Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 67


__ADS_3

"Aku benar-benar tidak dianggap atasan oleh sekertarisku, sendiri!" gumam Dave menjatuhkan bokongnya di kursi kebesarannya.


"masih pagi, tapi rasanya sudah sangat lelah."


"Teman? memangnya dia mempunyai teman. Kenapa feelingku tidak enak? apa akan ada sesuatu?" sambung Dave bangkit dan menyambar kunci mobilnya.


Di dalam kampus, terlihat tubuh Vera bergetar, kakinya terasa lemas, air matanya selalu lolos dari pelupuk matanya yang indah. Bahkan tempat makan yang dibawanya sudah terjatuh membuat sepasang kekasih yang sedang bermesraan terganggu.


"Biar aku saja yang melihatnya!" ujar Putri berjalan mencari sumber suara barang jatuh.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Putri, "Sedang apa kalian?" tanya Vera dengan emosi.


"Menurutmu, kami sedang apa! pergilah, aku tidak mau Putra melihatmu di sini!" jawab Putri sinis.


"Aku mau bertemu dengan pria brenggseeek itu sekarang juga!" ucap Vera berusaha menerobos masuk.


"Tidak perlu, kau tidak perlu menemui Putra. Karena putra sendiri yang bicara padaku, jika dia hanya memanfaatkan mu," ketus Putri.


"Itu tidak mungkin!" teriak Vera, "Justru kau yang dimanfaatkan Putra, sadarlah Putri, Putra hanya mencintai aku!"


"Izinkan aku bertemu dengan Putra sekarang juga! setelah itu, aku akan memberikan pria brenggseeek itu padamu," pekik Vera.


"Apa maksudmu? Memberikan untukku?" gumam Putri mencerna ucapan wanita di depannya.


Di saat Putri berpikir, tanpa pikir panjang, Vera menerobos dan berjalan menemui Putra.


"Put!" ucap Vera mengejutkan Putra.


"Sayang, kenapa bisa tahu ... aku ada di sini?" tanya Putra berusaha membenarkan pakaiannya.


"Mulai saat ini, kita putus! Aku tidak mau berhubungan denganmu lagi, tolong hargai keputusanku ini." ucap Vera mengejutkan Putra dan Putri.


"Apa maksud kalian? Jadi, kalian memiliki hubungan di belakangku?" tanya Putri.


"Diam!" ucap Vera dan Putra bersamaan.

__ADS_1


"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya. Pasti dia kan yang mengucapkan--"


"Semuanya sudah jelas. Aku tidak mau mendengar ucapanmu yang busuk itu. Sudah cukup aku memberikan satu kesempatan untukmu, dan aku ... aku tidak akan memberikan kesempatan yang kedua kalinya untuk orang yang sama, orang yang telah membohongiku!"


"Eh, seharusnya yang bicara seperti itu, aku! bukan kamu!" timpal Putri cepat, "Aku yang berpacaran dengannya lebih dulu!"


"Kau bangga?" tanya Vera pada Putri, "Bangga menjadi simpanan? Asal kau tahu, kita berdua sama-sama simpanan. Jadi, jangan pernah bangga menjadi simpanan. Karena tidak bisa menutup kemungkinan, dia akan mencari mangsa baru lagi setelah putus denganku!"


"Sayang, aku benar-benar mencintaimu. Aku benar-benar tidak mau kehilanganmu!" ucap Putra meraih tangan Vera.


"Lalu bagaimana denganku, Put? Aku sudah memberikan semuanya untukmu. Dan dengan percaya dirinya, kamu menyatakan cinta kepada wanita lain di depanku!" ucap Putri, hatinya terasa sakit.


"Sayang, maafkan aku. Aku berjanji, jika kamu berikan kesempatan kedua untukku, aku tidak akan menyia-nyiakannya," pinta Putra.


"Maaf, Put. Aku tidak bisa, dan mulai besok. Aku tidak akan masuk ke kampus ini lagi. Maka dari itu, aku pamit padamu, hubungan kita berakhir!" ucap Vera menepis tangan mantan kekasihnya dan berlari keluar lorong.


Di saat Vera tengah berlari, tiba-tiba dia menabrak tubuh seseorang dan jatuh kedalam pelukan seseorang orang tersebut.


"Hei, ada apa denganmu? kenapa aku selalu melihatmu menangis?" tanya Dave, pria yang ditabrak oleh Vera.


"Mas Dave," ucap Vera saat melihat wajah suaminya, "Aku putus dengannya," sambungnya lagi, tangannya memeluk erat suaminya, "Dia membohongiku, Mas. Dia bilang hanya mencitaiku, tapi semua itu hoax!"


"Vera! jangan peluk-peluk dia! aku tidak suka!" pekik Putra menarik paksa mantan kekasihnya.


"Kamu itu milikku, bukan miliknya. Aku bisa jelasin semuanya!" titah Putra.


"Lepas! aku bukan milikmu. Hubungan kita sudah berakhir!" pekik Vera menepis tangan Putra kasar.


"Aku bisa jelasin dan beri kesempatan kedua untukku. Aku berjanji, aku tidak akan membohongimu, lagi!" ucap Putra meraih tangan Vera.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, semuanya sudah jelas." ketus Vera.


"Ayo Mas, kita pulang. Aku tidak mau berlama-lama di sini!" ajak Vera menggandeng lengan suaminya.


"Aku tidak suka kamu bersikap seperti itu pada pria lain apalagi pria sepertinya, sayang. Sekarang, ikut aku!" ucap Putra berusaha melepas tangan Vera yang melingkar di lengan Dave.


"Lepasin, Put! aku berhak menggandeng siapapun. Aku bahkan bisa melakukan apa yang kamu lakukan tadi!" ketus Vera menepis kasar tangan Putra.

__ADS_1


"Apa maksudmu, sayang. Jangan berbuat yang aneh-aneh dalam keadaan emosi, aku tidak suka!" ucap Putra tegas.


"Mas Dave, mendekatlah, aku mau mengucapkan sesuatu padamu!" titah Vera melambaikan tangannya agar wajah suaminya mendekat pada wajahnya. Setelah wajah mereka berdekatan, Vera langsung menangkup pipi suaminya dan mencium bibir suaminya di depan Putra. Tak sampai di sini, Vera bahkan meminta Dave untuk melingkarkan tangannya dipinggang rampingnya.


Sesaat Dave terkejut, tapi setelah semenit kemudian dia membalas ciuman istrinya, mereka saling bertukar saliva dan tangan Dave sudah berusaha menurunkan resleting gaun milik istrinya.


"Cup!" Vera menyudahi permainan dengan mengecup sekilas hidung suaminya.


Dave tersadar, lalu menarik resleting itu agar gaun yang dikenakan istrinya tidak terlepas.


"Terimakasih Mas," ucap Vera saat Dave membersihkan sisa saliva nya di area bibirnya.


"Vera, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Kamu berciuman dengan pria itu di depanku?" ucap Putra pada Vera.


"Kenapa Put? kamu bisa melakukan dengan putri, dan kenapa ... aku tidak bisa melakukan itu dengan Mas Dave!" tanya Vera tersenyum manis.


"Put, seharusnya pikiranmu lebih terbuka, mereka tinggal bersama dan tidak menutup kemungkinan, jika mereka akan melakukan hal yang lebih parah dari itu, bahkan mereka bisa saja tidur dan melakukan aktivitas di ranjang," ucap Putri.


"Apa semua yang dikatakan Putri itu benar, Ver? jawab?" pekik Putra.


"Ikuti kata hatimu saja, Put!"


"Ayo Mas, kita pergi. Aku lapar!" ajak Vera menarik paksa tubuh suaminya agar berjalan meninggalkan Putra dan Putri yang tengah mematung.


"Maafkan aku Mas, aku sudah berbuat lancang, tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Sekali lagi, maafkan aku Mas," ujar Vera setelah sampai di depan mobil suaminya.


"Lain kali, jangan lakukan seperti tadi. Pernikahan kita tidak boleh terbongkar!"


"Iya, aku tahu Mas, tapi sekedar ciuman saja!"


"Aku tahu, kau pasti mencemaskan kekasihmu itu kan? calon istri keduamu, hahaha ...," kekeh Vera menghapus air matanya.


"Benar, minggu depan aku akan menikah dengannya. Dan kau harus datang?" ucap Dave membuat Vera menghentikan tawanya.


"Apa! menikah?"


"Iya, menikah. Dan kau harus datang!"

__ADS_1


Plak!


Bersambung😘


__ADS_2