
'Astaga Nyonya. Aku tidak bisa membayangkan kemarahan Tuan, jika Tuan mengetahui sikap Nyonya yang seperti ini,' gumam Lord dalam hati.
"Ayo Lord!" titah Vera yang telah melepaskan pelukannya.
Setelah menempuh perjalanan beberapa kilometer. Akhirnya, Vera dan Lord telah sampai di restoran dekat dengan rumahnya.
"Kita sudah sampai, Nyonya," ucap Lord, membuat Vera menggelengkan kepalanya.
'Ini sama saja, aku menyerahkan diriku terlalu cepat,' gumam Vera dalam hati, "Memangnya, tidak ada restoran yang lain, Lord? Aku tidak mau di sini!" ucap Vera.
"Nyonya, Kita sudah sepakat untuk singgah di restoran dekat rumah, tapi kenapa sekarang ... Nyonya melanggar kesepakatan kita?" ujar Lord sedikit kesal.
'Bagaimana aku tidak melanggar, Lord. Apa matamu tidak bisa lihat dengan jernih! Itu, itu ada Mas Excel. Bisa-bisa, dia mengadu pada Mas Dave. Lalu, Mas Dave menyusulku sambil marah-marah tidak jelas. Atau ... Mas Dave bisa saja, menarik paksa dan melakukan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) di depan umum. Bisa malu, aku!' gumam Vera dalam hati.
"Ayo Nyonya, jangan melamun. Ini sudah larut malam, dan tubuhku terasa sangat lelah. Aku sudah merindukan kasurku!" ucap Lord, kemudian membuka pintu mobil.
"Lord!" cegah Vera, "Jangan turun, tiba-tiba ... aku menginginkan es krim. Bisa kita mampir ke minimarket terdekat, untuk membeli es krim?" sambungnya lagi.
"Tapi Nyonya, kita harus putar balik dan minimarket terdekat kita berada di ujung sana? Kita bisa memakan waktu lebih lama. Lebih baik, Nyonya membeli es krim di restoran ini," titah Lord yang mendapat gelengan dari Vera.
"Huh! Nyonya, jangan membuat saya susah! Kemarikan ponsel saya, saya akan menghubungi Tuan. Dan meminta maaf, karena keterlambatan saya mengantar Nyonya," ucap Lord, tangannya menengadah meminta ponsel yang sedari tadi di simpan oleh Vera.
"Em, Lord. Bi-biarkan aku memegang ponselmu. Biar aku yang menghubungi Mas Dave," ujar Vera mengambil ponsel anak buah suaminya yang disimpannya, "Sandinya apa, Lord?" tanya Vera.
"Nyonya, Nyonya tidak boleh tahu, sandi ponsel saya. Kemarikan ponselnya," titah Lord merebut paksa ponselnya yang berada di genggaman Vera.
"Lord, biar aku saja. Aku akan menghubungi Mas Dave," ujar Vera yang tidak mau melepaskan ponsel milik Lord.
"Nyonya, biar saya saja!" ketus Lord.
"Aku aja, Lord!"
"Saya saja. Ini ponsel saya!" ketus Lord, "Kembalikan ponsel saya!" teriaknya lagi.
"Tidak mau! Biar aku saja yang menghubungi Mas Dave!" ucap Vera tak kalah ketus.
"Nyonya, kembalikan ponsel saya. Atau ... Jangan-jangan, Nyonya sedari tadi membohongi saya?" ucap Lord yang di 'iya' kan oleh Vera.
"Eh, bukan Lord. Aku salah, seharusnya aku geleng kepala bukan menganggukkan kepala,"
"Jangan salah paham Lord. Aku tidak pernah membohongimu. Sungguh," ujar Vera meyakinkan anak buah suaminya.
"Jangan berbohong, Nyonya. Sekarang, kembalikan ponsel saya!" ucap Lord merebut ponselnya lagi.
"Aku tidak mau memberikan ponselmu. Biar aku saja yang menghubungi Mas Dave."
__ADS_1
"Nyonya! itu ponsel saya!"
"Aku hanya pinjam sebentar, Lord!" ketus Vera, kemudian membuka pintu mobil dan berlari membuat Lord semakin geram.
"Nyonya!" teriak Lord, kemudian berlari mengejar istri Tuannya, "Kemana perginya? kenapa cepat sekali hilangnya!" gumam Lord saat tak melihat batang hidung Vera.
Di sisi lain, Vera yang tengah berlari, tiba-tiba tak sengaja menabrak meja seseorang yang sedang menunggu pesanannya.
Brugh!
"Aaww ... sakit," ringis Vera, kakinya terkena meja kayu yang di tabraknya.
"Sakit! Tolong! tolong, singkirkan meja ini dari kakiku!" titah Vera membuat seseorang yang sedang duduk, memasukkan ponselnya.
"Hei, kita bertemu lagi. Suamimu sudah menunggumu di rumah," ujar Excel menggelengkan kepala.
"Mas Excel, jangan geleng-geleng kepala terus! Singkirkan meja ini. Kakiku sakit, hiks ... hiks ...," tangis Vera pecah, saat semua orang diam menatapnya.
"Mas Excel!" teriak Vera.
"Aku tidak tuli, jangan berteriak seperti itu!" ketus Excel yang mengangkat meja itu dari tubuh Vera.
"Hiks ..."
"Sakit, kakiku sakit!" ucap Vera memegang kakinya yang memerah.
"Nyonya, dimana ponsel saya!" ketus Lord yang baru saja tiba.
"Aku tidak tahu. Kakiku sakit, bantu aku. Aku mau pulang, hiks ... hiks ...." ujar Vera histeris.
"Lord bawa dia! suaminya sudah menunggu kepulangannya!" titah Excel.
"Saya sibuk. ponsel saya hilang karena nyonya." ketus Lord pada Excel.
"Hukum alam. Karena tak patuh pada suaminya, jadi seperti itu!" kekeh Excel dan Lord bersamaan.
"Kita tinggalkan saja, dia di sini, Lord!" titah Excel yang mendapatkan anggukan dari Lord.
"Benar, tapi tunggu dulu. saya akan mencari ponselku yang hilang," ucap Lord.
"Ini ponselmu, bukan?" tanya Excel memperlihatkan ponsel yang ditemukan di dekat meja.
"Ah iya benar. Itu ponselku!" ujar Lord mengambil ponselnya.
"Huaa ....
__ADS_1
"Lord! Mas Excel! kalian benar-benar jahat. Aku akan adukan kalian pada Mas Dave. Agar kalian dipecat!" teriak Vera.
"Silahkan saja, Nyonya. Saya juga capek menjaga Nyonya," jawab Lord kemudian melangkahkan kakinya menjauhi Vera.
"Mas Excel, kakiku sakit!" rengek Vera.
"Aku sibuk. Perutku lapar, dan aku tidak mempunyai waktu untuk--"
"Kalian benar-benar jahat! Aku benar-benar benci kalian!"
"Jangan tinggalkan aku! aku malu! Mas Excel! Lord!" teriak Vera yang menghentikan langkah kaki kedua pria tampan tersebut.
Merasa kasihan dengan istri sahabatnya, Excel meminta Lord untuk menggendong dan membawanya pulang.
"Bawa pulang, Lord. Aku akan mengawasimu dari belakang," titah Excel.
"Baiklah, tapi jika Tuan Dave marah, tolong lindungi saya. Saya masih membutuhkan pekerjaan ini," jawab Lord yang mendapat anggukan dari Excel.
"Itu bukan masalah, Lord. Bawa dia, aku tidak mau kita dipermalukan dengan bocah sepertinya,"
"Apalagi, jika Dave tahu, dia bisa mengamuk pada kita," titah Excel.
"Okeh," jawab Lord, kemudian berjalan menuju istri Tuannya.
"Lord, kamu kembali? tolong aku, Lord!" rengek Vera.
"Saya kembali untuk mengembalikan Nyonya pada Tuan, dan ini semua atas perintah Excel," jawab Lord kemudian menggendong tubuh istri Tuannya.
"Kalau tidak ikhlas, kalian bisa tinggalkan aku!" gerutu Vera.
"Nyonya, Nyonya benar mau kami tinggalkan di sini? Dengan senang hati, Nyonya," ujar Lord meletakkan tubuh istri Tuannya di kursi restoran.
"Eh, jangan Lord. Aku hanya becanda. Jangan dimasukkan hati, Lord." cegah Vera melingkarkan tangannya di leher Lord.
"Ya sudah, Nyonya bisa diam! kita sudah di tunggu oleh Tuan,"
"Iya!" ketus Vera, 'Siap-siap, aku dimarahi oleh Mas Dave. Tapi, aku bisa menggunakan kakiku ini sebagai alasan, agar aku tidak dimarahin oleh Mas Dave,' gumam Vera dalam hati.
Setelah sampai di kediaman Dave. Lord dan Excel menjatuhkan Vera di kursi ruang tamunya.
Terlihat Dave yang tengah menuruni anak tangga dengan ekspresi yang tak bisa di tebak.
'Aku belum siap mendapat ceramah dari Mas Dave,' gumam Vera dalam hati.
Bersambungš
__ADS_1