Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 48


__ADS_3

"Sial! Kenapa hidupku sial!" gerutu Excel berlari, "Aku harus berlari kemana!" sambungnya lagi.


"Hei, cucuku! Hahaha ...," teriak orang gila berlari mengejar Excel.


Excel berhenti sejenak, napasnya terasa sesak, dia menoleh ke belakang dan melihat orang gila itu semakin dekat. Tenaganya yang sudah hampir habis pun dipaksa untuk berlari kembali demi lolos dari kejaran orang gila laki-laki tersebut.


"Ah siall, Aku harus berlari kemana lagi!" umpat Excel mencari tempat tersembunyi karena kakinya sudah tidak sanggup untuk berlari.


"Hei, para cucu-cucuku, janganlah kau pergi. Aku sudah mencari mu lama, haha ...," ujar orang gila.


Merasa terpojokkan dan tidak menemukan tempat persembunyiannya, akhirnya Excel masuk ke dalam tempat sampah berukuran besar. Menahan bau busuk yang menyengat membuatnya mual.


"Aku akan aman, jika bersembunyi di sini, tapi tubuhku akan bau. Kenapa Dave meninggalkanku di saat seperti ini! Sahabat macam apa, dia!" gumam Excel menghimpit hidungnya dengan kedua jarinya.


***


"Kemana dia? Kenapa sedari tadi ... mobilnya hanya berputar-putar mengelilingi kota saja?" gumam Dave yang tengah fokus pada mobil depannya.


"Kemana sahabat tidak tahu diri itu, kenapa tiba-tiba menghilang, atau aku lupa membuangnya tadi?" sambungnya lagi mengambil benda pipih itu dan menelfon seorang pria yang menjadi sahabat terbaiknya.


Drt ...


Drt ....


Bunyi suara telfon dari ponselnya mengejutkan Excel yang sedang bersembunyi di dalam tempat sampah.


Berulang kali dia menolak panggilan dari sahabatnya dan men silent ponselnya.


Orang gila yang tengah berteriak mencarinya pun tiba-tiba mendekat arah tempat sampah karena mendengar bunyi sesuatu di dalam tempat sampah tersebut.


"Apa kau di dalam sana? Apa kau sedang bersembunyi dan membuat kejutan padaku, cucu-cucuku?" ucap orang gila kepada Excel.


Glek ...


Excel menelan saliva nya susah, dia segera mencari nomor ponsel Dave dan menghubunginya.


"Siall! Kenapa telfon ku tidak diangkat!" gerutu Excel melihat seluruh isi tempat sampahnya.

__ADS_1


Di dalam mobil, Dave tersenyum simpul saat melihat sahabatnya menghubunginya, tak ingin mengangkat telfon, Dave justru meletakkan ponselnya di dashboard mobilnya.


"Rasakan, ini pembalasan karena kau berani menolak telfon ku!" gumam Dave dengan pandangan fokus pada mobil putih di depannya.


***


"Put, aku lelah, aku mau pulang. Bolehkan, antar aku pulang," titah Vera setelah menguap kesekian kalinya.


"Tidak masalah, tapi apa lebih baiknya, kamu istirahat di tempatku saja? Jarak dari sini ke rumahmu itu sangat jauh, sayang," ujar Putra, "Dan aku melihatmu sudah mengantuk. Aku tidak mau kamu tidur dalam posisi seperti ini, pasti tubuhmu akan terasa sakit," sambungnya lagi.


"Memang di mana rumahmu?"


"Apartemen ku dekat sini. Jika, kau mau ... kita bisa singgah sebentar untuk istirahat," jawab Putra.


"Tapi, aku takut Mas Dave mencari ku karena dia memberiku batas bermain sampai sore hari saja," ujar Vera, "Antar saja aku pulang, Put. Tidak apa-apa tubuhku terasa sakit, aku tidak mau melihat kemarahannya, dan berakhir buruk--"


"Jangan bilang, pria itu pernah berbuat kasar denganmu?" tanya Putra mengerem mobilnya mendadak.


"Put! Jangan seperti ini, bagaimana jika ada mobil di belakang," ujar Vera saat tubuhnya terhuyung ke depan.


"Tidak, Put. Mas Dave orang yang baik. Hanya saja, dia sosok pria yang tidak suka dikhianati atau dibohongi. Jika, dia sudah memberiku kebebasan bermain, aku tidak--"


"Kita ke apartemen ku. Mulai sekarang dan seterusnya, kau harus tinggal bersamaku. Aku tidak mau melihatmu tinggal satu atap dengan pria lain. Kamu ini kekasihku, Ver! Sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Dan aku tidak suka, milikku di sentuh oleh pria lain," ujar Putra menancapkan gas nya lagi.


"Tapi, Put! Bagaimana kalau Mas Dave mencari ku? Aku harus berbicara apa!" tanya Vera kebingungan.


"Biar aku yang bicara, aku akan mengatakan yang sejujurnya, jika aku adalah calon suamimu."


"Tidak bisa, Put. Kamu tidak bisa berbicara seperti itu! Mas Dave bisa marah," jawab Vera.


"Biarkan saja, dia tidak berhak marah, sayang. Dia bukan siapa-siapa mu. Atau jangan-jangan ... kamu sudah menaruh rasa dengan pria itu?" tebak Putra menatap sekilas wanita di sampingnya.


"Memiliki rasa dengan Mas Dave?" ulang Vera, "Itu tidak akan mungkin, sayang. Aku tidak mencintainya, aku hanya mencintaimu, sayang," sambung Vera.


"Ya sudah, kalau kamu tidak memiliki perasaan apapun pada pria itu, Sekarang ikut aku dan tinggal bersamaku," titah Putra tak ingin dibantah.


'Bagaimana ini, aku tidak mungkin tinggal bersama Putra. Bagaimana jika Mas Dave mencari ku, dia pasti akan marah dan memberikan hukuman yang bertubi-tubi padaku,' batin Vera yang merogoh tas dan mencari keberadaan ponselnya.

__ADS_1


Saat Vera mengecek ponselnya terlihat beberapa panggilan masuk dari suaminya yang tidak terjawab.


'Benarkan, dia pasti mencari ku. Aku harus memberikan alasan yang masuk akal pada Putra,' batin Vera.


"Sayang, kenapa diam saja? Masih memikirkan pira itu?" tanya Putra setelah beberapa menit tidak mendengar suara dari wanitanya.


"Sayang?" sambungnya lagi.


"Eh, iya Put!"


"Kenapa diam saja?"


"Aku tidak apa-apa, Put," jawab Vera, "Antarkan aku ke rumah Mas Dave, aku akan bicara baik-baik dengannya. Aku tidak mungkin tiba-tiba menghilang setelah beberapa hari ini aku di tolong olehnya," sambungnya lagi.


"Tidak perlu, aku yang akan menemuinya dan mengucapkan terimakasih padanya. Bila perlu aku akan memberikan uang untuk menebus semua biaya kehidupanmu saat di sana," jawab Putra mengusap pucuk kepala Vera.


"Tapi Put, aku--"


"Jangan bilang, kamu mencintainya, Ver!" timpal Putra.


"Tidak, bukan seperti itu. Aku tidak mencintainya, aku hanya--"


"Hanya apa, hem? Kamu lebih memilih pria itu yang bukan siapa-siapa mu, dari pada aku? Ingat sayang, kita saling mencintai, dan sudah seharusnya pasangan yang saling mencintai hidup bersama," ucap Putra.


'Dia suamiku, Put! Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana kelanjutan hidupku, jika aku meninggalkannya, Put,' batin Vera.


"Ya sudah, sekali lagi aku bertanya denganmu. Pilih aku atau dia? Jika, kau memilihnya ... maka hubungan kita berakhir sampai di sini, dan jangan pernah temui aku lagi," ujar Putra.


"Aku tidak bisa memilih, aku tidak bisa, Put! Maafkan aku," jawab Vera.


"Kau harus memilih salah satu dari kami. Jika, kau memilih dan tinggal bersamaku, aku akan menjamin semua kehidupanmu, aku akan membahagiakanmu."


'Ini sangat berat. Kenapa harus sekarang aku memilih. Aku mencintai Putra, tapi aku tidak bisa menghilang dari suamiku, bagaimana pun ... Mas Dave suamiku, orang tuaku menitipkanku kepadanya,' batin Vera.


"Sekarang, aku minta keputusan darimu. Pilih aku atau dia?" ucap Putra.


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2