Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 126


__ADS_3

"Kalau tidak takut kenapa keluar kamar, Hem?" tanya Putra terkekeh.


"Sudahlah. Aku keluar kamar salah, bersembunyi salah! Memangnya, apa mau mu, ha!" kesal Vera.


"Baiklah. Sekarang, kita makan! Aku baru saja membeli makanan ini di restoran dekat sini! Sudah lama, kan? Kamu tidak makan, makanan ini?" ujar putra berjalan menuju meja makan dan mengambil dua piring.


Vera terpaku dengan sikap lembut putra. 'Putra memang baik, tapi aku takut ... aku takut, di balik sikap baiknya, terdapat rencana rahasia yang membuatku menyesal seumur hidup!' batin Vera.


"Hei, kenapa melamun! Ayo, makan!" titah putra.


"Sudah berulang kali aku katakan, aku tidak mau makan! Apa telingamu bermasalah!" kesal Vera berusaha masuk ke dalam kamarnya lagi.


Belum sempat Vera masuk ke dalam kamar. Tangan Putra sudah mencegahnya terlebih dahulu. "Kamu mau kemana? Aku minta, kamu makan! Jangan bantah perintahku!" ujar Putra.


"Aku tidak lapar, put!"


"Tapi aku sudah beli makanan ini!"


"Ya tinggal kamu makan aja! Kenapa jadi rumit gini, sih!" kesal Vera.


"Sekali lagi kamu melawanku, aku tidak akan segan-segan berbuat sesuatu yang akan membuatmu menyesal seumur hidup! Mau, hidupmu menyesal, ha?" ancam putra.


"Hem!" jawab vera berjalan menuju meja makan dan menjatuhkan pantatnya di sana. "Sekarang, mana makananku! Setelah itu, jangan ganggu aku! Aku mau tidur!" ketus Vera.


"Kamu tenang saja, sayang! Setelah selesai makan malam. Kamu bisa tidur. Aku tidak akan mengganggu tidurmu!" ujar Putra, 'Kita lihat saja. Aku sudah mencampuri makanan itu dengan obat yang akan membuat suamimu itu meninggalkanmu, Ver! Setelah janin itu pergi, aku pastikan suamimu marah besar dan suamimu itu akan menceraikanmu!' batin Putra.

__ADS_1


'Makanan ini tidak mengandung apapun, kan? Aku takut, Putra memasukkan sesuatu ke dalam makanan ini!' batin Vera.


"Makanlah! Kasihan calon anakmu!" titah Putra dengan senyum manisnya.


"Aku boleh bawa makanan ini ke kamar? Sepertinya aku mual saat berdekatan denganmu, Put! Mungkin bawaan calon anakku!" lirih Vera.


"Kamar? Mual? Jangan bercanda dan jangan membohongiku. Bagaimana kamu bisa mual?" ucap Putra tak percaya.


"Aku serius, Put! Kamu tahu kan? Kalau orang hamil bawaannya sensitif. Tolong kamu mengerti aku, dari pada aku mual terus di dekatmu. Lalu, setiap makanan yang aku lahap keluar terus, bagaimana? Lebih baik, aku makan di kamar."


"Makanlah di sini, biar aku yang pergi!" titah Putra.


"Tidak bisa, Put! Aku rasa, kalau aku tidak napsu makan saat di dekatmu! Biarkan aku pergi ke kamar, ya! Aku janji aku akan menghabiskan makanan ini." pinta Vera memohon.


"Kamu janji, Ver? Aku melakukan semua ini, karena aku tidak mau melihatmu sakit! Apalagi terjadi sesuatu dengan calon anakmu!" titah Putra.


"Baiklah. Aku antar makanan ini ke kamarmu. Kalau sudah habis, kamu bilang ke aku!" titah Putra yang mendapatkan anggukkan kecil dari wanita di hadapannya.


'Tak apalah, aku pura-pura patuh. Daripada aku menentang terus. Lagi pula, aku capek bertengkar!' batin Vera. "Terimakasih, put. Kamu sudah baik padaku, walaupun caramu salah. Tapi, kamu mau memperlakukan aku dan calon anakku selembut ini, aku sangat berterimakasih!" ujar Vera.


"Demi wanita yang aku cintai, aku akan melakukan apapun. Asalkan kamu bahagia, Ver!" jawab Putra, 'Kamu tidak tahu saja, kenapa aku bersikap baik padamu. Setelah kamu keguguran, aku akan lebih leluasa mendekatimu. Dulu, anakku pergi karena suamimu. Dan sekarang, suamimu harus merasakan apa yang pernah aku rasakan dulu!' batin Putra mengambil piring Vera. "Aku antar kamu ke kamar!" titah Putra.


Vera beranjak berdiri lalu berjalan menuju kamarnya di ikuti oleh Putra di belakangnya. 'Aku harus waspada, jangan sampai putra terlalu lama di kamarku!' batin Vera.


Setelah masuk ke dalam kamar Vera, Putra meletakkan piring dan gelas milik Vera di atas meja.

__ADS_1


"Terimakasih, Put! Sekarang, kamu bisa pergi. Aku tidak bisa makan, jika ada kamu di sini!" ujar Vera sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Okeh, aku akan pergi! Kamu habiskan makanan ini, jangan sampai ada yang tersisa." titah Putra berjalan keluar kamar Vera.


Setelah kepergian Putra, Vera langsung mengunci pintu kamarnya. Dia mencari plastik atau tempat yang tidak terpakai. "Aku harus buang makanan ini!" lirih Vera menggeledah laci mejanya yang kosong. "Tapi tidak ada plastik atau tempat lainnya untuk menyembunyikan makanan ini! Aku harus bagaimana?" ujarnya lagi, lalu melihat kaca jendela. Segera, Vera berjalan menuju kaca jendela.


"Di jendela ini, ada pembatas besi. Tapi, jendelanya bisa di buka pelan-pelan. Apa aku buka saja, dan buang makanan ini? Sebaiknya, aku coba! Siapa tahu, Putra tidak menyadari itu!" lirih Vera. Perlahan tangannya membuka kunci jendela dengan hati-hati.


Setelah beberapa menit Vera membuka jendela, akhirnya jendela itu terbuka. Vera berjalan mengambil piring yang berisi makanannya. "Semoga saja, dugaanku benar, kalau di dalam makanan ini mengandung obat atau sesuatu yang membahayakan nyawaku atau calon anakku!" gumam Vera membuang makanannya dan di sisahkan sedikit agar putra tidak mencurigainya.


Setelah selesai, membuang makanan. Vera segera menutup jendela tersebut dan meletakkan makanannya di atas meja.


"Sekarang, semuanya sudah beres. Tapi perutku yang lapar. Bagaimana ini? Aku tidak bisa keluar membeli makanan." lirih Vera mendudukkan pantatnya di tepi ranjang. Tangannya tak henti-hentinya mengusap perutnya yang rata. "Kamu juga lapar, ya, nak!" ujarnya monolog.


Di satu sisi, Dave bermimpi, bahwa istrinya sedang menangis menahan lapar. Mimpinya itu, membuat Dave seketika terbangun.


Keringat membasahi sekujur tubuh Dave, "Mimpi apa itu? Kenapa aku mimpi, Vera menangis dan kelaparan. Apa sekarang, mereka kelaparan? Ya, Tuhan. Jika terjadi sesuatu pada mereka, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri!" lirih Dave turun dari ranjang dan berjalan menuju balkon kamarnya.


Dave menghirup udara malam. Dia menatap lurus ke depan. "Apa yang harus aku lakukan lagi? Aku tidak bisa tinggal diam. Besok pagi, aku harus menemui Zena." gumam Dave.


Sudah 30 menit, putra menunggu Vera selesai makan di ruang tamu. Tapi tak ada tanda-tanda wanita itu keluar dari kamarnya membuat Putra yang tak sabar mengetuk pintu kamar Vera.


Tok ...


Tok ....

__ADS_1


"Ver! kamu baik-baik saja, kan?" tanya Putra, 'Apa obatnya sudah bereaksi?' batin Putra


__ADS_2