Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 70


__ADS_3

"Maka dari itu, aku memberikanmu makanan ini. Aku tahu, kau pasti melupakan waktu makan siangmu!" ujar El.


"Tidak perlu repot-repot. Kau bukan pembantu atau pelayanku, El. Aku bisa meminta Excel atau OB di sini untuk membelikanku makan siang." ucap Dave memangku kakinya ke satu kakinya lagi.


"Apa ada tamu selain aku, Dave? Aku melihat kegelisahan di wajahmu? Atau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya El mendapat gelengan dari Dave.


"Pekerjaanku banyak. Terkadang aku harus bekerja lembur dan aku tidak suka membuang-buang waktuku untuk hal yang tidak penting," jawab Dave mengambil dan mengetik sesuatu di layar ponselnya.


"Oh, kamu mengusirku, Dave? Baiklah, aku akan pulang. Lagi pula, kedatanganku di sini akan mengganggu waktumu bekerjamu," ketus El bangkit dari duduknya.


"Bukan seperti itu, El. Aku benar-benar sibuk. Jangan marah, kenapa sikapmu akhir-akhir ini selalu berubah? Aku seperti bukan mengenal El yang dulu," ucap Dave meraih tangan sahabatnya.


"Siapa yang berubah. Kamu saja yang sensitif Dave! Ya sudah, aku mau pulang," ujar El menepis tangan sahabatnya.


"Aku akan menghubungimu nanti, setelah pekerjaanku selesai," titah Dave.


"Tidak perlu. Aku kemari hanya ingin bertanya tentang kau yang tak pernah ke caffe. Semua karyawanmu kerepotan, Pelanggan caffe mu semakin banyak," ujar El membuat Dave menepuk keningnya.


"Astaga, aku memang beberapa hari ini belum mengecek Caffe. Terimakasih telah mengingatkanku, El. Aku benar-benar lupa. Pekerjaanku sangat banyak," ujar Dave.


"Hem ... lain kali jangan seperti itu lagi, Dave. Kasihan Alexa dan lainnya. Seharusnya, kau membuka lowongan pekerjaan lagi di Caffe, bagian pengiriman pesanan."


"Yang mengatur semuanya Alexa. Aku percaya dengannya," jawab Dave.


"Tapi, Alexa harus meminta izin padamu dulu. Katanya ponselmu tidak aktif," ujar El membuat Dave menepuk keningnya lagi.


"Aku sudah lama menonaktifkan ponselku khusus Caffe. Aku hanya memakai nomer pribadiku untuk saat ini. Biarkan setelah selesai bekerja, aku akan melihat keadaan Caffe. Aku juga akan mengganti nama Caffe dan desain Caffe ku," ujar Dave.


"Mengganti? Kenapa Dave? bukankah menggunakan nama itu saja sudah membuat Caffe mu ramai?"


"Kenapa harus mengganti nama lagi?" tanya El tak percaya.


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri El, jika aku sudah memiliki--"

__ADS_1


"Siapa? Aku tahu janjimu, kau pernah bilang padaku. Lalu siapa jantung hatimu itu, Dave!" pekik El membuat Vera yang sedang tertidur terganggu.


"Siapa sih yang bertengkar di siang hari, mengganggu tidurku saja!" gerutu Vera menurunkan kakinya dan berjalan membuka pintu.


Setelah pintu terbuka, Vera berjalan dan kembali lagi ke dalam kamar saat melihat suaminya sedang bertengkar dengan seorang wanita yang diketahuinya calon istri kedua suaminya.


"Wah Mas Dave bertengkar?" gumam Vera, "Lanjutkan Mas, jangan kasih kendor! teruslah bertengkar. Aku akan mendukung kalian berpisah dan tak jadi menikah. Aku tidak mau di madu Mas, hihihi ...." gumam Vera saat mengintip dari balik pintu kamarnya.


"Lebih baik, pulanglah. Tidak pantas seorang wanita membuat keributan di kantor seperti ini," titah Dave.


"Aku akan pulang, tapi jelaskan semuanya, Dave?" pintar El memohon.


"Aku tidak bisa jelaskan. Semuanya akan menjadi rahasiaku, lebih baik pulanglah!" titah Dave membuat El menghentakkan kedua kakinya secara bergantian.


"Dave! aku kecewa padamu. Kau sudah bermain rahasia-rahasiaan denganku," ucap El kemudian pergi meninggalkan Dave yang tengah menatapnya.


'Apa yang dikatakan Excel ternyata benar, El mempunyai perasaan padaku. Sebaiknya, mulai sekarang ... aku menghindar darinya,' batin Dave memutar tubuhnya dan melindungi kepala istrinya yang tengah menatapnya.


"Mas Dave, hehehe ...." ucap Vera setelah suaminya memergoki dirinya yang tengah menguping.


"Kemarilah, akan ku tarik kupingmu sampai panas," ujar Dave menjatuhkan bokongnya di kursi kerjanya.


"Jangan Mas. Oh iya, Mas Dave sedang bertengkar dengan calon istri Mas? Berarti ... Mas Dave tidak jadi menikah dong? dan aku ... tidak jadi di madu?" ucap Vera tersenyum bahagia. Kakinya melangkah kemudian menjatuhkan bokongnya di atas meja kerja suaminya.


'Aman, dia tidak mendengar semuanya,' gumam Dave dalam hati.


"Hei, kaca mejaku bisa pecah jika diduduki seperti itu," ucap Dave tangannya mulai menyentuh mouse komputernya.


"Mas Dave, aku lapar. Kita pulang yuk," titah Vera setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.


"Makan, makanan itu saja." titah Dave menunjuk makanan yang diberikan sahabatnya, El.


"Itu Mas Dave yang beli?" tanya Vera mendapat gelengan dari suaminya.

__ADS_1


"Aku tidak mau Mas, aku mau makanan yang benar-benar nyata saja," tolak Vera membuat pandangan Dave beralih pada istrinya.


"Ish, kenapa?" tanya Dave membenarkan ujung dress istrinya.


"Terimakasih Mas,"


"Aku tidak mau memakan makanan orang lain. Aku tahu, itu untuk Mas Dave, bukan untukku. Atau berikan saja aku uang, lalu aku akan membeli makananku sendiri. Kau tahu Mas, selama ini kamu tidak mempercayaiku untuk memegang uang mu. Bahkan uang jajanku saja, kau titipka pada Lord. Sehingga aku kemana-mana harus bergantung pada Lord. Memangnya kamu mau, istrimu ini di gosipkan mendua dengan anak buah suaminya karena kemana-mana selalu bersama?" ujar Vera menampilkan raut wajahnya yang bersedih.


"Sudahlah, makan saja yang ada. Aku sudah kenyang!" ucap Dave memasukkan dokumen ke dalam komputer.


"Biar aku bantu," titah Vera menurunkan kakinya dan berjalan mengambil makanan yang masih utuh.


"Kita makan sama-sama ya, Mas. Aku tahu, kamu belum makan, maka dari itu. Makanan ini kita bagi dua, aku juga takut. Jika makanan ini sudah di santeeet atau diracuni." ujar Vera menjatuhkan bokongnya di kursi depan meja suaminya.


"Aku tidak lapar!" jawab Dave singkat, "Dan tidak mungkin makanan itu beracun."


"Mas, bisa saja. Jika makanan ini ada racunnya, maka kita akan mati bersama, dan Mas Dave tidak bisa menikah lagi," jawab Vera enteng.


'Sikapnya sangat labil. Memangnya dia mimpi apa sampai-sampai sikapnya berubah manis seperti ini?' batin Dave melirik sekilas istrinya yang tengah membuka makanannya.


"Ayam Mas. Ini buat kamu saja," ujar Vera menutup makanannya.


Mendengar nada lesu dari istrinya, Dave pun mengernyitkan keningnya, "Memangnya kenapa dengan ayam?" tanya Dave penasaran.


"Mas ingat tidak sih! beberapa hari ini Bibi selalu memasak ayam, dan aku bosan Mas."


"Ayam, sayuran, ikan. Aku kan kepengin yang lain Mas," ucap Vera.


"Memangnya apa? apa yang ingin kamu makan?" tanya Dave.


"Mie Mas. Aku merindukan makanan yang satu itu. Aku rindu mie instan," jawab Vera membayangkan makan mie instan pedas.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2