
Setelah beberapa menit mobil yang ditumpangi Vera dan Dave membelah jalanan kota. Akhirnya, mereka sampai di depan gedung yang menjulang tinggi dengan puluhan lantai.
"Kita di mana Mas? Ini kantor siapa?" tanya Vera setelah keluar dari mobil.
"Ikut aku!" titah Dave merapikan jas nya dan berjalan memasuki perusahaan yang bergerak dibidang entertainment.
"Selamat siang, Tuan ...," ucap Pak satpam yang berjaga di depan pintu lobby.
"Siang Pak," jawab Dave singkat.
Melihat istrinya berjalan dengan sangat lambat, akhirnya Dave menarik dan meminta istrinya untuk melingkarkan tangannya pada lengan kekarnya.
"Mas, jangan bilang ... ini perusahaanmu?" tanya Vera menatap semua karyawan yang sedang memberikan hormat kepada suaminya.
"Ikut saja! Kali ini, aku akan menjadikanmu bintang," ucap Dave berjalan menuju lift.
"Bintang? Apa maksud, Mas? Aku akan menjadi artis?" tanya Vera tidak percaya.
"Ikuti saja aku," titah Dave masuk ke dalam lift diikuti Vera di sampingnya, kemudian Dave memencet tombol angka 10 dan pintu lift tertutup sempurna.
"Aku tidak percaya dengan ucapanmu, Mas," gumam Vera menatap wajah suaminya dari samping.
"Jangan mempercayaiku, lebih baik kita buktikan saja. Maaf, aku sempat ketus di restoran, aku tidak mau Excel mengoceh dan membuat mu tersipu malu," ujar Dave.
'Apa! Apa yang aku dengar barusan benar? dia meminta maaf padaku. Baru pertama kali, aku mengucapkan kata maaf padaku. Oh sungguh senangnya,' batin Vera terkikik.
"Tidak apa-apa Mas, aku tahu, kok," jawab Vera mengeratkan rangkulannya.
Ting ...
Pintu lift terbuka, mereka langsung melangkah kakinya menuju ruangan yang bertulis "Meeting Room" di depan pintu.
"Selamat siang, Tuan Dave," ucap salah satu klien bisnisnya.
"Maaf saya sedikit terlambat," jawab Dave menjabat tangan kliennya.
__ADS_1
"Mari kita mulai meetingnya," ucap Dave kemudian memerintahkan klien dan istrinya duduk.
'Kenapa jantungku berdegup kencang, saat Mas Dave memperlakukan aku semanis ini,' batin Vera menatap suaminya yang sedang presentasi di depan kliennya.
Setelah selesai berprestasi di depan semua kliennya, Dave pun berjalan dan duduk di samping Vera, kedua sudutnya tertarik ke atas membalas senyuman Vera.
'Asli, aktingnya sangat pintar. Dia bahkan membalas senyumanku. Padahal, sebelumnya dia tidak pernah senyum kepadaku,' batin Vera memalingkan wajahnya.
"Jadi, siapa yang akan menjadi model untuk acara fashion show di akhir pekan ini?" tanya klien.
"Saya sudah menyiapkan model. Dan menurut saya, dia sangat mahir dalam memperagakan beberapa gaya," jawab Dave.
"Apa, wanita yang anda bawa? Tuan Dave?"
"Dia akan menjadi pasangan saya di event akhir pekan ini, mewakilkan perusahaan saya," jawab Dave membuat Vera terkejut, seketika pandangannya menatap suaminya.
'Sungguh? Aku tidak bermimpi? Aku akan menjadi pasangan dari suamiku sendiri?' batin Vera.
"Jika, itu semua keputusan Tuan Dave, saya setuju. Saya senang bisa bekerjasama dengan Tuan, karena di saat perusahaan saya bekerjasama dengan Tuan, saya mendapatkan untung yang berlipat ganda," ucap klien.
"Selamat untuk Nona Vera, saya harap ... kita bisa menjadi partner kerja yang baik untuk kedepannya," ujar Dave bangkit dari duduknya, kemudian mengulurkan tangannya pada Vera.
"Hehe ... terimakasih Tuan, saya juga senang bisa bekerjasama dengan anda," jawab Vera menerima jabat tangan suaminya.
"Sama-sama,"
"Rapat kita berakhir, jika ada yang perlu ditanyakan, tanyakan saja," titah Dave menjatuhkan bokongnya lagi.
'Dengan begini, aku tidak perlu susah payah menanyakan keberadaannya setiap saat. Dan aku tidak perlu khawatir, jika dia mengkhianati ku dari belakang. Aku akan pastikan, jadwal mu semakin hari semakin padat,' batin Dave melirik sekilas wanita di sampingnya.
Setelah rapat berakhir, dan semua klien meninggalkan ruangan meeting, kini tersisa hanya Vera dan Dave.
Mencegah suaminya pergi, bukanlah hal yang sulit bagi Vera. Menanyakan maksud dan tujuan suaminya yang tiba-tiba memberikan pekerjaan untuknya, bukankah dia harus fokus pada kuliahnya.
"Mas, bagaimana dengan kuliahku?" tanya Vera frustrasi, 'Bagaimana jadwal kencanku dengan Putra?' batin Vera menjerit.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? pekerjaan yang aku tawarkan hanya freelance, setelah mata kuliah mu selesai dan ada job, maka hari itu juga, kau di panggil," jawab Dave santai, tangannya dimasukkan ke saku celana kainnya.
"Aku kesusahan membagi waktunya, Mas," keluh Vera, berharap ada keajaiban atau hidayah yang diturunkan untuk suaminya.
"Bukankah, sewaktu di lift--"
"Berbeda Mas, aku pikir kamu akan memintaku untuk menjadi konten kreator atau lainnya. Atau mungkin, kamu akan memintaku melakukan fashion show sekali untuk melambungkan namaku. Bukan seperti ini, aku harus melakukan sesi pemotretan denganmu, menjadi salah satu model di akhir pekan, menjadi model di setiap acara perusahaanmu," gerutu Vera menghentakkan kedua kakinya bergantian.
"Sama saja. Mulai sekarang, belajarlah mandiri jangan pernah mengandalkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupmu, karena sisa umur tidak ada yang tahu."
"Tapi aku harus fokus pada kuliahku Mas, aku baru beberapa hari kuliah, dan sekarang ... aku harus bekerja separuh waktu. Belum lagi, kalau ada tugas kuliah. Bisa-bisa, aku gila."
"Kenapa, setelah semuanya berakhir, kau baru berbicara. Kenapa sebelum kau tanda tangan kontrak itu, kau protes. Mungkin, kau tidak akan dilibatkan dalam masalah ini," ucap Dave beranjak dari tempat duduknya.
"Aku tergiur dengan nominal yang tercantum di dalam kertas perjanjian itu," gumam Vera menundukkan kepalanya.
"Dan sekarang, kau harus menerima konsekuensinya. Aku tidak pernah memaksamu untuk menandatangani kontrak kerja itu. Jadi, bersiap-siaplah untuk--"
"Ah, sudahlah. Aku cape Mas, aku mau pulang," potong Vera cepat, 'Dan aku harus menghubungi Putra, aku harus menjelaskan semuanya, karena dalam waktu beberapa hari ini, jadwal ku sangat padat,' batin Vera beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar ruangan meeting.
"Kita pulang bersama, pekerjaan ku sudah selesai," titah Dave menarik tangan istrinya secara paksa.
"Mas, Mas tidak boleh seperti ini! Aku mau pulang sendiri! Aku sudah memesan taksi online," tolak Vera berusaha menepis tangan suaminya yang menggenggam erat.
"Ikut aku, aku akan membayar taksi online itu. Di mana, taksi online itu!" jawab Dave memasuki liftnya.
'Aduh, aku belum memesan taksi online itu. Aku kan hanya ingin berbohong pada Mas Dave, kenapa semuanya menjadi rumit. Aku hanya ingin bertemu dengan Putra, sudah itu saja,' batin Vera.
"Kenapa diam saja? Atau, Jangan-jangan ... kau berbohong padaku?" tebak Dave membuat Vera semakin gugup.
"Tidak Mas, aku tidak mungkin berbohong padamu. Tiba-tiba taksi online nya membatalkan orderannya," jawab Vera memasukkan ponselnya ke tas.
"Oh, membatalkan atau belum memesan," sindir Dave menatap lurus kedepan.
"Apaan sih Mas."
__ADS_1
Bersambungš