Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 138


__ADS_3

"Benar. Aku butuh makan. Sebaiknya, kita pergi ke taman. Aku tidak sabar memakan makanan itu lagi!" jawab Dave.


"Tapi, kau yang bayar, ya! Aku tidak mau bayar! Aku ini sekertarismu, Dave!"


"Kau tidak perlu khawatir! Aku yang akan membayarnya!" jawab Dave.


Sedangkan di satu sisi. Vera sudah tak tahan lagi. Dia keluar kamar mencari makanannya, tadi.


Tak melihat putra di dapur dan ruang tamu. Tiba-tiba, dia mempunyai ide untuk kabur dari rumah ini. Perlahan, kakinya berjalan menuju pintu utama rumahnya.


Dengan langkah pasti dan pelan. Vera sudah sampai di depan pintu utama.


"Semoga saja pintunya tidak terkunci!" gumam Vera.


Krek ...


Krek ....


Vera menghembuskan napasnya kasar saat mengetahui pintu utama yang terkunci. "Kenapa harus terkunci?" lirih Vera.


Sedangkan di satu sisi. Putra menyilangkan ke dua tangannya di dada. Dia melihat kelakuan wanita yang sedang berusaha membuka pintu utama rumahnya.


"Ish, pintunya susah sekali di buka! Kira-kira Putra menyimpan kunci pintu rumah di mana?" gumam Vera.


"Ekhem!" deheman putra membuat Vera menelan saliva nya susah. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Perlahan tubuhnya di putar agar menghadap sumber suara tersebut.


"Mau apa?" tanya Putra sekali lagi.


"Put!" panggil Vera tersenyum manis.


"Aku tanya, kamu mau apa? Kamu mau kabur? Dan kamu sedang mencari kunci pintu rumah ini, kan?" tanya Putra yang mendapat gelengan kecil dari Vera.


"Tidak! Aku tidak mungkin kabur!" lirih Vera, 'Aduh, aku harus alasan apalagi? Semoga saja, Putra masih bisa percaya denganku!' batin Vera.


"Lalu, kalau bukan kabur, kamu mau apa? Mengendap-endap dan berusaha membuka pintu rumah ini. Aku tidak suka di bohongi, Ver! Kamu membuatku kecewa!" ketus Putra mulai emosi.

__ADS_1


"Put, kamu dengarkan aku dulu. Aku tidak mungkin kabur. Aku lapar, dan kamu tahu ... aku mau bakso. Tadi, aku seperti mendengar suara tukang bakso lewat depan rumah. Apa salahnya, aku berusaha mengejar tukang bakso itu." jawab Vera bohong.


"Kamu yakin dengan ucapanmu itu, Ver?" tanya Putra.


"Menurutmu, Put? Mana mungkin aku kabur di siang hari saat kamu tidak tidur. Kalau aku mau kabur, aku tidak mungkin lewat pintu utama. Aku lapar, Put!" ucap Vera meyakinkan teman prianya lagi.


"Kamu tidak berbohong, Ver?"


"Menurutmu, aku sedang berbohong, Put! Ya, sudah. Aku mau masuk ke kamar aja! Lagian, tukang bakso itu sudah pergi jauh dan semua itu karenamu! Kamu mengunci pintu ini! Aku marah denganmu!" ketus Vera berjalan menuju kamarnya.


Putra menghalangi langkah kaki Vera. Dia merentangkan ke dua tangannya. "Bukankah, aku sudah membelikanmu makanan? Kamu bisa makan, semua makanan yang aku beli!" titah Putra.


"Semua? Tadi, aku mau makan gorengan ... sama kamu tidak di izinkan. Jadi, untuk apa kamu perdulikan aku lagi! Mulai sekarang, aku bisa beli makanan sendiri. Lain kali, aku akan panggil pedagang kaki lima yang lewat rumah. Suruh dia berhenti di depan rumah. Dan aku akan membuka jendela rumah ini." ketus Vera.


"Kamu marah padaku, Ver? Hanya karena masalah kecil?" tanya Putra tak percaya.


"Ini bukan masalah kecil, Put! Ini masalah serius! Aku mau makan pakai gorengan dan kamu menghalanginya. Itu semua membuat moodku berantakan!" ketus Vera menurunkan tangan Putra yang sedang menghalanginya.


"Ver, tunggu dulu!" titah Putra membuat Vera menghentikan langkahnya.


"Siapa bilang!"


"Lalu, kamu mau apa? Aku mau masuk kamar!" ketus Vera.


"Kita pergi!" titah Putra.


"Pergi? Pergi kemana, Put? Jangan aneh-aneh. Kamu sedang mengurungku!" kesal Vera, 'Apa! Aku tidak salah dengar? Putra mengajakku pergi. Mungkin, ini kesempatan untukku kabur. Aku tidak mungkin berdiam diri terus. Aku sudah capek ber drama di hadapan Putra!' batin Vera.


"Mau pergi, tidak?" tanya Putra dengan senyum manisnya.


"Pergi kemana?" tanya Vera memalingkan wajahnya.


"Kita cari bakso! Katanya, kamu mau bakso!" ucap putra menaik turunkan alisnya, "Kalau kamu mau, kamu bisa siap-siap. Aku tunggu di sini!" sambungnya lagi.


"Kamu yakin, Put? Kamu mau mengajakku keluar rumah?" tanya Vera tak percaya.

__ADS_1


"Iya. Aku yakin, Ver! Cepat siap-siap!" titah Putra.


"Iya. Kamu tunggu di sini sebentar. Aku mau ganti pakaian dulu. Sebentar aja!" titah Vera berjalan masuk menuju kamarnya.


Melihat Vera masuk ke dalam kamar. Ke dua sudut bibir putra tertarik ke atas. 'Akhirnya, Vera semakin hari semakin dekat denganku!' batin Putra tersenyum manis.


Sedangkan di satu sisi. Setelah masuk ke kamar, Vera langsung mengganti pakaiannya. Dia memasukkan satu pakaian lagi ke dalam tas kecilnya. Dan dia memasukkan beberapa barang yang di butuhkan misi nya.


'Semoga saja, aku bisa kabur dari Putra. Kira-kira, aku mau kabur kemana ya? Intinya, aku harus pergi ke tempat yang ramai. Agar, aku bisa meminta bantuan atau mengelabui Putra. Tapi sebelumnya, aku harus ke apotik. Aku mau menebus vitamin yang diberikan dokter beberapa hari yang lalu!' batin Vera menggendong tas nya dan keluar kamar.


"Sudah siap?" tanya Putra saat melihat Vera menggunakan pakaian rapi.


"Sudah, Put! Ayo, kita berangkat! Tapi sebelumnya, aku mau ke apotik. Aku mau beli vitamin yang di anjurkan dokter. Demi kesehatanku, aku harus membeli vitamin itu!" titah Vera.


"Memangnya, kamu mau beli vitamin apa, Ver? Dan mana resepnya? Biar aku saja yang menebusnya!" titah Putra, tangannya menengadah.


'Tidak mungkin aku bicara kalau vitamin yang aku tebus itu vitamin penguat kandungan. Bisa-bisa Putra marah dan meracuniku lagi!' batin Vera.


"Hei, aku tanya, Ver! Jangan melamun!"


"Eh, iya, Put! Vitamin yang mau aku tebus itu, vitamin tubuh aja. Biar tubuhku selalu sehat. Kemarin dokter bilang, kalau aku butuh vitamin." jawab Vera gerogi.


"Oh. Ya, sudah. Biar aku saja yang tebus!"


"Tidak perlu, Put! Biar aku saja! Sekalian aku mau tanya-tanya." tolak Vera.


"Tanya tentang apa? Apa tubuhmu masih sakit atau--"


"Bukan seperti itu, Put! Aku mau tanya tentang vitamin yang aku tebus. Di makannya sesudah makan atau sebelum makan."


"Biar aku saja yang tanyakan! Kamu tunggu di taksi!" titah Putra. "Sekarang, kita berangkat!" sambungnya lagi.


'Ini kesempatan untukku kabur. Tapi, aku tidak bisa kabur dengan cara seperti ini. Putra bisa mengejarku!' batin Vera.


"Mana resepnya, Ver?" tanya Putra.

__ADS_1


"Em, bagaimana ... kalau kita berdua yang tebus resepnya. Jadi, aku bisa dengar secara langsung?" tawar Vera.


__ADS_2