
"Turuti kemauannya?" ulang Vera, "Terdengar sangat mengerikan," sambung Vera bulu kuduknya berdiri.
"Mas, tunggu aku Mas!" ujar Vera berlari menghampiri suaminya yang berjalan menaiki tangga, "Aku cape Mas, Mas Dave tahukan? Di kampus, jadwalku sangat padat, aku tidak bisa melayani mu setiap hari, beri aku waktu libur," keluh Vera mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang.
Seakan tuli, Dave tetap berjalan dan mengabaikan ucapan dari istrinya, tangannya semakin mengepal erat, pikirannya sangat kacau.
"Mas Dave, Mas Dave marah denganku?" tanya Vera meraih lengan suaminya.
"Mas jangan marah," sambungnya lagi setelah berhasil menghentikan langkah suaminya.
"Aku sudah memberikan kebebasan untukmu, maka dari itu ... balaslah kebebasan mu dengan melayaniku setiap malam. Ingat! Di saat kita berada di atas ranjang, maka kau sepenuhnya milikku!" ucap Dave menepis tangan istrinya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar utama.
"Baiklah, aku akan menuruti semua permintaanmu Mas," jawab Vera dengan lesu.
Kedua sudut bibir Dave tertarik ke atas saat mendengar jawaban dari istrinya, "Bagus," jawab Dave singkat.
Tidak terasa perputaran waktu di bumi ini terasa begitu cepat, baru saja sinar matahari menerangi bumi dan kini sudah digantikan dengan bulan dan bintang yang menghiasi awan hitam di malam hari.
"Melayani Mas Dave lagi? Kenapa tubuhku seakan menerima sentuhannya dan mengapa ... di saat Putra menyentuhku, aku bahkan terlihat risih, atau jangan-jangan tubuhku sudah terbiasa dengan sentuhan Mas Dave?" gumam Vera yang saat ini berada di dalam ruang gantinya.
Di saat Vera sedang melamun, tiba-tiba ponselnya bergetar dan melihat panggilan telfon dari kekasihnya.
'Apa yang akan diucapkan Putra, setelah semuanya terbongkar? Aku takut, jika Putra kecewa denganku,' batin Vera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya ke telinganya.
"Hallo, Put?" ucap Vera.
"Hai sayang, aku hanya memastikan saja. Aku takut kamu sedang bermesraan dengan pria itu," jawab Putra.
"Aku bermesraan dengannya? Mana mungkin, Put! Aku lelah, aku mau tidur," ucap Vera.
"Aku temani tidur. Aku ganti panggilannya menjadi video call, okeh!" titah Putra kemudian mengganti panggilannya.
'Aku tidak bisa mengangkat panggilan mu, Put. Lihatlah, aku sedang berpakaian seperti ini, aku tidak mau kamu melihatku seperti ini,' batin Vera.
"Sayang, angkat dong!" titah Putra.
"Aku tidak bisa, Put. Aku tidak mau merepotkan mu," ucap Vera.
__ADS_1
"Siapa yang merepotkan mu? Aku justru senang saat melihat wajahmu yang polos tanpa make up, dan aku lebih senang jika aku bisa melihat kamu tidur," ucap Putra.
"Baiklah, sebentar ...."
Di saat Vera mau mengganti panggilannya dengan video call, tiba-tiba Dave masuk dan mengambil pakaian tidurnya. Seketika, Vera langsung mematikan ponselnya.
"Mas Dave, sedang apa di sini?" tanya Vera gugup.
"Menurutmu?" jawab Dave membuka lemari dan mengambil pakaian tidurnya.
"Sebentar Mas, bukannya ruang gantiku dan ruang ganti Mas Dave terpisah?" tanya Vera.
Dave tersenyum simpul, "Tanyakan saja pada Excel, sekarang kita mulai permainan malam kita," titah Dave berjalan menuju ranjang.
"Sekarang Mas? Masih jam 10 malam," ujar Vera pandangannya selalu melirik layar ponselnya yang menyala.
"Aku tunggu 5 menit lagi di ranjang," titah Dave tak ingin dibantah.
"Ta-tapi Mas ...,"
Setelah kepergian suaminya, Vera langsung membuka dan membaca pesan dari kekasihnya, pesan yang berisi kekesalan dan kekecewaan kekasihnya karena panggilannya di akhiri sepihak.
"Ah siall, lebih baik aku isi daya ponselku dulu. Setelah selesai melayani Mas Dave, aku akan membalas pesan Putra," gumam Vera mengecas dan meninggalkan ponselnya di ruang ganti.
Mau tak mau, Vera melayani suaminya dengan perasaan yang tidak bisa di artikan.
"Mas, aku sudah tidak tahan lagi!" ucap Vera di saat jari suaminya tengah bermain di area sensitttiffnya, "Cepat masukan!" sambungnya lagi.
"Mas! Aahh ..." ******* demi ******* lolos dari bibir mungil Vera.
Tak ingin membuat istrinya menahan terlalu lama, akhirnya Dave membuka celaananya dan memperlihatkan senjatanya yang panjang dan besar.
Vera menutup mata dengan kedua tangannya saat melihat senjata milik suaminya, tidak disangka, dia akan melihat tubuh suaminya yang benar-benar polos.
"Matikan lampu, Mas!" titah Vera.
Dave mengangguk dan mematikan lampu kamarnya, dia mulai melancarkan aksinya, senjatanya yang sudah berdiri tegak pun siap menerobos sarang yang tidak terlalu sempit, tapi masih nikmat untuk memuaskan hasraaatnya.
__ADS_1
Akhirnya penyatuan pun terjadi, terdengar erangan dari keduanya, seakan tak puas dengan permainannya. Dave melakukannya berulang kali.
"Cukup Mas! Aku cape. Biarkan aku beristirahat, tugasku sudah selesai!" ucap Vera menarik selimutnya sampai menutupi lehernya.
"Istirahatlah, aku akan membersihkan tubuhku dulu," titah Dave beranjak dari tempat tidurnya.
Melihat suaminya pergi dan memperlakukannya dengan lembut, perasaan Vera tiba-tiba bahagia, tak dapat dipungkiri bahwa tubuhnya sudah candu dengan sentuhan yang memabukkan dari suaminya.
"Ahh ... tubuhku terasa lelah, aku akan mandi besok pagi saja," ucap Vera kemudian memejamkan matanya.
Setelah 20 menit membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi, kini Dave sudah berada di ruang ganti untuk mengambil pakaian tidurnya.
Melihat ponsel istrinya tergeletak, membuat Dave ingin membuka dan membaca seluruh pesan dari orang yang bernama Putra.
Setelah ponsel istrinya menyala, terlihat beberapa panggilan dan notif pesan masuk dari orang yang bernama Putra.
Seketika mata Dave membulat sempurna, tangannya mengepal erat.
"Apa maksudnya? Aku tidak akan membiarkan istriku tinggal bersama pria brengssekk sepertinya," gumam Dave kemudian mematikan ponsel istrinya lagi dan berjalan menuju ranjang.
Ke esokkan harinya, terlihat Vera menggeliat, tubuhnya terasa lengket akibat permainannya semalam dengan suaminya, tangannya meraba kasur sampingnya yang kosong.
"Di mana Mas Dave?" tanya Vera setelah membuka matanya, "Apa dia sudah pergi? Ah, baguslah ... jika, dia pergi, aku tidak perlu--"
"Oh Tuhan, aku lupa membalas pesan Putra!" pekik Vera kemudian menutup mulutnya saat mendengar derap kaki yang semakin mendekat.
"Kau mencari ku?" ujar Dave yang baru saja masuk dari arah balkon rumahnya.
"Siapa yang mencari mu, Mas. Aku tidak mencari mu!" jawab Vera bangkit dari tidurnya dengan selimut membungkus tubuhnya.
"Cepat bersihkan tubuhmu. Setelah itu, kita pergi!"
"Mas Dave, tidak perlu menungguku, aku bisa berangkat sendiri," ucap Vera memutar gagang pintu dan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah berada di dalam kamar mandi, Vera berjalan mondar-mandir, dia berusaha mencari alasan untuk terbebas dari suami dan anak buah suaminya.
"Kira-kira, aku akan berbohong apalagi kepada mereka?" gumam Vera menyalakan air kran.
__ADS_1
"Aku tidak bisa berbohong seperti kemarin. Mereka jelas tidak akan mempercayaiku lagi."
Bersambungš