
"Jangan bohong, katakan saja jika kamu memikirkan ucapan ku, agar wajah Dave semakin merona sama sepertimu," ujar Excel.
"Siapa yang bohong, aku tidak memikirkan Mas Dave. Aku sedang memikirkan beberapa menu makanan yang enak-enak," jawab Vera menyuapkan makanan pertamanya, "Kalian tidak makan?" tanya Vera saat melihat kedua pria di dekatnya hanya diam menatapnya.
"Aku sudah kenyang!" ujar Excel, tangannya menangkup wajahnya agar dapat memandangi wajah cantik Vera yang berada di depannya.
"Mas Dave gak makan?" tanya Vera menoleh pada suaminya yang tengah melamun, "Mas!" panggil Vera melambaikan tangannya.
"Aku sudah kenyang!" jawab Dave saat tersadar dari lamunannya.
"Terus, aku makan sendirian? ingat Mas, kamu belum makan dari siang. Lebih baik, isi perutmu walaupun sedikit saja. Makanan yang diberikan kekasih Mas juga tidak di makan, kan? Justru Mas memakan kue yang seharusnya aku makan," kesal Vera saat mengingat kue Black Forestnya di makan oleh suaminya sewaktu dia tertidur.
"Kekasih?" ucap Excel dan Dave bersamaan.
"Dave, kau mempunyai kekasih lain? hebat!" ujar Excel bertepuk tangan.
"Siapa kekasihku?" tanya Dave dengan pandangan menatap istrinya.
"Itu Mas, wanita tadi! yang mengantarkan makanan untukmu!" ucap Vera membuat Dave teringat dengan kejadian siang tadi.
"Maksudmu, El?" tanya Dave memastikan.
"Aku tidak tahu namanya, Mas. Yang pasti, dia sangat cocok dan serasi denganmu," jawab Vera menyuapkan makanannya lagi, 'Kenapa, hatiku terasa sakit saat aku mengucapkan kata-kata itu pada suamiku. Jika, mereka pasangan yang cocok.' batin Vera.
"Dia kekasih kan, Mas?" tanya Vera penasaran.
"Bukan, dia calon istriku!? " ketus Dave membuat sendok yang berada di tangan Vera terjatuh.
Prangg ...
"Ma-maksud Mas Dave, Mas Dave mau menikah dengan wanita itu?"
__ADS_1
"Terus, bagaimana nasibku, Mas?"
"Aku tidak mau di madu," ketus Vera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menaiki tangga.
"Dave, jangan membuat api di dalam rumah tangga mu," ucap Excel.
"Siapa yang membuat api? aku sedang makan. Dan ... lagi pula, aku hanya becanda. Aku tidak mungkin menikahi El, dia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Dan aku tidak mau mempunyai hubungan lebih dengannya," jawab Dave enteng.
"Tapi kau gila! mungkin aku bisa memaklumi becanda mu itu, tapi istrimu tidak Dave! bagaimana jika dia menganggap semua yang kau ucapkan serius. Lain kali, jangan seperti itu! sekarang kejar istrimu dan jelaskan semuanya," titah Excel bijak.
"Hei, siapa kau! berani-beraninya memerintahkan ku!" seru Dave.
"Cepat, jangan balas perbuatan istrimu itu, lebih baik ... kau buat calon keponakanku yang banyak," titah Excel menaik turunkan alisnya.
Mendengar calon keponakan, tiba-tiba kedua sudut bibir Dave tertarik ke atas, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya, "Aku akan melanjutkan aktivitas ku yang sempat tertunda karena mu!" ucap Dave berlari menaiki anak tangga.
"Pengantin baru masih di mabuk cinta, apa daya denganku? kapan aku bisa merasakan tidur bersama istri bukan dengan guling?" gumam Excel melanjutkan makannya seorang diri.
Setelah mengecek di balkon, Dave bisa melihat istrinya sedang membelakanginya.
'Apa benar, dia marah karena tidak mau di madu?' batin Dave melangkahkan kakinya mendekati istrinya.
"Sedang apa di sini, hem?" tanya Dave meraih kedua pundak istrinya.
Mendengar ucapan suaminya, Vera memutar tubuhnya agar menghadap suaminya, "Aku tidak mau di madu Mas, ceraikan aku dulu, sebelum kamu menikahi wanita itu!" ketus Vera mengusap sisa air matanya.
'Dia menangis?' batin Dave.
"Aku tidak akan menceraikan mu, dan aku akan menjadikannya istri ke dua ku, bukankah .. seorang pria boleh memiliki istri lebih dari satu?" ujar Dave.
"Ya memang, tapi aku tidak mau di madu! lebih baik, aku menjadi janda daripada aku di madu! beruntung aku belum mempunyai anak dari mu, jadi semua orang tidak akan ada yang tahu jika aku sudah pernah menikah," ujar Vera yang tanpa sadar mengingatkan Dave tentang tujuan awalnya.
__ADS_1
"Kita lanjutkan permainan kita yang sempat tertunda," titah Dave yang mendapat gelengan dari Vera.
"Aku tidak mau Mas, aku tidak mau!"
"Intinya aku tidak mau melayani Mas Dave, sampai Mas Dave memutuskan untuk menceraikan ku, atau meninggalkan wanita itu," ujar Vera menepis tangan suaminya.
"Tapi, aku tidak butuh penolakan darimu, Vera!" jawab Dave menggendong tubuh istrinya.
"Mas! lepaskan aku! aku tidak mau!" teriak Vera memukul punggung istrinya.
"Mas Dave, jangan membuatku seperti mainan. Yang akan dibuang jika Mas Dave sudah bosan!" sambungnya lagi.
"Siapa yang mengatakan jika aku akan membuang mu, hem?" tanya Dave merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang, "Ayo, kita lanjutkan permainan yang sempat tertunda. Aku akan menanam benihku di dalam rahim mu, ini," ujar Dave mengusap perut rata Vera.
'Sampai kapan pun, aku tidak akan hamil anakmu, Mas! setiap malam, aku rutin meminum pil KB itu, lupakan saja mimpimu itu Mas!' batin Vera.
"Mas, aku tidak mau! aku tidak mau mengandung anakmu. Bagaimana, jika anakku lahir dan dia di bully karena mempunyai dua ibu? aku tidak bisa membayangkan semua itu!"
"Bagaimana, jika kita membuat taruhan. Jika dalam 3 bulan ini, kamu tidak hamil anakku, maka aku akan merestui hubunganmu dengan pria itu, tapi jika kau hamil anakku, putuskan hubunganmu dengannya dan fokuslah pada calon anak kita?" tawar Dave menghentikan aktivitas tangannya yang sudah masuk ke dalam pakaian istrinya.
"Apa ucapan mu bisa di pegang, Mas? bagaimana, jika dalam waktu 3 bulan ini aku tidak hamil dan kau melupakan janjimu itu?" tanya Vera.
"Kita buat surat pernyataan saja, bagaimana?" tawar Dave disetujui Vera.
"Aku setuju Mas, ya sudah, ayo kita buat surat itu. Aku benar-benar tidak sabar," ujar Vera mendorong tubuh suaminya agar bangkit dari atas tubuhnya.
'Lagi pula, aku tidak akan hamil anaknya, aku sudah meminum pil KB itu dengan teratur,' batin Vera tersenyum puas.
"Mas Dave tunggu di sini, biar aku yang mengambil kertas dan pulpennya," ujar Vera turun dari ranjang dan mengambil buku tulisannya, "Ini Mas, Mas bisa tulis sendiri. Jika aku setuju, maka aku akan menandatangani. Oh iya, aku masih mempunyai dua materai. Akan aku tempel di sini, agar surat ini benar-benar resmi dan tidak bisa di ganggu gugat!? " sambung Vera.
Dave mengambil dan menulis surat perjanjian dengan cepat. Tak sampai 15 menit, surat itu pun jadi, "Coba baca, setelah itu tanda tangani," titah Dave memberikan selembar kertas kepada istrinya.
__ADS_1
Bersambungš