Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 129


__ADS_3

"Terimakasih, Put!" jawab Vera kemudian berjalan dan merangkak naik ke bangsal yang sudah di sediakan.


Di saat dokter sedang memeriksa kandungannya, Vera berbisik pada dokter, "Dokter, aku boleh minta tolong?" ucap Vera membuat dokter cantik itu menautkan ke dua alisnya.


"Minta tolong apa, Bu?" tanya dokter tersebut.


"Tolong beritahu ke pria itu, kalau aku keguguran, ya!" ujar Vera memohon.


"Tapi, Bu! Saya tidak--"


"Dok! Saya sedang di culik oleh pria itu. Dia bukan suami saya! Dan pria itu berusaha melenyapkan calon anak saya! Saya mohon, dok! Saya tidak mau terjadi sesuatu pada anak saya!" pinta Vera memohon.


"Ibu yang benar saja! Tapi saya melihat, kalau ibu dan pria itu sangat akrab. Saya pikir kalian pasangan suami istri." jawab dokter tersebut.


"Bukan, dok! Aku butuh bantuan dokter! Dokter bisa kan, bantu aku? Aku tidak mau kehilangan calon anakku! Suamiku bisa marah besar, dok! Aku mohon, dok! Please!" mohon Vera.


"Tapi kenapa ibu tidak lapor polisi atau kabur saja, Bu?"


"Bagaimana aku bisa kabur atau lapor polisi. Saya di kurung di rumah. Bahkan saya tidak boleh keluar rumah sendiri. Saya melakukan semua ini, demi saya dan calon anak saya bisa makan bebas. Dia hampir saja memberiku racun! Aku mohon, dok!"


"Biar saya laporkan pria itu ke security rumah sakit, ya! Saya tidak tega saat mendengar ceritamu!" titah dokter yang mendapat gelengan kecil dari Vera.


"Jangan dok! Aku tidak tahu, kondisi suamiku sendiri bagaimana. Aku takut, anak buahnya sedang mengawasi pergerakan suamiku. Biarkan saja saya bersamanya. Saya akan kabur dengan cara saya sendiri. Tapi, dokter tolong bicara padanya, jika saya keguguran! Saya mohon, dok!"


"Baiklah. Jika keputusan ibu Vera seperti itu. Saya akan membantu ibu!" jawab dokter sambil menampilkan senyum manisnya.


"Terimakasih, dok! Terimakasih! saya tidak akan lupa dengan kebaikan dokter! Saya janji, jika suatu saat saya bebas, saya akan berikan berapa pun uang yang dokter minta! Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya!" ujar Vera sambil meraih dan menggenggam tangan dokter wanita cantik tersebut.

__ADS_1


"Tapi, sebaiknya ibu pura-pura sedih. Karena, biasanya orang habis keguguran akan sedih!" titah dokter lagi.


"Iya, dok! Saya akan lakukan sebisa saya! Saya akan pura-pura sedih!" jawab Vera.


"Semoga ibu Vera baik-baik saja dan selalu di lindungi oleh Tuhan, ya, Bu!" ucap dokter.


"Terimakasih atas doa nya, dok!" jawab Vera merubah posisi tidurnya menjadi duduk.


"Ibu perlahan turunnya!" titah dokter.


Perlahan, Vera menurunkan kakinya ke lantai. Wajahnya yang sempat tersenyum bahagia, kini sudah berubah masam tak enak di pandang. "Kita mulai, ya, dok!" bisik Vera kemudian berjalan menuju putra.


Putra berdiri setelah melihat Vera, "Bagaimana, Ver?" tanya Putra pura-pura cemas.


"Put, hiks ... hiks ..." gumam Vera pura-pura menangis.


"Kenapa, sayang?" tanya Putra menarik tubuh Vera ke dalam pelukannya.


"Dia tidak akan melihat kita! Sekarang, kamu jawab pertanyaanku! Ada apa ini? Kenapa kamu menangis, hem? tanya Putra lalu menata sang dokter.


"Dokter, ada apa ini? Kenapa Vera menangis? Apa yang terjadi padanya?" tanya Putra.


"Maaf, Pak! Kami harus menyampaikan berita buruk! Ibu Vera keguguran!" ujar Bu dokter.


"Aku keguguran, Put! Calon anakku sudah hilang! Dan semua ini karena kecerobohanku! Kalau Mas Dave tahu, pasti dia akan marah besar dan menceraikanku. Aku tidak mau di ceraikan dia!" lirih Vera yang dapat di dengar dokter dan putra.


Putra mengusap punggung Vera berulang kali menyalurkan kekuatan pada wanita tersebut. 'Akhirnya, semua rencanaku berjalan dengan sempurna. Kini, Vera sudah keguguran! Dan aku ... bisa leluasa berdekatan dengannya!' batin Putra. "Yang sabar, Ver! Tuhan sudah mengatur yang terbaik untukmu. Sekarang, kita pulang!" titah Putra. "Dok, terimakasih atas informasinya. Kalau begitu saya dan Vera pamit!" titah Putra.

__ADS_1


"Baik! Sekali lagi, saya turut berdukacita, ya Pak, Bu!" jawab dokter.


"Sebelum kita pulang, boleh tidak ... aku beli es krim dan makanan lainnya. Aku lapar!" lirih Vera menatap wajah pria yang sedang memeluknya.


"Boleh! Kamu boleh beli apa saja yang kamu mau! Sekarang, kita beli es krim, okeh!" jawab Putra dengan senyum manisnya.


"Iya, aku sedih! Tapi aku tidak boleh larut dalam kesedihan. Walaupun aku tahu, Mas Dave akan marah besar padaku!"


"Jika pria itu marah padamu, kamu tenang saja, Ver! Ada aku yang selalu menjagamu! Kamu tidak perlu bersedih!" jawab Putra sambil melangkahkan kakinya keluar ruangan dokter kandungan.


Setelah keluar rumah sakit. Putra langsung menghentikan taksi yang kosong. "Taksi!" teriak putra membuat Taksi yang melintas seketika berhenti. "Masuk! Setelah itu, kita cari makanan yang kamu suka!" titah putra membuat Vera mau tak mau masuk ke dalam taksi.


'Akhirnya, dokter itu mau di ajak kerjasama. Terimakasih, Tuhan ... kau telah memberiku kesempatan untuk merawat anak ini! Ah, entah kenapa ... aku merindukan Mas Dave! Kira-kira, dia sedang apa, ya?' batin Vera.


"Kamu jangan melamun. Aku tahu, kamu shok, tapi mungkin ini yang terbaik untukmu. Bisa saja, Tuhan memiliki rencana lain? Jadi, kamu jangan larut dalam kesedihanmu!" ujar Putra sambil membenarkan rambut Vera ke belakang daun telinga.


"Aku sudah dua kali keguguran dan aku tidak mungkin tertawa, Put!"


"Iya, aku tahu, Ver! Tapi ini musibah. Tidak ada yang mau keguguran, Ver! Sudahlah. Kamu istirahat saja! Sini tidur di pangkuanku!" ucap Putra menepuk-nepuk paahaa nya untuk di tiduri Vera.


"Aku tidak mau tidur! Aku mau calon anakku kembali!" ketus Vera, 'Maafkan ibu, ya, nak! Ibu harus bicara seperti ini agar putra tidak mencurigai ibu!' batin Vera. "Sebenarnya, apa salahku, Put! Kenapa aku sampai mendapat musibah yang bertubi-tubi, sih!"


"Kamu tidak salah! Mungkin saja, ini teguran untukmu! Tuhan tidak suka, kalau kamu mengandung anak dari pria itu!" jawab Putra.


'Bukan Tuhan yang tidak suka, tapi kamu yang tidak suka, Put! Kamu benar-benar pria jahat!' batin Vera.


"Sekarang, dari pada kamu melamun. Lebih baik, kamu tidur, ya! Aku tidak mau ... kamu terus menangis dan bersedih! Jika kita sudah sampai di minimarket. Aku akan bangunkan kamu! Kita cari es krim sama-sama!" titah Putra lagi.

__ADS_1


"Aku tidak mau, Put! Aku sedih! Kenapa semua ini terjadi padaku. Kenapa!" pekik Vera membuat putra menarik tubuh Vera ke dalam pelukan.


"Sudahlah. Jangan bersedih lagi, kamu bisa buat yang baru bersamaku!" ucap Putra


__ADS_2