Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 135


__ADS_3

"Aku baik-baik saja. Aku cuma shok saat mendengar kamu sudah memesankan makanan baru untukku. Aku pikir, kita sendiri yang beli makanan itu! Tapi ternyata tidak!" jawab Vera sambil menepis ke dua tangan putra yang berada di pundaknya.


"Kamu mandi dulu, kalau makanannya datang, aku langsung panggilkan. Dan ini pakai untukmu, aku sudah menyiapkan beberapa pasang pakaian. Jadi, kamu tidak perlu khawatir, jika aku tidak memberimu pakaian!" ujar Putra berjalan beberapa langkah dan mengambil paper bag yang berisi pakaian untuk Vera.


"Aku pikir-pikir, sedari kemarin ... ukuran baju ku selalu pas di tubuhku. Memangnya, kamu tahu, ukuran bajuku, Put?" tanya Vera mengambil dan melihat isi paper bag yang berisi pakaian untuknya.


"Aku tahu semua tentangmu, Ver! Jadi, kamu tenang saja!" bisik Putra.


Mendengar ucapan dari Putra, Vera berusaha menampilkan senyum manisnya yang palsu.


'Aku iyakan saja semua ucapan putra!' batin Vera. "Ish, putra! Jangan di bahas. Itu sudah berlalu!"


"Haha ... ya, sudah. Sekarang, kamu mandi! Kalau makanan itu datang, aku akan memanggilmu!" ucap Putra.


'Kalau makanan itu datang, lalu putra memasukkan racun tanpa sepengetahuanku, bagaimana? Sebaiknya, aku tidak perlu mandi sampai makanan itu datang!' batin Vera.


"Kenapa melamun? Aku suruh kamu mandi, Ver! Bukan melamun!" ujar Putra lagi.


"Siapa yang melamun, Put! Aku sedang berpikir. Bagaimana, kalau aku tidak usah mandi. Perutku sudah sangat lapar. Aku mau menunggu makanan itu datang di ruang tamu. Lagian, kita tidak ada acara untuk berpergian, kan?" jawab Vera menjatuhkan pantatnya di meja makan.


"Terserahmu saja!"


"Oh, iya, Put! Kamu belum menepati janjimu. Kamu bilang, kamu akan kirimkan foto terbaru suamiku. Aku mau melihat wajahnya masih babaak belur atau sudah sembuh." tanya Vera serius.


"Itu masalah gampang, Ver! Aku pasti akan menunjukkan foto suamimu, tapi bukan sekarang!" jawab Putra sambil menjatuhkan pantatnya di kursi yang berhadapan dengan Vera.


"Kamu mau membohongiku, ya!" tuduh Vera yang mendapatkan gelengan kecil dari putra.


"Aku membohongimu? Bagaimana bisa, aku membohongimu, Ver! Yang benar saja! Aku pasti memberitahukanmu, tapi bukan sekarang! Kamu bisa tunggu nanti!" jawab Putra.


"Nanti, nanti terus! Bagaimana, aku bisa percaya dengan ucapanmu, Put! Kamu selalu bilang nanti, nanti dan nanti! Aku tidak suka di bohongi. Kau tahu itu kan, Put!"

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Aku tidak pernah membohongimu. Nanti, aku beritahu foto terbaru suamimu!"


"Janji!" ucap Vera.


"Iya, janji Vera sayang!" jawab putra sambil menampilkan senyum manisnya.


'Sayang? Aku tidak suka di panggil sayang olehmu, Put!' kesal Vera dari dalam hati.


"Kalau kamu bohong, aku kecewa, loh!" ancam Vera lagi.


"Aku tidak mungkin berbohong, aku juga sudah berjanji denganmu. Sekarang, kita bahas yang lain saja! Aku bosan membahas topik pembicaraan yang tidak penting!" ujar Putra lalu menyalakan ponsel. Dia mengirim pesan singkat kepada anak buahnya.


'Cepat cari keberadaan pria yang kemarin. Dan kirim foto terbarunya!' send.


Setelah mengirim pesan singkat kepada anak buahnya. Putra meletakkan ponselnya di atas meja.


Melihat ponsel menganggur, entah kenapa Vera menginginkan ponsel milik putra. Dia ingin mencari kabar tentang suaminya lewat ponsel tersebut.


Ting!


Ponsel Putra menyala dan menandakan ada pesan masuk. Segera Putra melihat pesan tersebut.


'Maaf bos! Saya sudah mencoba memantau pergerakan pria itu. Tapi, saya dengar dari asisten rumah tangganya yang sedang berbicara dengan seseorang, kalau ke dua pria itu sudah pergi entah kemana!' gumam Putra saat membaca pesan dari anak buahnya.


"Ah, Siaal!" umpat putra yang dapat di dengar Vera.


"Put, kenapa?" tanya Vera saat mendengar umpatan pria di hadapannya.


"Tidak ada apa-apa. Aku kalah main aja!" jawab Putra sambil tersenyum manis, 'Ah, siall. Kemana pria itu pergi? Apa jangan-jangan, pria itu pergi mencari Vera? Mereka menyusulku kemari?' batin Putra.


'Ada apa dengan Putra? Kenapa wajahnya sangat tegang? Apa kira-kira isi pesan itu?' batin Vera menatap pria di hadapannya dengan tatapan yang menyelidik.

__ADS_1


Melihat tatapan tajam dari wanita di hadapannya, Putra seketika beranjak dari tempat duduknya. "Aku mau ke sofa depan, Ver! Takutnya, teriakan kurir nya tidak kedengaran sampai di sini!" titah Putra.


"Aku ikut, put!" timpal Vera.


"Kamu yakin, tidak mau mandi dulu, Ver? Biar aku aja yang menunggu makanan datang!"


"Aku yakin, malah aku yakin seratus persen. Kamu tidak perlu khawatir! Masalah mandi, mandi itu masalah gampang! Ini juga masih pagi, aku bisa mandi agak siangan, kan?" jawab Vera berjalan mengikuti Putra dari belakang.


'Bagaimana caraku menghubungi anak buah itu, kalau kemana-mana, Vera selalu ikut!' batin putra. "Kamu duduk di sini!" titah Putra setelah sampai di sofa ruang tamu.


Vera mengangguk. Dia menjatuhkan pantatnya di sofa sesuai perintah Putra.


"Masih lama, Put?" tanya Vera memastikan.


"Seharusnya, sebentar lagi. Jangan bilang, perutmu tidak bisa menahan lapar lebih lama lagi, ya?" tebak putra yang mendapat anggukkan kepala dari Vera.


"Iya, Put! Perutku sudah sangat lapar!" jawab Vera sambil mengusap perutnya yang rata, 'Maklum, aku sedang hamil. Jadi, hawa lapar terus menyerangku!' batin Vera.


"Apa keadaanmu sudah jauh lebih membaik, Ver?" tanya Putra basa basi


"Membaik seperti apa?" jawab Vera penasaran.


"Ya, kamu tidak bersedih? Setahuku, kalau orang yang baru saja kehilangan seseorang, pasti akan bersedih. Semisal kamu nih! Kamu baru saja mengalami musibah keguguran." tanya Putra dengan ragu.


"Aku sedih, Put! Bahkan, aku tidak bisa melampiaskan rasa sedihku ini. Coba bayangkan, wanita mana yang sanggup kehilangan calon anaknya? Apalagi, kalau Mas Dave tahu! Pasti dia akan marah besar. Tapi, aku sudah mengikhlaskan semuanya. Aku yakin, di balik musibah itu, pasti ada hikmahnya. Mungkin saja, aku akan mendapat hikmah. Iya, kan?" jawab Vera lirih.


"Maafkan aku, kalau aku lancang bicara seperti ini. Tapi, aku janji ... aku akan mengobati kesedihanmu."


"Ya, sudah. Jangan bahas masalah itu lagi! Aku tidak mau larut dalam kesedihan." jawab Vera lalu mendengar suara motor yang berhenti tepat di halaman rumahnya. "Put! Makanannya sudah datang!" ucap Vera membuat Putra mengintip dari balik jendelanya dan melihat pria pengantar makanan sudah ada di halaman rumahnya.


"Kamu tunggu di sini. Biar aku yang keluar rumah!" titah putra membuka kunci pintu rumahnya dan keluar.

__ADS_1


Melihat putra pergi, Vera berjalan dan mengintip di balik jendela. 'Aku harus pastikan, makanan itu sehat tanpa racun!' batin Vera


__ADS_2