
"Aku tidak menyembunyikan apapun dari mu," sambungnya lagi.
"Kau benar, Put?" tanya Vera.
"Untuk apa aku berbohong. Setelah ini, kita mau kemana?" tanya Putra menarik tangannya.
"Kita kemana? Aku ingin memutari seluruh kota ini. Aku bosan di rumah," jawab Vera menyenderkan kepalanya di lengan Putra, "Kamu benar, mencintaiku, Put?" tanya Vera penasaran.
"Ada apa, hem? Sejak kapan aku berbohong. Aku sangat mencintaimu, sayang. Bahkan, Ayah tiri ku akan datang dan melamar mu, agar kau bisa terbebas dari pria itu," jawab Putra, tangannya berusaha meraih dan membelai wajah kekasihnya.
"Kau bohong kan, Put?" tanya Vera, seketika kepalanya terbangun dan menatap wajah kekasihnya dari samping.
"Tunggu saja sampai Ayah ku datang," titah Putra tersenyum melirik sekilas wanita di sampingnya.
"Kau serius, ingin melamar ku, Put?" tanya Vera sekali lagi sambil menggoyangkan tubuh kekasihnya.
"Hei, ada apa denganmu, sayang? Kenapa terlihat sangat shock!" ujar Putra, salah satu tangannya memegang tangan Vera yang sedang mengguncang tubuhnya.
"Ada apa denganku? Aku tidak ada apa-apa. Aku hanya terkejut," ucap Vera lirih, perlahan guncangan yang diberikan oleh Vera tiba-tiba terhenti.
"Aku tidak akan main-main, semua yang baru saja aku ucapkan, benar apa adanya," ujar Putra, "Dan selamat, akhirnya hubungan kita akan disatukan dalam ikatan suci. Mulai sekarang, kau harus patuh denganku, sayang," sambungnya lagi.
'Lalu, bagaimana dengan Mas Dave? Aku tidak mungkin meninggalkannya. Aku tidak mau kehilangannya, tapi aku juga tidak mau kehilangan Putra. Bagaimana ini ...,' batin Vera cemas.
Melihat wajah wanitanya tampak lesu dan pucat, seketika Putra langsung meraih dan memenangkan kekasihnya.
"Kau tenang saja, sayang. Ayahku baik, kau tidak perlu takut atau cemas," ujar Putra yang baru saja menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Sayang, hei ... sayang, ada apa? Kenapa--"
"Put!" ucap Vera memeluk kekasihnya, "Aku bingung, Put. Aku bingung, hiks ... hiks," sambung Vera.
"Bingung kenapa, sayang? Coba ceritakan semuanya. Aku akan mendengarkan semua keluh kesahmu," ujar Putra mengusap dan membiarkan wanitanya menangis dalam pelukannya.
"Aku tidak bisa menceritakan semuanya. Kau harus tahu, setelah keluargaku meninggal, hidupku hancur, Put. Hancur!" ucap Vera.
"Kenapa tidak bisa? Apa ini semua berhubungan tentang pria yang memungut mu, itu?" tanya Putra.
__ADS_1
'Maafkan aku Put, aku tidak bisa menceritakan semua padamu. Aku tidak mau, kamu kecewa atau membenciku. Aku takut itu, Put!' batin Vera melepas pelukannya.
"Aku tidak apa-apa. Aku lelah, sewaktu keluargaku meninggal, aku tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini. Dan aku hanya berharap padamu, tapi kamu malah menghilang bagai ditelan bumi," jawab Vera memanyunkan bibirnya yang tipis.
"Maafkan aku sayang, sebenarnya aku sudah mencarimu, tapi--"
"Ya sudah, jangan dibahas. Aku ada kabar buruk untuk kita," timpal Vera cepat,
"Buruk? Apa itu?" ucap Putra mengusap sisa air mata yang masih menempel di pipi kekasihnya.
"Aku mendapatkan pekerjaan di perusahaan tadi--"
"Bukan kabar buruk sayang, melainkan kabar bahagia," timpal Putra.
"Tunggu sebentar sayang, aku belum selesai bicara. Memang ini kabar baik, tapi berujung buruk di hubungan kita," ucap Vera dengan nada kesal.
"Memangnya ada apa?"
"Waktu, kita tidak mempunyai waktu, kita akan sulit bertemu, setelah selesai kampus, aku harus kembali bekerja. Dan, kemungkinan besar, kita akan jarang bertemu. Aku tidak mau, Put! Bagaimana jika wanita itu semakin mendekati dan mencuri hatimu dari aku. Aku tidak mau kehilangan kamu," keluh Vera.
Mendengar rengekan manja dari kekasihnya, Tiba-tiba Putra tertawa lebar, dia menggenggam erat tangan wanitanya itu.
"Aku takut, Put!" jawab Vera kesal, dia meraih tangan kekasihnya yang sedang berada di wajahnya, “Aku takut, setelah aku sibuk dengan pekerjaanku, kau akan terbiasa tanpa aku dan mulai tumbuh rasa suka atau nyaman dengan wanita itu. Aku tidak suka, Put!"
"Sudah, sudah, jangan takut. Aku tidak akan pergi darimu. Aku akan tetap bersamamu, sayang," ujar Putra menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukannya.
'Maafkan aku sayang, aku memang serius denganmu, tapi aku juga membutuhkan selingan wanita seperti Putri,' batin Putra dengan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
***
Di satu sisi, dari kejauhan mobil Dave terparkir di pinggir jalan. Pandangan matanya selalu fokus pada mobil yang terparkir tak jauh darinya.
Sudah 20 menit, mobil putih itu terparkir di pinggir jalan membuat Dave seketika mencemaskan keadaan istrinya.
"Kita turun lalu ketuk pintu mobilnya saja, Dave," titah Excel yang sudah merasakan jenuh dengan situasi.
'Jika aku ketuk mobilnya, pasti mereka akan bertanya-tanya padaku. Aku tidak bisa,' batin Dave.
__ADS_1
"Aku tidak mau mengganggu urusan mereka. Mungkin, mereka sedang berbicara serius, lebih baik kita tunggu saja di sini," jawab Dave tanpa menoleh pria sampingnya.
"Sampai kapan Dave? Kita hampir setengah jam di sini. Aku mulai jenuh!" ucap Excel kesal.
"Jika jenuh, kau bisa pergi dari mobilku."
"Kau mengusirku?" ucap Excel tak percaya, "Kau mengusir sahabatmu sendiri? Bagaimana, jika di tengah jalan, aku di goda oleh wanita muda dan sexy, aku tidak bisa membayangkan semua itu," sambung Excel.
"Aku akan berterimakasih dan memberikan sejumlah uang untuk wanita muda dan sexy itu karena sudah mau memungutmu," ucap Dave melirik jam di pergelangan tangannya.
Setelah satu jam menunggu dengan pikiran yang bercampur aduk. Akhirnya, Dave mengambil ponsel dan mencari nama istrinya, di dekatkan ponsel miliknya ke telinganya.
Tut ...
Tut ....
Beberapa kali, panggilannya tidak dijawab oleh istrinya, membuat emosi dan perasaan Dave bercampur aduk.
"Dave, kau mau kemana?" tanya Excel saat melihat Dave keluar dari mobilnya.
"Dave! Jangan gegabah!" teriak Excel.
Seakan tuli, Dave berjalan menuju mobil putih yang diketahuinya mobil yang ditumpangi oleh istrinya.
"Tunggu Dave!" cegah Excel, "Tunggu! Kau mau apa, ha!" sambungnya lagi.
"Aku ingin melihat--"
"Sialll!" umpat Dave saat mobil putih itu mulai berjalan.
"Kau! Kau sudah membuat mereka pergi!" pekik Dave berjalan dan memasuki mobilnya.
"Dave! Tunggu! Aku ikut!" teriak Excel di saat mobil Dave berjalan dan meninggalkannya seorang diri.
"Ahhh ... siaaall! Kenapa aku ditinggal!" maki Excel menendang kerikil dan tepat mengenai kepala orang gila yang tengah melintas.
"Heheh ... kau ... kau siapa kau! anak tidak bejus! tidak tahu diri!" ucap orang gila memegang kepalanya dan menghampiri Excel yang tengah kesal.
__ADS_1
Melihat orang gila tersebut menghampirinya, tiba-tiba wajah Excel pucat dan berlari menjauhi orang gila.
Bersambung😘