sesuatu yang buat tubuhku lemas! pergi, pergi! aku mau tidur," titah Vera mendorong tubuh suaminya yang sedang tertidur.
'Huh! baiklah, aku yang pergi. Lebih baik aku turun dan makan. Perutku lapar, seharian belum makan,' gumam Vera, perlahan dia menurunkan kakinya ke lantai.
'Jangan sampai Mas Dave mengetahuiku pergi. Biar tahu rasa, setelah bangun nanti. Aku tidak ada di sampingnya. Rasakan pembalasanku, ini akibatnya kalau aku dipaksa, sudah aku bilang ... aku tidak mau, tetep dipaksa, pake alasan dosa lagi. Aku tahu, dosa. Tapi, aku benar-benar gak mood. Rasakan pembalasanku ini, Mas hahaha ...,' gumam Vera, kemudian berjalan ke kamar mandi. Langkahnya yang mengendap-endap membuat Dave tidak terasa dengan kepergian istrinya.
Setelah memakai pakaian yang sempat bertebaran di lantai. Vera langsung berjalan keluar, sebelum benar-benar keluar, dia memastikan suaminya sekali lagi yang sedang tertidur pulas.
"Aman, akhirnya aku aman. Aku akan turun dan memesan makanan untuk perutku yang lapar ini,"
"Sabar ya, perut. Sebentar lagi, kita akan makan sepuasnya. Kita akan merayakan kesedihanku, karena mulai besok ... aku tidak di izinkan keluar dari sangkar emas," gumam Vera berjalan meraih gagang pintu dengan pelan.
__ADS_1
Setelah pintu terbuka, Vera keluar dan menuruni anak tangga dengan kedua sudut bibir tertarik ke atas.
"Akhirnya, aku lepas juga dari Mas Dave. Aku heran deh, sama Mas Dave, bukankah dia mau menikah dengan wanita lain? tapi kenapa semakin menempel saja denganku. Seharusnya, mereka melakukan fitting gaun pengantin atau mempersiapkan dekor, gedung, bukan mengawasiku setiap saat. Iya, aku tahu, aku tidak merestui pernikahan mereka, tapi Mas Dave tetep pada pendiriannya, dia tetap akan menikahi wanita itu," gerutu Vera.
Setelah sampai di lantai dasar, Vera mengucek matanya berulang kali, "Kenapa sepi sekali? dimana mereka?" tanya Vera mencari keberadaan karyawan suaminya dan para pembeli di Caffe.
"Alexa? Alexa? dimana kamu? aku membutuhkanmu!" teriak Vera mencari keberadaan semua pembeli dan karyawan suaminya yang bekerja di caffe.
"A-apa, tutup? sejak kapan caffe Mas Dave tutup lebih awal? setahuku, caffe ini buka sampai malam. Aku pernah melihat jam buka nya di sosial media.
Dijatuhkannya bokongnya di tempat duduk yang kosong. kedua tangannya menangkup pipinya yang terlihat lebih berisi.
"Aku bisa mati kelaparan jika seperti ini. Mana lagi, aku kurang ahli memasak. Masa iya, dalam mode lapar, aku harus memasak dan memakan masakanku sendiri. Ini benar-benar tidak adil. Ini pasti kerjaan Mas Dave, Mas Dave sengaja menutup caffe ini dengan cepat, mana lagi aku tidak pegang uang,"
"Dengan terpaksa, aku harus membangunkan Mas Dave. Percuma aku keluar diam-diam, jika ujung-ujungnya aku menyerahkan diriku lagi ke dalam kandang singa,"
"Sangat menyebalkan," gerutu Vera berjalan menaiki anak tangga menuju kamar suaminya.
__ADS_1
Krek ...
Pintu terbuka, dengan perlahan, Vera berjalan dan duduk ditepi ranjang. Tangannya mulai meraih dan menggoyangkan lengan kekar suaminya.
"Mas Dave, bangun! aku laper!" titah Vera.
"Mas Dave, bangun!"
"Hem ..."
"Mas, jangan ham hem aja! bangun! aku laper!" teriak Vera
"Aku juga, rasanya aku lapar dan ingin memasangmu lagi," gumam Dave membuat Vera menghentikan tangannya yang sedang menggoyangkan lengan suaminya.
Glek..
Bersambungš
__ADS_1