Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 139


__ADS_3

"Baiklah. Lebih baik, kita tebus sama-sama!" jawab Putra sambil mengulurkan tangannya. "Ayo!" titahnya lagi.


"Tapi janji, sewaktu udah sampai, kamu harus diam. Jangan terlalu banyak bertanya. Aku tidak mau, orang lain mengetahui kecerobohanku ini. Aku tidak mau di sangka wanita tidak baik. Aku takut mendapatkan caci maki itu, Put!"


"Aku janji. Siapa juga yang berani mengumpatmu. Ada aku di sini, aku akan selalu menjagamu sampai kapanpun. Kau tenang saja, ya! Sebaiknya, kita berangkat! Jangan sampai perutmu ini kelaparan!" ajak Putra menggenggam tangan Vera lalu mereka berjalan keluar rumah bersama.


"Put! Kamu sudah mendapatkan foto Mas Dave yang terbaru?" tanya Vera setelah keluar dari rumah.


Putra mengangguk. "Jangan khawatir, pria itu baik-baik saja. Bahkan, kata anak buahku, pria itu tidak terlihat sedih. Justru, dia membawa wanita cantik ke rumahnya. Jadi, aku mohon padamu ... lupakan pria sepertinya. Dia tidak pantas menjadi pendamping hidupmu, Ver! Dia hanya ingin mempermainkan perasaanmu." ucap Putra lalu melihat taksi online nya datang. "Kita masuk ke dalam!" titahnya lagi.


Vera menganggukkan kepalanya. Dia berjalan dan mendudukkan pantatnya di bangku belakang di ikuti oleh Putra di belakangnya. "Tidak mungkin Mas Dave seperti itu." jawab Vera yang baru saja mendudukan pantatnya.


"Jalan, Pak! Kita ke apotik terdekat!" titah Putra.


"Baik, Pak!" jawab supir taksi lalu menancapkan gas mobilnya.


"Kau tidak percaya? Maka dari itu, aku langsung menghapus foto kemesraan mereka. Aku tidak mau melihatmu menangisi pria yang sama sekali tidak pantas untuk ditangisi, Ver. Mulai sekarang, kau lupakan dia! Dia bukan pria yang baik!" titah Putra.


'Tidak mungkin. Aku tahu, sikap suamiku seperti apa! Tapi aku juga tidak bisa menentang ucapan Putra. Apa jangan-jangan yang di katakan putra ada benarnya. Wanita yang di maksud putra itu dokter cantik yang pernah bertemu Mas Dave di rumah sakit?' batin Vera.


"Hei, Ver! Jangan melamun." titah Putra menepuk pundak wanita yang berada di sampingnya.


"Aku mau lihat foto itu, Put! Bilang ke anak buahmu, suruh dia kirimkan foto itu. Aku mau, foto itu di kirim sekarang juga! Aku mau melihatnya, Put!" titah Vera membuat Putra sedikit kebingungan.


'Aku pikir, setelah aku berbicara seperti tadi, Vera akan marah dan melupakan suaminya. Dan dia tidak akan membahas suaminya lagi. Jika seperti ini, aku sendiri yang kebingungan.' batin Putra.


"Cepat, Put! Minta anak buahmu untuk mengirim foto tersebut. Aku mau melihatnya!" titah Vera.

__ADS_1


"Aku akan mencobanya. Semoga saja anak buahku belum menghapus foto suamimu itu. Tapi, menurutku mulai dari sekarang ... kamu lupakan pria itu. Buktinya, pria itu tidak mencarimu, kan?"


"Aku tidak tahu dia mencariku atau tidak, Put! Dan aku harap, semua ucapanmu tidak benar. Aku tahu karakter dan sikap suamiku!"


"Itu terserahmu, saja! Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayaiku. Tapi, akan ku usahakan untuk mendapatkan foto itu!" Jawa Putra ringan. 'Aku harus meminta seseorang untuk mengedit wajah pria itu dengan wanita yang sedang dekat dengannya. Tapi kira-kira, pria itu sedang dekat dengan siapa?' batin Putra.


'Apa yang di maksud Putra, wanita itu adalah dokter El. Ish, kenapa aku jadi kesal, sih! Kalau begini caranya, kamu jahat, Mas! Aku benci kamu! Awas saja, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mencabik-cabik tubuh kalian.' geram Vera dalam hati.


"Kamu yang sabar, ya!" titah putra mengusap pundak Vera dengan lembut.


"Aku sudah sabar. Dan aku tidak mungkin mempercayai ucapanmu sebelum ada bukti, Put! Bukannya aku tidak percaya denganmu, tapi aku tahu sikap dan karakter suamiku seperti apa! Walaupun, dia dingin tapi dia sosok pria yang hangat dan sangat perduli denganku!" jawab Vera, 'Aku tidak boleh menampilkan ekspresi wajahku yang sedang marah di depan Putra!' batin Vera.


Sedangkan di satu sisi. Dave dan Excel sedang duduk di dalam tenda berwarna biru. Mereka sangat menikmati makanan yang di pesannya.


"Enak kan, makanannya?" tanya Excel meminum es teh.


"Enak. Tapi pikiranku terus tertuju pada Vera. Kemana pria itu membawa Vera?" jawab Dave lalu meminum es jeruknya.


"Kau ini pandai sekali bicara. Kau tidak pernah merasakan menjadi aku. Dia sedang hamil. Aku tidak bisa membiarkan dia bersama pria asing. Aku tidak mau, anakku kelak akan menganggap pria itu sebagai ayahnya. Aku tidak terima!" kesal Dave menyeruput kuah baksonya.


"Tidak mungkin. Sebelum istrimu melahirkan, aku pastikan, dia sudah kembali ke pelukanmu!" jawab Excel membuat Dave menatap heran pria di hadapannya.


"Aku sedang serius," ketus Dave.


"Aku juga serius, Dave! Kamu pikir pakai logika. Istrimu pasti akan melakukan segala cara untuk kabur. Kamu tidak perlu khawatir, tapi beda cerita, jika istrimu sudah mencintai pria itu."


"Dia tidak mungkin mencintai pria itu!" ketus Dave menghentikan makannya. "Aku yang akan menjamin semua itu!" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Aku suka dengan cara pikirmu, Dave!" jawab Excel.


Sedangkan di satu sisi. Setelah taksinya membelah jalanan ibu kota. Akhirnya, taksi yang ditumpangi Vera dan Putra sampai di depan apotik.


"Kita turun sama-sama!" titah Putra setelah membuka pintu taksi.


"Tapi kamu harus diam! Aku takut di bully. Intinya, kita tebus resep ini dan langsung masuk ke taksi." ujar Vera.


"Iya sayang!" jawab Putra.


"Tunggu dulu, Put! Aku juga tidak suka dipanggil sayang. Kita bukan siapa-siapa, Put! Kita cuma sebatas teman!"


"Iya. Ya sudah, ayo masuk!" titah putra menggenggam tangan Vera.


'Semoga saja, pegawai apotik itu tidak bicara apapun tentang vitamin ini. Aku tidak mau Putra tahu.' batin Vera.


Setelah masuk ke dalam apotik. Vera langsung di sambut hangat oleh pegawai apotik.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai apotik.


"Mbak, saya mau tebus resep ini, cepat, ya! Saya sedang buru-buru!" titah Vera memberikan selembar kertas bertuliskan resep vitamin penguat kandungan.


Pegawai apotik itu menerima selembar kertas dari Vera. Dia membaca resep vitamin tersebut.


"Ini benar resep vitamin penguat--"


"Iya, mbak! Saya sudah tahu, itu vitamin. Sekarang, mbak siapkan resep tersebut, karena saya ada urusan penting!" potong Vera mendorong resep dokter.

__ADS_1


"Oh, sebentar saya siapkan dulu vitaminnya!"


"Iya, cepat ya, mbak!" jawab Vera menghembuskan napasnya lega. 'Syukurlah, semuanya aman!' batin Vera.


__ADS_2