
Akhirnya, kesabaran Dave habis, setelah berulang kali berteriak memanggil istrinya dari luar kamar.
"Drama apa lagi ini. Seharusnya, sebagai seorang istri yang baik, dia menyambut kepulanganku bukan malah mengabaikan ku seperti ini," gumam Dave, berjalan menuruni anak tangga.
Belum sampai di anak tangga terakhir, dia melihat sahabat sekaligus sekertarisnya yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini, ha!" ujar Dave ketus.
"Aku tidak melakukan apapun di sini. Aku cuma melihat banyak debu di pegangan anak tangga. Jadi, sebagai sahabat terbaik, aku mau membersihkannya," jawab Excel sembari tangannya mengusap lembut pegangan anak tangga itu.
"Dasar tukang nguping! Dimana Bi Tuti?" tanya Dave, melanjutkan langkahnya melewati Excel yang berdiri di salah satu anak tangga rumahnya.
"Ada di dapur. Memangnya, ada apa? Em, aku tebak. Pasti tidak di bukakan pintu kamar oleh istrimu, ya ... kan?" tebak Excel dengan tawa mengejeknya, "Makanya, jadi orang jangan jahil. Ini kan, resikonya," sambungnya lagi.
"Tidak di bukakan pintu? Siapa bilang? Dan siapa yang jahil, hem?" jawab Dave dengan senyum mengejeknya, "Justru, aku dan istriku sedang bermesraan. Bilang saja, kau iri!"
__ADS_1
"Hahaha ... memangnya, aku anak kecil yang gampang kau bodohi? hem? Aku tahu, kalian sedang bertengkar kan?"
"Terserah, mau bilang apa. Aku capek. Lebih baik, diam dan kembali ke kamarmu," ketus Dave berjalan menuju dapur.
Setelah sampai di dapur, Dave langsung mencari keberadaan Bi Tuti yang tak terlihat.
"Dimana dia? kenapa tidak ada? kata Excel dia ada di sini?" gumam Dave mencari setiap sudut dapur.
Setelah lelah mencari dan tidak menemukan keberadaan Bi Tuti, akhirnya Dave berjalan menuju ruang kerjanya. Dia berusaha mencari kunci cadangan pintu kamarnya yang lain, berharap kunci itu sama dengan kunci pintu kamarnya yang sekarang.
Tak terasa, matahari sudah tenggelam dan akan digantikan dengan rembulan serta bintang-bintang yang menghiasi langit malam.
"Astaga, aku sampai lupa waktu. Kira-kira Mas Dave masih di depan pintu kamar tidak, ya?" gumam Vera melepas headset yang bertengger di telinganya, "Apa sebaiknya, aku buka pintu saja. Kasihan Mas Dave, pasti dia kelelahan. Tapi, jika mengingat ucapan Bibi, aku jadi kesal. Berani-beraninya Mas Dave menemui selingkuhannya setelah bersamaku! Memang laki-laki buaya, mentang-mentang mapan sudah mempunyai perusahaan dan caffe, seenak jidatnya mempermainkan hati wanita,"
"Lebih baik, aku tidak usah membukakan pintu untuknya. Aku takut, setelah bersama wanita itu, dia meminta padaku lagi. Enak saja, aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" gerutu Vera, memakai headsetnya lagi. Perlahan dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan memasuki kamarnya.
__ADS_1
Pandangannya tak sengaja melihat pria yang baru saja dibicarakan ada di tepi ranjangnya.
Seakan tak percaya, Vera mengucek matanya berulang kali.
"Aku tidak salah lihat, kan? Itu benar Mas Dave apa makhluk jadi-jadian?" ucap Vera lirih.
Dave yang melihat keterkejutan di raut wajah istrinya, pun tersenyum sinis.
"Heran dengan keberadaanku?" tanya Dave.
'Aku tidak salah lihat kan? Aku ingat betul, pintu kamar itu terkunci dari dalam. Kenapa bisa, Mas Dave ada di sini. Pasti dia marah padaku,' gumam Vera dalam hati.
"Tidak Mas, aku malah senang kamu sudah pulang hehehe ... maafkan aku, Mas. Aku tidak menyambut kepulanganmu," ujar Vera menampilkan senyum kakunya.
"Kemarilah," titah Dave, 'Aku akan menghukummu!' gumam Dave dalam hati.
__ADS_1
Bersambungš