Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 131


__ADS_3

"Ayolah, Dave! Jangan membuatku penasaran dengan rasa makanan itu! Apa kau mau ... sahabatmu ini sakit karena makanan?" gumam Excel menelan saliva nya saat merasakan taksi yang ditumpanginya semakin menjauh.


"Beli saja sendiri. Aku tidak ada waktu untuk mengantri makanan itu!" ketus Dave.


"Tapi aku lapar. Okeh, sekarang ... kita mau makan apa? Kita belum makan, loh! Apa kamu tidak lapar?" tanya Excel membuat Dave menatap sekitar area kota Jakarta dari dalam taksinya.


"Kita berhenti di restoran dekat sini. Aku rasa, ada restoran di dekat sini. Kamu bisa minta taksi kita berhenti!" titah Dave.


"Jadi, kita makan di restoran, Dave? Bukan di tempat yang tadi? Aku lebih tertarik makan di tempat tadi. Kita putar balik, ya! Siapa tahu, sudah tidak antri lagi!" pinta Excel memohon.


"Terserahmu!" ketus Dave.


Sedangkan di satu sisi, setelah membeli semua makanan yang di idam-idamkan. Kini Vera sudah mendudukkan pantatnya di kursi panjang yang di duduki Putra sambil menyantap manisan yang di beli nya.


"Terimakasih, Put! Hari ini, kamu sudah membuatku bahagia!" ucap Vera dengan senyum manisnya.


"Aku juga senang! Tapi, kita harus pergi! Aku tidak mau, sampai rumah malam! Kasihan kamu!"


"Em ... tapi aku masih betah di sini!" lirih Vera memasukkan makanannya ke dalam mulut.


"Besok lagi kita ke sini. Sekarang, kita pulang dan makan makanan kita di rumah! Jangan membantah!" titah Putra.


"Ya sudah, kita pulang!" jawab Vera berdiri dari duduknya.


"Pegang tanganku!" titah Putra.


Vera mengangguk, dia menerima uluran tangan Putra dan berjalan meninggalkan taman yang sudah membuatnya terhibur.


Setelah sampai di taman, Excel dan Dave turun dari taksi. Mereka berjalan menuju pedagang bakso yang tak begitu ramai.


Dave selalu menatap ponselnya. Dia menghembuskan napasnya kasar saat melihat punggung wanita yang mirip sekali dengan istrinya.


'Apa aku sangat merindukanmu atau aku sangat mencemaskan mu? Kenapa aku melihat sosok wanita yang sangat mirip denganmu!' batin Dave menatap punggung wanita tersebut.


Putra membuka pintu Taksi yang baru saja di naikin Dave. "Masuklah!" titah putra pada Vera.


"Iya, Put!" jawab Vera kemudian masuk ke dalam taksi di ikuti oleh putra yang duduk bersebelahan dengannya.

__ADS_1


Dave tersenyum tipis saat melihat taksi yang tadi di tumpanginya berjalan.


"Dave, ikut aku! Apa kamu tidak mau mengantri makanan ini?" tanya Excel dari kejauhan.


Dave menggelengkan kepalanya. Dia menjatuhkan pantatnya di kursi panjang dekat pedagang manisan.


"Manisannya satu!" titah Dave.


"Tunggu sebentar, pak!" jawab pedagang manisan tersebut.


Excel berjalan menuju sahabatnya. Dia menjatuhkan pantatnya di samping Dave dengan kening yang terus mengeluarkan keringat.


"Di sini panas sekali, Dave! Aku tidak tahan dengan panasnya!" keluh Excel.


"Jangan manja! Di negara ini memang panas! Jadi siap-siaplah tubuhmu berubah warna menjadi hitam!" ketus Dave.


"Jangan sampai semua itu terjadi. Kulit tubuhku harus putih dan bersinar!" kesal Excel.


"Pak, ini manisannya!" titah pedagang manisan pada Dave.


Dave menerima dan membayar manisan tersebut. "Makanan apa itu?" tanya Excel.


"Setidaknya, aku tanya dulu, Dave! Kalau makanan itu enak, baru aku beli!" kesal Excel.


Di dalam taksi. Tak henti-hentinya Putra menatap Vera yang tengah memakan makanannya dengan lahap.


"Aku mau siomay dong!" titah Vera dengan tangan menengadah.


"Kamu tidak takut gendut, Ver? Kamu sudah makan, manisan, cilok, cilor dan ini kamu mau minta siomay?" tanya Putra sambil memberikan styrofoam berisi siomay milik Vera.


"Tidak! Kenapa aku harus takut gemuk! Lihat, orang gemuk berarti tandanya makmur! Dan aku mau menjadi orang gemuk asalkan jangan terlalu gemuk. Cukup sewajarnya saja! Kamu mau cicipi siomay nya?" tawar Vera memasukkan siomay nya ke dalam mulut.


"Aku mau di suapi! Kelihatannya enak dari baunya sangat wangi!" ujar Putra membuat Vera tersenyum kecut.


'Suapi? Malas sekali aku menyuapi Putra, tapi tak apalah ... berpura-pura lah baik, sampai kamu mendapatkan celah untuk kabur, Ver!' batin Vera lalu menganggukkan kepalanya.


"Okeh, kamu mau aku suapi?" tanya Vera memastikan. "Tapi sendok ini sudah aku pakai, bagaimana?"

__ADS_1


"Tak apa, kita berbagi!" jawab Putra santai.


"Aku malu dengan supir taksinya, Put! Kita bisa di bilang pasangan bucin, loh! Padahal, kita sama sekali bukan pasangan!"


"Jangan dengarkan ucapan mereka. Mereka tidak tahu, apa yang kita rasakan saat ini! Cepat suapi aku! Cacing di perutku sudah meminta bagian makanannya!" titah Putra lagi.


'Ish, satu sendok dengan Putra, malas sekali! Tapi lagi dan lagi aku harus pasrah!' gerutu Vera dalam hati. "Iya, ini aku ambil dulu siomay nya!" titah Vera lalu menyodorkan siomay itu ke Putra.


Putra menerima suapan dari Vera. "Enak! Kamu pintar memilih makanan!" ujar Putra sambil mengunyah siomay tersebut.


'Seharusnya kamu beli sendiri, Put! Aku merasa bersalah, karena sudah berpura-pura menawarkan makanan ini!' batin Vera. "Mau lagi?" tanya Vera.


"Kamu makan saja! Aku cukup mencicipi!" jawab Putra mengusap rambut panjang Vera.


"Kalau mau lagi, juga tidak apa-apa, Put! Kamu pasti laparkan? Ini untukmu saja! Tiba-tiba aku kenyang," ujar Vera memberikan siomay miliknya.


"Makanlah! Kamu bilang, kamu mau siomay, kan?"


"Aku kenyang, Put! Bayangkan saja, aku sudah makan beberapa macam menu makanan. Perutku sudah penuh. Kamu mau perutku meledak, Put? Aku sih tidak mau," jawab Vera meminum air putihnya.


Putra menerima sisa makan dari wanita di sampingnya. "Aku letakkan di sini. Kebetulan, aku tidak terlalu menyukai makanan ini!"


"Tapi, tadi kamu bilang ... kalau kamu suka sama makanan ini, kenapa sekarang--"


"Itu karenamu yang menyuapiku!" potong Putra membuat Vera mengambil alih styrofoam yang berisi siomay.


"Aku mau suapi kamu biar kenyang, Put! Kamu harus makan yang banyak, biar tidurmu nyenyak!" jawab Vera, 'Kalau kamu tidur nyenyak, siapa tahu ... aku dapat celah untuk kabur!' batin Vera.


"Kamu makan yang banyak, ya!" titah Vera menyuapkan satu sendok siomay yang sudah di potong-potong.


Putra menerima suapan demi suapan dari Vera. "Kamu masih sama seperti dulu, Ver! Suka maksa!" ujar putra.


"Jangan samakan aku seperti dulu, Put! Aku sudah berubah!" jawab Vera.


"Tapi bagiku, kamu tetap sama seperti dulu."


"Terserahmu, Put!" jawab Vera lalu menyuapkan satu sendok siomay ke dalam mulut pria di sampingnya.

__ADS_1


'Putra, pria yang pernah membuatku tergila-gila. Tapi Kenapa rasa itu seakan hilang. Aku sama sekali tidak tertarik dengannya lagi. Apa mungkin, karena aku sudah jatuh hati ke Mas Dave?' batin Vera.


'Vera, apa ini waktu yang tepat? Aku mau mengajakmu menikah. Tapi tidak mungkin ... Vera baru saja kehilangan calon anaknya. Dan aku harus pura-pura bersedih!' batin Putra.


__ADS_2