Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 62


__ADS_3

Vera meraih kertas yang diberikan suaminya, dia membaca berulang kali dengan teliti. Setelah merasa yakin, Vera langsung menempelkan materai dan menandatanganinya.


"Sudah Mas, sekarang giliran mu!" titah Vera.


"Baik," ujar Dave mengambil kertas dan menandatanganinya, "Biar aku simpan di ruang kerjaku. Sekarang, aku mau melanjutkan permainan ku yang sempat tertunda!" ujar Dave meletakkan kertas perjanjian di atas meja ditutupi dengan tumpukan buku lainnya.


"Ish kau, aku pikir ... kamu sudah lupa Mas!" gerutu Vera merangkak menuruni ranjang.


Belum sempat Vera kabur, Dave sudah meraih tangan istrinya dan mulai melanjutkan aksinya.


"Mau kemana?" tanya Dave menindih tubuh istrinya.


"Em ... Mas, aku lelah," jawab Vera, wajahnya sudah merah merona.


"Lelah?"


"Iya."


"Oh ... Jangan-jangan, kau takut akan hamil anakku?" tebak Dave membenarkan beberapa helai rambut istrinya yang menutupi wajah cantiknya.


"Ish mana ada, aku kan sudah--" Vera menutup mulutnya, 'Hampir saja, aku keceplosan,' batinnya.


"Sudah apa, hem?"


"Tidak apa-apa Mas, lupakan. Aku tidak takut hamil anakmu," jawab Vera tersenyum manis, 'Karena aku, tidak mungkin hamil. Vera-vera, kau memang pandai. Beruntung kamu mempunyai otak yang sangat encer,' batin Vera.


"Ya sudah, kita buktikan saja. Sesuai dengan perjanjian kita, selama 3 bulan, kau harus melayaniku. Jika, setelah 3 bulan tidak ada tanda-tanda kehamilan, maka aku merestui hubunganmu dengan pria itu," ujar Dave membuat Vera mencerna setiap ucapan suaminya.


"Jadi, aku harus melayani mu, Mas? selama 3 bulan?" ucap Vera diangguki Dave.


"Sekarang, mulailah dan jangan bertanya. Junior ku sudah menegang. Jika, bertanya terus, kapan kita akan memulainya. Dan satu hal lagi, aku menginginkan ketidak terpaksaan darimu," kesal Dave.


"Tapi, aku belum selesai bertanya Mas! kamu belum menjelaskan kepadaku, kamu yakin mau menikah lagi, Mas! aku tidak mau di madu, lho!" ujar Vera tangannya membungkam mulut suaminya yang mulai mendekat pada wajahnya.

__ADS_1


"Ish!" Dave menepis tangan istrinya, "Cukup, kita lanjutkan pertanyaan mu, setelah permainan kita selesai!" titah Dave mencengkram kedua tangan istrinya dan bibirnya sudah membungkam bibir mungil istrinya yang terasa manis.


'Sabar lah, Ver! ini hanya 3 bulan, setelah 3 bulan, kau terbebas!' batinnya, 'Baiklah, aku akan berusaha menjadi istri terbaik untukmu, aku akan melayani mu, calon mantan suami, hahaha ....'


Vera membalas ciuman suaminya, lidahnya dia mainkan, dan mereka saling bertukar saliva.


Mendapat respon dari istrinya, Dave semakin gencar, juniornya semakin berdiri tegak, tanpa sadar Dave membuka resleting bagian belakang gaun istrinya, setelah gaunnya terlepas, Dave bisa melihat dua gundukan yang sangat menggoda.


"Kamu sedari tadi tidak memakai brraaa?" tanya Dave saat ciumannya terlepas, dia melihat dua gundukan yang tidak terbungkus.


"Tidak Mas, karena gaun ini sudah dilapisi di bagian dadanya. Lagi pula, aku hanya di rumah, dan seperti biasa ... malam hari aku tidak pernah memakai benda itu," jawab Vera membuat Dave menganggukkan kepalanya.


Tak ingin berlama-lama menatap dua gundukan itu, Dave langsung menjelajahi setiap inchi tubuh istrinya, bermain di pucuk salah satu gundukan membuat Vera mengigit bibir bagian bawahnya.


"Emmgh ... Mas, teruskan!" pintar Vera meremas rambut suaminya yang tengah bermain di gundukan miliknya.


Setelah puas bermain, Dave langsung membuka celananya dan memperlihatkan benda panjang tumpul miliknya yang siap menerobos masuk ke dalam sarangnya.


'Kenapa punya Mas Dave lebih besar daripada punya putra?' batin Vera yang tak sengaja melihat benda tajam milik suaminya.


"Mas pelan-pelan, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi setelah ini," ujar Vera menutup matanya.


"Memangnya apa yang akan terjadi? bukankah biasanya kau akan tertidur da--"


"Cepat masukkan Mas! aku sudah tidak kuat dengan jarimu yang bermain di area bawah terus!" ketus Vera tak sabar.


Dave menarik kedua sudut bibirnya ke atas, 'Kali ini, kau akan mengandung anakku.' batin Dave memasukkan dan menggoyangkan pinggulnya naik turun.


Permainan yang dilakukan Dave dan Vera yang di dasari tanpa keterpaksaan membuat keduanya ambruk setelah ronde ke tiganya.


"Aku lelah Mas, aku mau tidur. Sudah ya, aku sudah menjadi istri terbaik untuk malam ini, dan aku mau tidur! selamat malam!" ujar Vera menguap dan menarik selimutnya ke atas leher, tak lupa dia mematikan lampu kamarnya.


Dave menarik tubuh istrinya agar mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang polos istrinya.

__ADS_1


"Mas, jangan pegang-pegang. Kita sudah selesai!" ketus Vera menarik tangan suaminya.


"Hei, kau masih istriku jika di atas ranjang. Biarkan saja, aku memegang tubumu, ingat ini semua milikku. Aku berhak atas seluruh tubuhmu!" jawab Dave, tangannya mulai merambat dan memegang salah satu gundukan milik Vera.


Tak ingin berdebat dengan suaminya, akhirnya Vera pasrah, dia tidur dengan posisi membelakangi suaminya, walaupun tangan suaminya memegang salah satu gundukannya.


Ke esokkan harinya, Vera menggeliat dan merasakan kakinya sangat berat, perlahan dia membuka kelopak matanya dan melihat posisi tubuhnya sudah tidak ada jarak dengan Dave.


Bahkan tangan Vera melingkar memeluk suaminya yang tengah tertidur pulas.


'Astaga, kenapa aku bisa memeluk Mas Dave, bisa besar kepala dia, kalau tahu aku memeluknya,' batin Vera berusaha menarik tangannya yang terhimpit oleh tangan Dave.


'Tapi, kalau dilihat-lihat, Mas Dave tampan juga, ketampanannya bahkan melebihi Putra, padahal dia sudah berumur. Eh, ngomong-ngomong ... umur Mas Dave berapa? atau mungkin, Mas Dave sebenarnya masih muda, cuma pakaian sehari-harinya saja yang terlihat formal, jadi semua orang menganggap Mas Dave sudah tua. Lucu ya, aku mempunyai suami yang sudah tua hihihi. Apa kata anak-anakku kelak setelah mereka besar, pasti Mas Dave sudah seperti--' batin Vera terhenti saat melihat kelopak mata Dave bergerak, dengan segera ... Vera menutup matanya.


"Jangan pura-pura tidur! aku sudah tahu,"


"Hei, bangun!" titah Dave mencubit hidung Vera.


"Mas, aku tidak bisa bernapas! kamu mau aku mati!"


"Eh, tapi bukannya ini sangat menguntungkan bagimu. Jika aku mati, kamu kan bisa menikah dengan wanita itu? benar kan Mas?" tanya Vera menepis tangan suaminya.


"Benar, dan aku tidak perlu repot-repot mengurus surat cerai kita," jawab Dave enteng.


'Ish, sekarang saja, kita urus surat cerai kita Mas!" titah Vera membuat Dave mematung.


"Aku akan mengurusnya, jika aku merasakan kecocokan dengan wanita itu, tapi jika ... aku tidak mempunyai kecocokan dengan wanita itu, aku tidak akan menceraikan mu."


"Namanya juga saling cinta, ya jelas ada kecocokan, kamu ini ada-ada aja Mas!" kekeh Vera membenarkan posisinya menjadi duduk, tak lupa dia membungkus tubuhnya dengan selimut.


'Hatiku sakit, saat mengucapkan kata-kata itu,' batin Vera.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2