Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 118


__ADS_3

"Kamar mana Mas?" tanya Vera sambil mengucek matanya. "Bukankah, aku sudah bilang, aku tidak mau satu kamar denganmu. Tapi, kenapa kamu mencariku?"


"Masuk saja, tidak perlu protes!" ketus Dave.


Tak ingin bertengkar dengan suaminya. Akhirnya, Vera berjalan menaiki tangga, "Apa-apaan Mas Dave, tapi dari pada aku berdebat. Lebih baik aku turuti saja." gumam Vera.


Melihat istrinya pergi, Dave kembali menatap Excel, "Kembalilah ke kamarmu dan tidur. Besok pagi akan ada meeting klien penting. Dan aku ingin, kau menghandle meeting itu sampai goal! Paham!"


"Aku tidak bisa menjamin. Seharusnya, yang memimpin meeting esok adalah pemimpin perusahaan. Tapi, kau boro-boro datang, kau malah meminta sekertarisnya yang menghandle semuanya. Dan satu hal lagi, mampir lah ke caffe. Jangan sampai, mereka karyawan caffe, melupakanmu!" titah Excel masuk ke dalam kamar.


Melihat Excel pergi, Dave segera berjalan menuju dapur. Dia mengambil segelas air putih untuk meredakan tenggorokannya yang kering.


"Aku belum memberitahu kabar gembira ini pada ibu. Pasti dia senang, sebentar lagi ... dia akan memiliki seorang cucu. Lebih baik, aku hubungi ibu setelah Vera tidur! Aku akan memastikan Vera tidur di kamar karena hujan yang begitu deras!" gumam Dave meletakkan gelas kosongnya di meja, lalu berjalan menaiki anak tangga agar sampai di kamarnya.

__ADS_1


Setelah masuk ke kamarnya, Dave melihat istrinya sedang tertidur pulas.


"Syukurlah dia tidur juga! Mulai besok, aku akan minta Excel mengurus cuti kuliah Vera. Aku ingin, dia fokus dalam kehamilannya!"


"Aku tidak mau, Mas!" jawab Vera yang terbangun, "Aku belum tidur dan biarkan aku tetap mengikuti kuliahku." sambungnya lagi.


"Tidurlah!"


"Aku tidak bisa tidur. Aku mau izin padamu, besok aku akan menemui Putra. Jangan halangi aku. Aku butuh bicara empat mata dengannya. Aku tidak mau, dia terus-terusan mengganggu hidup kita, Mas!"


"Tidak, eh maksudku, jangan Mas!" Jika kamu temani aku, besar kemungkinan kalian akan bertengkar. Dan aku tidak mau semua itu terjadi!"


"Tidurlah, aku akan tetap menemanimu besok!"

__ADS_1


"Tapi, Mas! Aku--"


"Tidak ada bantahan. Tidur dan jangan banyak bicara! Atau kau lapar, Hem!"


'Ah, aku kerjain aja Mas Dave, biar tahu rasa, hahaha!' batin Vera, "Em ... iya aku lapar dan aku mau ketoprak di ujung jalan!" ketus Vera.


"Aku akan suruh bibi atau Excel membelinya. Kau tunggu sebentar!"


"Tidak mau, Mas! Aku mau, kamu sendiri yang beli! Tapi, belinya naik sepeda. Jangan naik mobil atau pun kendaraan lain. Aku mau kamu naik sepeda!" titah Vera.


"Apa! Kau jangan gila! Jarak rumah kita sampai ujung jalan, lumayan jauh! Jangan aneh-aneh! Atau aku pesan melalui ojek online saja!"


"Tidak mau, Mas! Aku mau nya kamu! Kamu naik sepeda, lalu beli ketoprak dan bawa ke hadapanku!"

__ADS_1


"Hei, kau pikir, aku pembantumu, Hem! Dan kau pikir jam segini, pedagang ketoprak itu masih ada?"


"Kalau tidak ada, kamu bisa beli di tempat lain, Mas! Tapi tetap pakai sepeda. Jika sudah sampai, kamu boleh menelfonku, tapi tunggu dulu ... jangan sudah sampai, lebih baik, di setiap perjalanan, kita video call. Aku akan temani kamu dari sini, agar kamu tidak kesepian di jalan! Ayo, Mas!" rengek Vera, 'Rasain tuh, malam-malam pergi bersepeda. Memang enak, aku kerjain!' batin Vera terkikik.


__ADS_2