
"Aku tidak tahu. Biarkan saja, mungkin dia mempunyai urusan lain di kantor. Kita tidak bisa memaksanya," titah Dave diangguki Vera.
"Iya Mas, lagi pula semua yang kamu ucapkan benar. Mungkin, dia mempunyai urusan lain. Ya sudah, ayo kita pulang," ajak Vera berjalan mendahului Dave yang tengah mengambil kunci mobil.
Di sepanjang perjalanan pulang, tidak ada percakapan antar keduanya, hanya keheningan yang menemani situasi mereka di dalam mobil.
'Apa benar, aku tidak diperbolehkan lagi ke kampus. Dan aku, akan menjadi tahanan di rumah. Jika benar, bukankah aku senang? aku tidak akan lagi melihat wajah Putra yang sudah membohongiku, tapi kenapa aku bersedih ya? aku merasa tidak mempunyai teman lagi, aku merasa seperti burung di dalam sangkar,' batin Vera memandang pepohonan di pinggir jalan.
"Sebelum kita pulang, lebih baik ... kita ke Mall dan berbelanja keperluanmu untuk satu bulan," titah Dave memecahkan keheningan.
"Tidak perlu Mas, kita bisa beli di mini market terdekat atau warung, jika ada warung," ujar Vera.
'Kenapa lagi, kenapa raut wajahnya sangat sedih. Apa berpisah dengan Excel membuat moodnya memburuk?' batin Dave melirik sekilas istrinya.
"Mas, Mas Dave benar, mau meminta dosen untuk datang ke rumah? biayanya cukup mahal, Mas. Aku tidak mau Mas Dave terbebani, lebih baik aku masuk ke kampus lagi. Dan aku tidak akan membolos, aku janji Mas. Aku sudah putus dengan Putra, untuk apa aku membolos, Mas?" ucap Vera panjang lebar.
"Masalah biaya, jangan dipikir. Sekarang, aku tanya. Apa semua aturanku membuatmu menjadi begini? Diam dan suka melamun?" tanya Dave.
"Iya Mas, aku merasa bahagia, aku bisa dipungut oleh Mas Dave dan dijadikan istri. Tapi, aku juga merasa menderita jika harus berdiam diri di rumah. Bagaimana aku bisa memiliki teman, dan bagaimana ... aku bisa mengetahui jalanan di kota ini. Aku ingin bebas seperti wanita lainnya, bebas melakukan apa saja, bebas bergaul dengan siapa saja asalkan tahu batasan dan bebas pergi kemana saja tanpa ada pengawalan yang ketat seperti anak TK," curhat Vera.
"Tapi Mas Dave tidak perlu khawatir, mulai sekarang aku akan mengikuti semua perintah Mas Dave, sesuai dengan perjanjian kita. Aku akan menjadi istri jika di atas ranjang, dan menjadi teman yang baik jika seperti ini. Aku tidak berharap lebih denganmu, Mas! karena bagiku, kau adalah langit. Langit yang susah aku gapai, langit yang terkadang memberi awan mendung untuk meminta dunia, bahwa--"
"Cukup, aku tidak mau mendengar jawabanmu yang panjang itu. Sekarang ikutlah aku, aku akan membawamu ke Caffe," potong Dave membuat Vera terdiam.
'Bahkan Mas Dave saja tidak mau mendengar ocehanku. Asal kalian semua tahu, aku menjalani hubungan gelap dengan Putra karena, aku merasa Putra bisa mendengar semua keluh kesahku. Bisa membuat hatiku tenang dan nyaman. Semua yang aku ucapkan akan di dengar dan mendapat jawaban yang memuaskan. Aku tahu Mas Dave memang lebih kaya dan mapan dari Putra, tapi aku hanya merasakan sedikit kebahagiaan jika didekat Mas Dave, kebahagiaan saat Mas Dave memuaskan ku di atas ranjang. Sudahlah, lupakan Putra, ingat dia sudah membuat hatimu sakit, mulai sekarang ... belajarlah mencintai suamimu. Karena bagaimana pun, suamimu telah berjasa di kehidupanmu. Tapi maaf Mas, aku belum siap hamil anakmu. Aku masih muda, dan aku tidak mau mempunyai anak dulu, semoga kamu mengerti Mas. Lagi pula perjanjian itu sudah tidak berlaku lagi, karena aku dan Putra sudah putus,' gumam Vera dalam hati.
__ADS_1
"Ver? kenapa diam saja. Ayo turun!" titah Dave saat melihat istrinya diam melamun.
"Eh, sudah sampai Mas?" tanya Vera yang baru saja tersadar dari lamunannya.
"Kita turun sebentar, setelah itu ... kita pulang ke rumah," titah Dave yang mendapat anggukan dari Vera.
"Iya Mas," jawab Vera melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobilnya.
'Huaaa ... hari terakhirku melihat kota ini.' batin Vera setelah turun dari mobil.
"Mas, kita makan yuk. Aku lapar lagi," rengek Vera setelah suaminya merangkul pundaknya.
"Makan? Bilang saja pada Alexa, dan Alexa akan menyiapkan semua pesanan yang kamu minta," titah Dave berjalan memasuki caffe bersama Vera.
"Hei, boleh lihat menu makanannya?" tanya Vera pada Alexa.
Alexa melihat penampilan wanita yang tiba-tiba berada di depannya, kemudian matanya tertuju pada seorang pria yang tak jauh keberadaannya sedang menatapnya, lalu menganggukkan kepala.
"Tunggu sebentar, Nona bisa duduk di kursi kosong VIP," titah Alexa yang mendapat gelengan dari Vera.
"Aku tidak mau ruangan VIP, aku akan duduk di ujung sana. Sekalian menikmati pemandangan dan keramaian di caffe ini," jawab Vera menepuk pundak karyawan suaminya berulangkali lalu melanjutkan langkahnya menuju ujung meja yang kosong.
'Aku tidak sanggup menjadi burung di sangkar emas. Aku harus memanfaatkan waktuku untuk menikmati semua makanan dan suasana kota ini. Sebelum aku tiba di rumah dan tidak bisa keluar masuk dengan sembarangan lagi,' batin Vera.
"Nona, ini menu makanannya, silahkan Nona pilih biar saya yang mencatat," ujar Alexa memberikan satu buku menu makanan Caffe nya.
__ADS_1
"Terimakasih," jawab Vera tersenyum manis dan perlahan membuka mencari makanan yang dia sukai.
'Jika dilihat-lihat, wajah istri boss dari dekat mirip sekali dengan nana. Hanya sedikit perbedaan dari penampilan serta sikapnya.' batin Alexa, 'Tapi bos pintar memilih istri, masih muda dan tubuhnya juga seperti model.' sambungnya lagi.
"Alexa, aku mau mie, ada?" tanya Vera setelah melihat beberapa menu makanan yang membuatnya bosan. Aku bosan dengan ayam, seafood, dan lainnya. Aku mau mie instant atau spageti. Intinya yang berbau mie," pinta Vera menutup buku menunya.
"Dan minumannya aku mau red wine, tapi rahasiakan ini dari Mas Dave ya? aku sengaja duduk di ujung agar Mas Dave tidak tahu. Tolong ya, Alexa."
"Bagaimana jika bos marah?"
"Saya tidak berani Nona, saya minta maaf," ucap Alexa menundukkan kepalanya.
"Mas Dave mengizinkanku meminum alkohol, hanya saja tidak boleh terlalu banyak dan jangan di luar rumah. Maka dari itu, mumpung aku di sini, bolehkan ... aku meminta semua itu?"
"Baiklah, jika bos mengizinkan, saya akan buatkan pesanan anda. Kalau begitu, saya permisi dulu." titah Alexa membungkukkan setengah badannya.
"Eh tunggu dulu, Mas Dave dimana?"
"Bos sedang di lantai atas, jika Nona ingin menemuinya silahkan, biar saya antar," titah Alexa mendapat gelengan dari Vera.
"Tidak usah, aku tidak mau mengganggu pekerjaan Mas Dave. Lebih baik, aku tunggu di sini dan menunggu pesananku," ucap Vera.
"Baik, saya permisi," jawab Alexa kemudian pergi dari hadapan Vera.
Bersambungš„°
__ADS_1