Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 38


__ADS_3

"Kenapa, kenapa ada dia di sini! Oh ... pasti, dia sedang berusaha menggodamu lagi!" ketus Putri yang baru saja memasuki lorong dan melihat kekasihnya sedang berbincang dengan wanita yang berstatus simpanan Om-Om.


"Ingat, Put. Dia simpanan Om-Om, jangan terpengaruh olehnya," sambung Putri merangkul mesra pria di sampingnya.


"Aku akan pergi," titah Vera memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi pria yang dicintainya.


Melihat kepergian wanita yang dicintainya, hati Putra terasa sakit. Dia berusaha menepis tangan Putri, tapi tiba-tiba ucapan Vera yang ingin merahasiakan hubungannya terlintas di pikirannya.


'Aku tidak tahu, kenapa kamu berubah Ver. Tapi, aku tidak bisa memungkiri, bahwa aku benar-benar mencintaimu,' batin Putra menggandeng Putri berjalan membelakangi Vera.


Setelah sedikit menjauh, Vera menoleh ke belakang, dia melihat kekasihnya menggandeng mesra wanita lain dan berjalan membelakanginya.


'Seandainya saja, aku belum menikah dengan Mas Dave. Pasti aku sudah mengacak-acak wajah wanita itu. Aku benar-benar tidak suka dengan sikapnya yang genit,' batin Vera memutar tubuhnya lagi dan berjalan menuju kelas.


"Nyonya, tunggu Nyonya! Anda kemana saja? Saya sudah mencari Nyonya--"


"Diam! Sudah aku peringatkan, jangan panggil aku Nyonya. Dan menyangkut aku pergi kemana ... apa aku perlu memberitahumu? tidak kan?Mulai sekarang, jangan pernah mengurusi hidupku lagi. Karena aku mempunyai privasi sendiri, tidak semua aktivitas ku, harus kau tahu," timpal Vera berjalan menuju ruang kelasnya.


"Baik Nyonya," jawab Lord mengikuti langkah kaki istri Tuan nya.


Setelah memastikan Vera masuk ke kelasnya, Lord mencari tempat duduk di sekitarnya. Kemudian, menjatuhkan bokongnya di kursi besi itu.


'Aneh. Kenapa sikap Nyonya jadi berubah seperti itu? Perasaan Nyonya sedang bahagia, atau jangan-jangan karena tamu bulanan yang datang?' batin Lord.


Tidak di sangka, Vera dan Vin memiliki tingkat dan jurusan yang sama. Sewaktu Vera mulai melangkahkan kakinya ke kelas, dia melihat sosok Vin yang sedang duduk di pojok ruangan dengan beberapa teman wanitanya.


Vin, yang tidak sengaja melihat Vera, pun langsung bangkit. Dia memerintahkan teman wanitanya berpindah tempat duduk, agar Vera dapat duduk di sampingnya.


"Kau, pindah dudukmu. Aku sedang mengincar wanita itu," titah Vin pada wanita yang bernama Bella.


"Ta-tapi, aku sudah--"


"Setelah ini, aku akan mengajakmu jalan-jalan berdua. Tapi, pergilah ...," titah Vin mengecup sekilas pipi Bella.


"Baiklah," jawab Bella beranjak dari tempat duduknya, dan berpindah di depan tempat duduk Vin.


"Vera?" panggil Vin sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Merasa namanya dipanggil, Vera segera mengedarkan pandangannya. Dia melihat seorang pria yang baru saja dia kenal sedang melambaikan tangannya.


"Sinih!" teriak Vin, membuat semua kaum hawa menatapnya sinis, termasuk Bella.


Vera menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju Vin yang berada di pojok ruangan kelasnya.


"Kak Vin, kita seangkatan?" tanya Vera tidak percaya.


"Menurut mu? Ayo duduk di sampingku, kebetulan ... tidak ada yang menempati," ujar Vin menarik kursi kosong sampingnya.


"Bener Kak? Bukannya tadi aku melihat--"


"Tidak, dia hanya singgah saja. Cepat duduk," timpal Vin cepat.


"Terimakasih, Kak," ucap Vera setelah menjatuhkan bokongnya di kursi samping teman prianya.


"Sekarang, jangan panggil aku, Kakak. Kita kan seangkatan, panggil saja aku, Vin. Seperti yang lain," titah Vin menyenderkan punggungnya di tembok dan matanya menatap lekat wanita di sampingnya.


"Iya-iya. Terimakasih, Vin," ucap Vera menampilkan senyum manisnya.


***


"Belum Tuan, Nyonya datang dan langsung masuk ke kelas. Dia sama sekali tidak bertemu dengan mantan kekasihnya," jawab Lord.


"Bagus, jangan biarkan dia bertemu dengan pria brengsssekk itu. Aku tidak suka dengannya," ujar Dave.


"Baik Tuan."


"Pastikan, bahwa tidak ada gerak gerik mencurigakan dari istriku. Jika, ada yang mencurigakan ... maka langsung hubungi aku. Mengerti !"


"Saya mengerti Tuan,"


'Apa aku berbicara pada Tuan, tentang kejadian pagi tadi yang sempat kehilangan Nyonya. Tapi aku tidak tahu Nyonya bertemu dengan siapa. Mungkin saja, Nyonya pergi ke toilet kan? Nyonya tidak mungkin bertemu dengan pria itu, karena aku melihat raut wajah Nyonya yang tidak menangis. Sebaiknya, aku tidak menceritakan kejadian tadi pada Tuan. Bisa-bisa, aku dimarahi karena lalai dalam menjalankan tugasku' batin Lord.


"Apa, ada yang ingin kau katakan Lord? Katakan saja, aku sedang santai. Ceritakan tentang aktivitas istriku di kampus, apa dia bahagia atau seperti kemarin, menangis?" tanya Dave sambil mengetuk berulang kali meja kerjanya.


"Emm ... tidak ada Tuan. Hari ini, Nyonya tersenyum, mungkin Nyonya sudah menemukan teman barunya," ucap Lord melirik sekilas pada pintu kelas Vera yang tertutup.

__ADS_1


"Teman? Pria atau wanita?"


"Emm ... saya tidak tahu Tuan, mungkin pria. Karena sedari kemarin, yang berusaha mendekati Nyonya, pria semua," jawab Lord jujur.


"Apa!"


"Berikan peringatan pada istriku, jika dia berani mengkhianati ku. Aku akan membunuhnya hidup-hidup," geram Dave.


"Hei, jangan lakukan itu, Lord. Itu semua akan membuat istri Dave ketakutan," timpal Excel cepat.


"Lakukan saja, aku bos mu," jawab Dave.


"Jangan Lord. Jika kau lakukan semua itu, aku jamin hidupmu tidak akan bahagia. Hari-hari mu selalu di hantui oleh Dave," pekik Excel.


"Aku bos mu!" ketus Dave


"Aku malaikat penolongmu!" ketus Excel


"Hentikan! kalian bisa diam!" teriak Lord mengejutkan Dave dan Excel.


"Beraninya kau membentakku!" pekik Dave dan Excel bersamaan.


"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud membentak anda. Ya sudah, saya harus menjaga Nyonya agar tidak kabur," ujar Lord memutuskan panggilannya.


"Memangnya siapa mereka, berani-beraninya mengatur hidup ku," gumam Lord memasukkan ponselnya, "Aku akan menjaga Nyonya, dengan caraku sendiri. Tanpa memperdulikan mereka," sambungnya lagi.


Di dalam kelas, tak henti-hentinya Vin memandang wajah cantik wanita di sampingnya. beberapa helai rambut berterbangan di wajah Vera yang sedang fokus mendengarkan penjelasan dari dosen.


"Kak, eh Vin, kenapa memandangku terus? Apa ada yang salah dengan pakaian ku? Atau make up di wajahku ada yang luntur?" tanya Vera yang mengambil cermin kecilnya di tas.


"Tidak ada, wajahmu cantik seperti bidadari. Kenapa tidak dari dulu saja, kamu pindah ke sini. Jadi, hidupku terasa berwarna dan aku bersemangat untuk masuk kampus," gombal Vin.


"Vin, kami modus ya!" tebak Vera tersenyum sendiri. Tidak dapat dipungkiri, pujian yang dilontarkan Vin membuat pipinya bersemu merah.


"Ehh, lihat pipimu. Sudah berubah warna," ucap Vin terkekeh.


"Sungguh?" tanya Vera semakin malu. Dia melihat pipinya yang sudah berubah warna di pantulan cermin.

__ADS_1


"Ahh, malu kan aku!" gumam Vera memanyunkan bibirnya.


Bersambung😘


__ADS_2