
'Ini semua karenamu, Excel! Aku akan membalasmu, perbuatanmu!' gumam Dave dalam hati, kemudian berjalan keluar kamar.
Melihat suaminya pergi dengan menahan kesal. Tawa Vera seketika pecah, "Hahaha ... rasain Mas! Memangnya enak menahan sesuatu yang sudah berdiri tegak? Sekali-kali, aku berdosa dengan suami sendiri," ujar Vera, memakai pakaiannya.
Setelah selesai memakai pakaiannya, Vera berjalan keluar kamar. Dia mencari sosok suaminya yang tidak terlihat lagi.
"Dimana Mas Dave?" gumam Vera sembari menuruni satu persatu anak tangga.
Sampai di lantai dasar, Vera belum juga melihat suaminya. Justru, dia melihat dosennya yang sedang menguap.
"Pak?" panggil Vera, "Maaf sudah menunggu lama. Tapi, aku sedang sibuk. Boleh, aku bolos?" tanya Vera ragu.
"Bolos?" gumam dosen dengan raut wajah yang tak bisa diartikan.
"Saya sudah lama menunggu, dan sekarang ... kamu bilang mau bolos? Kenapa, tidak bicara sedari tadi? Kamu ini sengaja mau mengerjai saya, hah! Saya akan memberikan nilai D untukmu!" ketus Pak dosen, lalu meraih tas dan berjalan keluar rumah Dave.
Melihat Pak dosennya marah dan akan memberikan nilai D, membuat mata Vera membulat sempurna. Dengan cepat, dia berlari menghampiri pria paruh baya yang sedang menahan kekesalannya.
__ADS_1
"Pak tunggu! Sekarang, kita masuk. Aku mau belajar, aku mau--"
"Nilai mu menjadi E, karena sudah berani merayu saya!" ketus Pak dosen, membuat langkah Vera terhenti.
'Apa? E? Benar-benar dosen menyebalkan. Awas saja, pak! Aku akan adukan ini pada Mas Dave!' gumam Vera dalam hati, "Pak! tunggu! Aku tidak merayu Bapak. Aku hanya mengubah keputusanku, saja. Aku mau belajar, Pak! Tunggu!" teriak Vera, menghentikan langkah kaki Pak dosen.
"Besok saya ingin bertemu dengan walimu. Saya ingin membicarakan nilaimu yang sama sekali jauh dari rata-rata,"
"Eh, mana ada, Pak! Aku selalu mengerjakan semua tugas dari Bapak! Bapak saja, yang tidak mau menerima tugasku," jawab Vera ketus.
"Iya, karena kau mengumpulkan lebih--"
Brak!
"Lama kelamaan aku kesal. Aku sudah berbicara baik-baik, tapi Pak tua itu tidak mendengarkanku! Dan ini, kemana Mas Dave. Dia bilang, mau liburan kantor, tapi aku tidak melihat batang hidungnya. Apa jangan-jangan Mas Dave sedang menuntaskan hasraatnya dengan wanita lain!" gumam Vera, perlahan tangannya mengepal erat. Kakinya mulai berjalan mencari keberadaan suaminya.
"Mas Dave! Mas Dave dimana?" teriak Vera menuju ruang kerja suaminya.
__ADS_1
"Bi, Mas Dave dimana?" tanya Vera saat melihat pelayan rumahnya yang sedang mengepel lantai.
"Nyonya, Tuan baru saja pergi dengan Den Excel." jawab Bibi.
"Pergi kemana, Bi?" tanya Vera, menjatuhkan bokongnya di kursi.
"Em, saya kurang tahu. Mungkin, ke kantor. Karena, saya melihat mereka tergesa-gesa."
"Oh, apa Mas Dave marah Bi?" tanya Vera penasaran.
"Marah? Tuan tidak marah sekalipun. Bahkan Tuan tersenyum," jawab Bibi.
"Tersenyum? memangnya, dia sedang bahagia?"
"Saya kurang tahu, Nyonya. Tapi, tadi saya lihat, Tuan sedang bertelfonan dengan Nona El, mungkin mereka akan bertemu. Karena, samar-samar saya mendengar Tuan seperti menyebutkan nama tempat dan bicara, 'Kita bertemu di sana'," ujar Bibi membuat Vera menganga.
"Bibi serius? dia pergi bersama wanita itu!" tanya Vera, 'Dasar suami tidak tahu diri. Awas saja, nanti, Mas!' gumam Vera dalam hati.
__ADS_1
Bersambungš