
"Aku tampung saranmu. Aku akan membuatnya hamil anakku," ujar Dave masuk ke dalam mobilnya.
"Serius? Kau akan membuatnya hamil di saat umurnya yang masih muda? Ingat Dave, dia masih kuliah. Kau yakin, ingin membuatnya hamil anakmu?" tanya Excel menyalakan dan menancapkan gas mobilnya.
"Lihat saja, sudah menjadi tugas istri untuk mengandung benih-benih dari suaminya," jawab Dave melihat ponselnya yang bergetar.
"Siapa Dave?" tanya Excel melirik sekilas ponsel sahabatnya bergetar.
"Hallo, El ...," ucap Dave setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Hai Dave, kita bisa bertemu di caffemu?" tanya El dari sebrang sana.
"Aku sibuk El, satu jam lagi ... aku ada meeting dengan klien. Memangnya ada hal penting apa?"
"Tidak ada, aku hanya ingin bertemu denganmu, sudah lama kita tidak bertemu," ucap El.
"Baiklah, kau datang saja ke kantorku," titah Dave membuat Excel melototkan matanya.
"Aku akan ke kantormu dan membawakan makan siang untukmu. Tunggu aku!" ujar El langsung menutup telfonnya.
"Kau gila Dave! Bagaimana ... jika istrimu tahu, kau membawa dokter gila itu ke kantor?" ujar Excel terlihat kesal.
"Biarkan saja, yang harus kau sebut gila itu dirimu, bukan El."
"Dave, sadarlah ... dia menyukaimu," titah Excel menatap sekilas sahabatnya yang tengah asik bermain ponselnya.
"Aku tidak menyukainya, aku hanya menganggapnya sebagai adikku saja," jawab Dave enteng, "Jangan lupa, catat jadwalku untuk menjemput istriku!" sambung Dave.
***
Masih ditempat sama, Vera dan Putra sedang berbincang, beberapa kali Vera dapat melihat raut wajah kekasihnya yang tampak kesal dan menahan amarahnya.
"Hari ini Ayah ku datang, dan akan melamarmu!" ucap Putra kesekian kalinya, "Aku mohon, ikut aku!" sambungnya lagi.
"Aku tidak bisa, Put. Beri waktu 6 bulan untuk aku menyelesaikan semuanya," jawab Vera melepas genggaman tangan kekasihnya.
"Kenapa? Apa karena pria itu? Apa sekarang, kau sudah menjadi simpanannya atau budaknya, hah!" ucap Putra.
Plak!
Tamparan mendarat di pipi Putra, "Cukup! Aku bukan wanita murahan ataupun budak dari Mas Dave!" ujar Vera, hatinya terasa sakit mendengar tuduhan dari kekasihnya, "Aku bersikap murahan hanya di depanmu saja. Dan saat ini aku menyesali perbuatanku itu!" sambung Vera.
__ADS_1
"Ver! Aku kekasihmu! Sadarlah Ver! Kau sudah diperalat oleh pria semacamnya. Ikut aku, sayang ...," titah Putra meraih tangan kekasihnya.
"Jangan menjelek-jelekkan Mas Dave, dia tidak seperti itu. Justru dia baik kepada ku, dia tidak pernah menghina atau mengumpat ku sepertimu!" ketus Vera.
"Ikut aku, sayang ...,"
"Please, aku mencintaimu. Apa kau memilih--"
"Sudah aku tekankan kepadamu, Put. Aku tidak mencintai Mas Dave, aku hanya mencintaimu. Beri aku waktu sampai 6 bulan, sampai aku menyelesaikan semua pekerjaanku dengan Mas Dave."
"Tapi sayang ...."
"Put, yakinlah, aku hanya untukmu. Hatiku sudah permanen untukmu. Jadi, jangan berpikir negatif padaku!"
"Baiklah, aku akan menunggu mu sampai 6 bulan," ujar Putra menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukannya, "Maafkan aku, sayang ...."
"Aku juga meminta maaf padamu, Put. Aku sudah membuatmu kesal," ujar Vera membalas pelukan kekasihnya.
Di saat Putra sedang membenarkan rambut Vera, tiba-tiba dia tidak sengaja melihat tanda merah di leher kekasihnya, "Sudah berapa kali kau bermain dengannya!" pekik Putra melepas pelukannya.
"Aku tidak mengerti arti ucapanmu, Put. Siapa yang bermain?" tanya Vera.
"Jawab!"
Glek ....
Vera menelan saliva nya susah, dia berusaha mencari alasan yang tepat, agar Putra dapat percaya kembali.
'Aku harus memberikan alasan yang tepat, tapi apa?' batin Vera bingung.
"Jawab Ver! Jangan diam saja!"
'Apa ... ini waktunya, aku memberitahukan semuanya pada Putra? Terus terang, aku tidak sanggup berpura-pura bohong di depannya,' batin Vera menatap wajah kekasihnya yang terlihat emosi.
"Ver! Jawab pertanyaan ku!" bentak Putra.
"Okeh, aku akan jelaskan semuanya, tapi aku harap ... setelah ini, kamu bisa menerima semua kekuranganku," ujar Vera.
"Cepat katakan, sedekat apa hubunganmu dengan dia!" titah Putra tak sabar.
"A-aku dan Mas Dave memiliki hubungan seperti--" ucapan Vera terhenti saat mendengar suara yang tidak asing memanggil namanya.
__ADS_1
"Vera!" teriak Lord dari kejauhan dengan napas yang tersenggal-senggal.
"Lord, ada apa kau kemari? Bukankah, kau ditugaskan untuk menjagaku di depan kampus, dan kau tahu dari mana ... aku di sini?" tanya Vera setelah Lord berada di sampingnya.
"Aku tahu dari temanmu. Cepat masuk ke kelas, jam pelajaran sudah hampir mulai," titah Lord kemudian menatap sekilas pria di hadapannya.
"Siapa dia, Ver?" tanya Putra tak suka melihat kedekatan antara Vera dan Lord.
"Oh, perkenalkan Put, dia Lord. Dan Lord ini ditugaskan oleh Mas Dave untuk menjagaku di sini," jawab Vera tersenyum.
"Dan Lord, dia Putra ... temanku," ucap Vera di angguki Lord.
"Vera, ayo cepat. Kamu sudah tertinggal satu mata pelajaran, pagi tadi," titah Lord membuat Vera menganggukkan kepalanya.
"Put, aku masuk kelas dulu. Sampai bertemu nanti," jawab Vera berjalan menjauhi kekasihnya dan diikuti oleh Lord di belakangnya.
'Sebenarnya, mereka ada hubungan apa dengan Vera? Kenapa orang yang bernama Dave, selalu memprioritaskan Vera? Aku harus cari tahu semuanya,' batin Putra berjalan menuju kelasnya.
"Untung, kau datang Lord, jika tidak ... mungkin aku sudah mengatakan semuanya pada Putra, jika Mas Dave suamiku," ujar Vera melirik sekilas pada anak buah suaminya.
"Memangnya ada apa Nyonya? Saya sedari tadi mencari keberadaan Nyonya, dan setelah saya mendapat kabar dari Tuan, Nyonya sedang bersama pria lain, saya langsung berlari menyusul Nyonya," ujar Lord.
"Jangan panggil aku Nyonya, aku sedang di kampus, Lord!" titah Vera memukul lengan anak buah suaminya.
"Maafkan saya, Nyonya ... tapi di sini tidak ada siapa pun, dan anda tenang saja," jawab Lord.
"Oh iya, Lord, Tuan mu sudah pulang?" tanya Vera.
"Tuan baru saja sampai di kantor, memangnya ada apa?" tanya Lord penasaran.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya bertanya. Memangnya, aku tidak boleh menanyakan kabar suamiku sendiri. Oh iya, setelah jam kuliah selesai, antar aku ke kantor Mas Dave, aku tidak mau merepotkan Mas Dave," ujar Vera.
"Tapi Nyonya, Tuan sendiri yang ingin menjemput Nyonya."
"Aku tahu, seharusnya hari ini aku ada 3 mata kuliah, tapi berhubung dosenku tidak ada, aku hanya mendapatkan 2 mata kuliah, dan mata kuliah pertama aku sudah bolos," ujar Vera terkekeh.
"Tuan sudah bicarakan semuanya pada dosen Nyonya, dia sudah membuat kesepakatan agar Nyonya diberi keterangan hadir di absensi hari ini," jawab Lord mengejutkan Vera.
"Kau serius?" tanya Vera.
Bersambungš
__ADS_1