Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 93 Benar-benar Melakukannya


__ADS_3

"Mas, kamu sudah pulang? maaf aku tidak mendengar mobilmu berhenti di depan rumah. Kamu--"


"Kemarilah!" titah Dave.


"Iya, Mas!" titah Vera berjalan menuju suaminya.


Dave membelai wajah istrinya, dia mengusap-usap pipi mungil.


"Hukuman apa yang cocok untuk di berikan padamu?"


"Hukuman? Aku salah apa, Mas? Aku tidak salah apapun!"


"Yakin, kamu tidak salah? Lalu, untuk apa wajahmu seperti gugup dan gelisah, Hem?" tanya Dave.


"Mas. Jangan seperti ini, aku risih!"


"Risih? Tapi kamu istriku? aku berhak menyentuh setiap tubuhmu!"


"Iya, aku tahu, Mas. Tapi jangan seperti ini. Mas kan belum mandi? Mas Dave mandi dulu, ya! Aku akan siapkan baju tidur untuk Mas!" rayu Vera, wajahnya berusaha menghindar dari tangan nakal suaminya.


"Ekhem! Bagaimana kuliahmu?"


"Kuliah?" gumam Vera. 'Aduh, bagaimana ini. Aku kan bertengkar dengan dosen killer itu?' batin Vera, "Em, baik-baik saja!"


"Jangan bohong. Aku tahu, istriku ini bertengkar dengan dosennya tadi, dan dengan hebatnya, istri mengusir dosen itu! Benar, kan?" tanya Dave membuat Vera menelan salivanya susah.


"Hehe ... dosen itu yang menyebalkan Mas, jadinya aku usir. Eh, bukan aku usir, melainkan dosen yang ingin pulang. Jadi, jangan salahkan aku!" elak Vera membuat senyum Dave terbit.


Vera yang melihat senyum terbit dari bibir suaminya pun segera menjauhkan pantatnya.

__ADS_1


"Mau kemana, Hem?" tanya Dave, "Kamu tidak bisa kabur lagi dariku! Sekarang, aku ingin melanjutkan sesuatu yang tertunda!" titah Dave membuat Vera teringat dengan kepergian suaminya yang bersama wanita bernama El.


"Tidak mau, Mas! Aku tidak mau melanjutkan lagi." ujar Vera, 'Enak saja melanjutkan lagi. Bukankah tadi, dia habis melanjutkannya dengan wanita yang bernama El. Malas sekali, aku mendapat belasan orang!' batin Vera.


"Aku tidak butuh penolakan. Aku mau kamu hamil!"


"Tapi aku belum siap hamil, Mas! Jangan paksa aku!" kesal Vera, "Bagaimana dengan putra? kenapa aku tiba-tiba teringa dengan putra?' batin Vera.


Tak ingin mendapatkan penolakan, Dave mulai melepas kemejanya dan melemparkannya ke sembarang arah, membuat Vera berlari.


"Mas! Aku tidak mau!" pekik Vera berlari dan mencari tempat untuk berlindung.


Dave semakin mendekat, Vera yang melihat suaminya semakin mendekat pun kembali berlari. Dia merangkak menaiki tempat tidurnya sambil mengambil beberapa bantal.


"Aku lempar menggunakan bantal, Mas!" teriak Vera yang diabaikan Dave.


"Ayolah!" ucap Dave membuat Vera melempar satu bantal kepada suaminya.


'Benar-benar menggemaskan! Padahal, aku tidak menginginkan, aku hanya bercanda. Tapi saat melihat tingkahnya yang menggemaskan, aku jadi tertarik untuk melakukannya!' batin Dave menangkap bantal yang di lemparkan istrinya.


"Mas! Jangan mendekat. Sudah aku bilang, aku tidak mau! Kenapa harus di paksa, sih! Bukankah kamu sudah puas bermain dengan wanita yang bernama El itu!" geram Vera.


"Tunggu dulu, Jadi ceritanya kamu cemburu? Aku bermain dengan El? iya?" ujar Dave membuat Vera menggelengkan kepalanya.


"Siapa yang cemburu! Mas Dave saja yang terlalu perca diri!" ketus Vera melemparkan bantalnya lagi.


Tak ingin kehilangan kesempatan. Dave berjalan dan merangkak menaiki kasur. Belum sempat, Vera menghindar, kakinya sudah di pegang oleh suaminya.


"Mau kemana, Hem?" goda Dave.

__ADS_1


"Lepas, Mas!"


"Katanya tidak cemburu? Ya sudah, kita bermain lagi!" titah Dave menindihi tubuh istrinya.


Vera memalingkan wajahnya saat melihat wajah suaminya di hadapannya.


"Aku kesal denganmu, Mas!" ketus Vera.


"Kesal kenapa, Hem? Apa aku pernah membuat kesalahan?" tanya Dave.


"Kamu sudah mengkhianati pernikahan ini!"


"Aku? Mengkhianati pernikahan ini?" tanya Dave tak percaya, "Sepertinya bukan aku yang mengkhianati pernikahan ini. Bukannya kamu yang sudah mengkhianati pernikahan kita. Kamu sudah berani bermain api dengan seseorang pria yang bernama putra?" sindir Dave membuat Vera terdiam.


Dave semakin menampilkan senyum manis saat melihat istrinya bungkam.


"Kenapa diam? Apa yang aku ucapkan benar, kan?"


"Itu hanya masalalu. Putra sudah berkhianat. Dan sekarang, aku membencinya!" ketus Vera.


"Oh, dulu!" jawab Dave membenarkan rambut istrinya yang berantakan.


"Mas, aku tidak mau melakukan itu! Kamu belum mandi. Pasti tubuhmu bau. Awas!" ujar Vera berusaha memberontak.


"Setelah ini, kita mandi bersama!"


"Ish, kamu ini! Terserah, aku capek. Percuma juga aku melawan. Ujung-ujungnya aku yang kalah!" kesal Vera.


Dave mulai menci*mi kening dan seluruh wajah istrinya bertubi-tubi.

__ADS_1


'Aku akan membuatmu cepat hamil!' batin Dave melepas sabuk yang melilit di pinggangnya.


'Astaga, Mas Dave benar-benar melakukannya!' batin Vera pasrah.


__ADS_2