
"Lihat! ini akibatnya, jika setiap hari bertempur. Jangan iri!"
"Mas!" Vera mencubit lengan suaminya keras, "Aku malu!" ucap Vera semakin menyembunyikan wajahnya.
"Terserah kalian, dan satu hal lagi, aku tidak iri denganmu, Dave! aku bisa mencari kebahagiaanku sendiri!" kesal Excel, "Sekarang, lebih baik istrimu turun! karena kita sudah sampai di depan kampus!" ucap Excel lagi.
"Sampai?" gumam Vera menyembulkan sedikit kepalanya, "Ah benar, aku sudah sampai! Ya sudah, aku masuk dulu. Bye!" ucap Vera membuka pintu mobil dan keluar.
Setelah melihat istrinya masuk ke dalam kampus, Dave memerintah Excel untuk menjalankan mobilnya menuju kantor.
Di dalam kampus, Vera yang baru saja memasuki kampus, tiba-tiba tangannya di tarik oleh putra.
"Put, tidak usah tarik-tarik kan bisa?" ujar Vera berusaha melepas cengkraman tangan kekasihnya.
"Jika tidak ditarik seperti ini, maka kau ... akan kabur dan menghindari ku!" jawab Putra berjalan menuju lorong yang sepi.
"Aku tidak pernah menghindari mu, Put! sekarang lepaskan aku," ucap Vera menghentikan langkahnya diujung lorong.
"Okeh, aku akan melepaskan mu," jawab putra kemudian menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukan.
"Put, jangan seperti ini, bagaimana ... jika kita ketahuan!" ujar Vera berusaha menarik tubuhnya.
"Tidak ada yang tahu kita di sini. Sayang, aku benar-benar merindukanmu. Maafkan aku, jika perlakuanku terlalu kasar padamu," ucap Putra mengecup pucuk kepala Vera, "Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja, Put. Baru saja kita bertemu kemarin dan hari ini kau bilang rindu padaku. Kau sedang bohong ya?" tebak Vera menarik tubuhnya, "Ingat loh Put, kekasihmu bukan hanya aku, tapi ada Putri juga," sambungnya lagi.
"Dia hanya tempat bersenang-senangku saja, bukan sepertimu yang ingin ku jadikan Ibu dari anak-anakku kelak," jawab Putra membelai wajah wanita di depannya.
"Terimakasih Put, aku senang mempunyai kekasih yang bertanggungjawab sepertimu, tapi aku tidak yakin dengan hubungan kalian. Bagaimana, jika kalian melakukan hal di luar batas. Kau dan aku, pernah melakukan itu, dan tidak menutup kemungkinan, kau akan melakukannya dengan pria lain," ujar Vera.
"Mana mungkin aku melakukan hal itu. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kamu membenciku, sayang ...," ucap Putra meraih kedua tangan Vera, "Mulai hari ini, kita beritahu ke semua orang tentang hubungan kita, ya?" titah Putra.
"Tidak bisa Mas, aku tidak mau orang-orang di kampus mengatakan hal negatif tentang kita. Apalagi, kamu mahasiswa tertampan di sini," tolak Vera.
"Lalu sampai kapan, sayang? sampai kapan kita harus merahasiakan hubungan kita?" tanya Putra.
"Sampai waktunya tepat, aku tidak mau kamu menyesal dikemudian hari, setelah mempublikasikan hubungan kita, aku juga tidak mau putri mencibirku," jawab Vera.
"Baiklah, jika itu keputusanmu, aku akan tetap menunggumu."
__ADS_1
"Terimakasih, Put," ucap Vera, "Aku harus kembali ke kelas," sambungnya lagi.
"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara."
"Ada apa lagi Put? aku tidak mau semua orang curiga. Sudah ya, aku mau ke kelas. Please! mengerti keadaanku."
"Aku akan mengerti keadaanmu, aku cuma mengingatkan saja, jangan dekat-dekat dengan Vin, seperti pria itu menyukaimu," ucap Putra.
"Aku tidak percaya, pria tampan sepertinya menyukaiku, jangan becanda. Dia temanku, Put. Lagipula, aku tidak mungkin menyukainya." jawab Vera.
"Aku serius! aku tidak mau menambah saingan lagi! dua saingan saja, aku sudah tidak kuat. Apalagi, harus menambah satu saingan," gerutu Putra merangkul pundak Vera.
"Put--"
"Biarkan saja, aku biasa melakukan ini pada wanita. Jadi, tidak ada yang akan mencurigai kita, sayang ...," bisik Putra mengecup sekilas pipi Vera.
"Ish kau! berarti kamu suka mencium wanita lain, hah!" ujar Vera berusaha melepas rangkulan tangan kekasihnya.
"Mana ada, aku kan bilang, merangkul bukan mencium," jawab Putra gugup.
"Aku tidak percaya. Buktinya, kamu suka nyosor ke aku, berarti selama aku tidak di sampingmu, kamu mencari kebahagiaan dengan wanita lain di luar sana?" tebak Vera memoyongkan bibirnya kesal.
"Gemes! tambah cantik deh!" ujar Putra membuat Vera semakin kesal.
"Putra! kamu cium bibir aku di kampus, bagaimana jika ada yang melihat?" geram Vera memukul pundak kekasihnya berulang kali.
"Biarkan saja, aku sering sekali melihat mahasiswa di sini berciuman. Di sini wajar sayang, ayo mau aku cium lagi, hem?" goda Putra saat melihat pipi Vera yang merah merona.
"Apaan, aku tidak mau dicium di tempat umum seperti ini, memalukan! walaupun di sini adalah hal yang sangat wajar, tapi aku tetap saja risih. Aku takut ada yang merekam atau memotret kemesraan kita," gerutu Vera.
"Sayang ...," Putra memeluk kekasihnya erat, "Aku sudah lama, tidak mendengar ocehanmu ini. Aku lebih suka kamu seperti ini."
"Memangnya, aku seperti apa? dan kakiku pegal, karena berdiri terus, Put! bisa kita duduk?" ujar Vera memelas.
"Ayo, kita duduk di sana." tunjuk Putra pada kursi yang tertutupi tembok.
"Aman tidak? aku tidak mau Putri memergoki kita," tanya Vera.
"Aman, lagi pula Putri sibuk dengan urusannya sendiri,"
__ADS_1
"Sekarang, kita duduk."
"Aku ada kelas Put?"
"Kamu sudah terlambat sayang, percuma saja kamu masuk. Dosen akan memarahi mu," ucap Putra melihat jam dipergelangan tangannya.
"Sungguh?" tanya Vera melihat jam tangan Putra, "Kita keasikan ngobrol dong?" gumam Vera lesu.
"Aku akan temani kamu bolos, tenang saja. Jangan takut, selama ada aku, kamu aman," jawab Putra mulai berjalan menuju bangku tersembunyi sambil tangannya menggandeng kekasihnya.
"Aku tersesat saat bersamamu! kau mencuci otakku agar bolos, hahaha ...."
"Ya sudah, aku akan bolos, tapi temani aku ya!"
"Siap kekasihku!" jawab Putra semangat.
Di satu sisi, Lord tengah kewalahan mencari istri Tuan nya. Sudah waktunya pelajarannya dimulai, tapi istri dari Tuan nya belum juga datang.
Keinginannya menghubungi Tuan nya pun dia urungkan, karena takut akan mendapatkan bogeman atas kelalaiannya bekerja.
"Nyonya, angkat Nyonya!" gumam Lord saat panggilan tersambung tapi tidak diangkat oleh Vera.
Sudah panggilan ke sepuluh, tapi tidak ada yang diangkat oleh Vera, membuat mau tak mau, Lord menghubungi Tuan nya.
"Ada apa menelfonku, Lord? apa terjadi masalah dengan istriku?" tanya Dave setelah panggilannya terhubung.
"Em ... Nyonya tidak bersama Tuan?" tanya Lord ragu.
"Bersamaku? aku sudah mengantarkan dia ke kampus. Apa dia bolos lagi?"
"Maaf Tuan, sedari tadi saya tidak melihat Nyonya, dan saya sudah mencoba mencari serta menghubungi Nyonya, tapi--"
"Maksudmu, dia kabur lagi?" potong Dave.
"Kemungkinan besar Tuan," jawab Lord ketakutan.
"Cari dia sampai ketemu. Dan setelah jam kuliah selesai beritahu aku, aku akan menjemputnya!" titah Dave yang langsung mengakhiri panggilannya.
"Ba-- tut--tut--"
__ADS_1
Bersambungš