
Setelah melakukan penerbangan. Kini Vera dan putra telah sampai di negara Indonesia tepatnya di bandara yang berada di kota Jakarta.
"Sekarang kita turun. Hari sudah malam dan aku akan bawa kamu ke tempat yang tidak mungkin orang lain ketahui!" titah putra mengulurkan tangannya.
Vera menatap sekilas uluran tangan putra, dia beranjak berdiri dan berjalan keluar pesawat seorang diri.
"Aku harus kabur! Tapi bagaimana caranya! Jangan sampai putra menyadari kepergianku!" lirih Vera.
"Ver, jangan cepat-cepat!" titah Putra berjalan di belakang Vera.
Setelah turun dari pesawat, Putra menggandeng tangan Vera keluar bandara.
"Kita mau kemana, Put?" tanya Vera setelah tangannya di pegang erat oleh pria yang telah membawanya.
"Sudah ku bilang, kita akan pergi ke tempat yang jauh, ke tempat orang-orang tidak bisa mencari kita!" titah Putra.
"Aku tahu, tapi kita mau pergi kemana? Ke tempat jauh, mana? Semuanya harus jelas!" kesal Vera.
"Ikut saja, sayang!"
"Jangan panggil aku, sayang! Aku tidak suka!" ketus Vera.
"Kenapa? Bukankah, panggilan sayang panggilan kesukaanmu. Kamu selalu marah, jika aku memanggilmu dengan sebutan lain?" tanya Putra sambil mengingat-ingat masa lalu nya bersama Vera.
"Aku sudah lupa dan aku tidak mau mengingatnya lagi!' Aku mau ke rumah kak Zena saja!" ujar Vera.
"Jangan dong, sayang! Kalau kita ke rumah kakakmu. Nanti, suamimu itu bisa tahu keberadaan kita! Sebaiknya, kita cari rumah yang jauh dari kota!" cegah Putra yang mendapat gelengan kecil dari wanita di sampingnya.
"Aku sedang hamil anak orang, Put! Kita tidak bisa tinggal satu atap apalagi di negara hukum seperti ini. Aku tidak mau membuat masalah!"
"Tapi aku lebih suka membuat masalah di sini sayang. Karena tetangga atau masyarakat sekitar sangat sensitif dengan kata se atap! Bila perlu, kita lakukan hal yang membuat mereka--"
__ADS_1
"Cukup! Aku sudah menikah, dan aku sudah bertaubat. Aku tidak mungkin melakukan hal gila bersamamu. Aku mencintai suamiku!" potong Vera.
"Mencintai?" gumam Putra mengeratkan genggamannya membuat Vera mengadu kesakitan.
"Aw ... sakit! Lepas, put!" ujar Vera berusaha menepis tangan putra.
"Buang jauh-jauh kata-kata mencintai itu! Karena sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkanmu kembali ke pelukan suamimu. Kita ini di takdirkan berjodoh, Ver!"
"Tidak! Kita hanya masalalu yang seharusnya tidak pernah ada. Dan aku menyesal pernah mencintai pria sekejam dirimu!" ketus Vera.
Putra menghentikan taksi, dia meminta Vera untuk masuk ke dalam Taksi.
"Masuklah!" titah putra.
"Aku tidak mau masuk! Aku mau ke rumah kak Zena!" pekik Vera.
"Masuk! Atau aku dorong, supaya terjadi sesuatu dengan janin yang ada di dalam kandunganmu!" ancam Putra.
"Lagi dan lagi kamu mengancamku, Put! Aku tidak percaya, kalau kamu mengancamku!" ujar Vera yang mau tak mau, masuk ke dalam Taksi di ikuti oleh putra yang duduk di sampingnya.
"Kita mau jalan kemana, Mas?" tanya supir taksi.
"Sudah jalan saja! Aku akan beri petunjuk arahnya!" titah Putra lagi.
"Baik, pak!" jawab supir taksi yang langsung menancapkan gas mobilnya.
"Kamu mau bawa aku kemana, Put!" tanya Vera dengan emosi yang memuncak. "Aku sudah cukup sabar menghadapi sikapmu, tapi kamu semakin kesini semakin memperlakukanku seenaknya sendiri!" sambungnya lagi.
"Kamu tidak perlu tahu, kita pergi kemana, sayang! Yang harus kamu tahu, aku akan selalu ada di sisimu! Kamu tenang saja!" jawab Putra sambil mengusap rambut Vera yang panjang.
"Jangan sentuh aku! Aku tidak suka di sentuh pria sepertimu! Aku wanita bersuami, Put!" kesal Vera menggeser satu jengkal duduknya.
__ADS_1
"Suamimu tidak akan mencarimu. Aku tahu, suamimu seperti apa! Apalagi dia mempunyai simpanan seorang dokter cantik! Jadi, lupakanlah dia ... dan hidup bahagia bersamaku! Aku berjanji, aku akan melakukan apapun. Asalkan kamu selalu ada di sisiku!" titah putra.
"Suamiku tidak mungkin seperti itu! Dia sangat menyayangi aku dan calon anaknya!" ucap Vera.
"Kalau tidak percaya, kamu bisa buktikan sendiri. Setelah hilangnya kamu, apa dia akan mencarimu? Kemungkinan terbesar, dia tidak akan mencarimu. Karena sudah ada dokter cantik itu yang akan menggantikan posisimu!"
'Apa yang di katakan putra ada benarnya juga! Mas Dave kan berselingkuh di belakangku. Dia mempunyai wanita simmpanan yaitu dokter cantik. Sewaktu memeriksa kandunganku saja, dokter itu menemui Mas Dave. Apa benar, Mas! Kamu tidak akan mencari kita? Mencariku dan calon anak yang ada di dalam perutku ini?' batin Vera. 'Semoga saja ucapan putra tidak benar. Walaupun kamu mempunyai simpanan, tapi kamu masih perduli dan perhatian pada ku dan juga calon anak kita, Mas!'
"Kenapa melamun, Ver? Ucapanku benar, kan?" tanya Putra dengan senyum mengejeknya.
"Tidak mungkin. Aku tahu sendiri bagaimana sikap dan sifat suamiku. Dan kau tahu, dari mana tentang perselingkuhan suamiku dengan dokter cantik itu?" tanya Vera.
"Hahaha ... jangan tanyakan hal konyol itu. Kamu tahu aku, kan? Setiap hari, aku selalu memantau gerak gerik kalian termasuk suamimu sendiri. Jangan terkejut, tapi aku lakukan semua ini demi kamu, Ver! Aku tidak mau, setiap hari kamu makan hati melihat tingkah laku suamimu yang bejaad!"
"Cukup! Jangan mengatakan apapun lagi. Aku capek! Aku mau istirahat!" ketus Vera memalingkan wajahnya menatap pepohonan di pinggir jalan. 'Kota ini mempunyai banyak kenangan pahit. Aku tidak menyangka akan kembali ke kota ini lagi dengan nasib yang buruk!' batin Vera.
Tak sadar sudah 30 menit Vera menatap pepohonan di pinggir jalan.
"Kita sudah sampai!" titah Putra setelah berada di depan rumah yang tak terlalu mewah dan sepi penduduk.
"Sampai?" gumam Vera menatap penampakan rumah di hadapannya. "Kamu bawa aku ke tempat sepi seperti ini? Apa tidak ada tempat lagi selain di sini, Put! Lihatlah, di tempat ini belum banyak penghuninya."
"Itu yang aku cari. Agar kita bebas bersembunyi!" jawab putra ringan.
"Kamu keterlaluan, Put! Mau sampai kapan kamu terobsesi denganku! Kamu sudah menghammili Putri. Seharusnya, kamu nikahi dia bukan membawaku kabur!" kesal Vera.
"Aku tidak mencintai dia, wanita yang aku cintai hanya kamu, sayang! Sekarang, kita turun dan lihatlah rumah di hadapan kita!" titah Putra.
"Pak, antarkan aku ke--"
"Turun!" potong Putra.
__ADS_1
"Aku tidak mau, aku mau pulang ke rumah kak Zena. Aku tidak mau tinggal satu atap denganmu!" pekik Vera.
"Turun, atau aku akan meminta semua warga di sini untuk menikahkan kita secara paksa, Kamu mau, kita nikah sekarang juga! Aku bisa saja mengakui anak itu sebagai anakku. Karena kamu tidak punya bukti pernikahanmu dengan pria tua itu!" ancam putra yang lagi dan lagi membuat Vera pasrah.