
"Aku terpaksa, bukan menikmati bagaimana?" ucap Vera membuat Dave menghentikan langkahnya. Dia memutar tubuhnya ke arah sang istri yang sedang bersembunyi di dalam selimut.
"Kamu bicara apa, Ver?" tanya Dave.
"A-aku bercanda, Mas! Kamu tidak boleh memasukkan semua ucapanku ke hati. Kamu cukup masukkan saja ke telinga kanan lalu di keluarkan melalui telinga kiri. Simple kan?" jawab Vera dengan gugup. "Cepat masuk kamar mandi, Mas!" titah Vera lagi.
"Kalau aku tidak mau masuk ke dalam kamar mandi, bagaimana?" goda Dave. "Kecuali, kalau kamu mau ikut denganku, baru aku masuk ke dalam kamar mandi!"
"Tidak, tidak mau, Mas! Aku tidak mau mandi bersamamu. Sudahlah, kamu masuk saja ke kamar mandi. Aku mau tidur lagi!"
"Tidurlah," titah Dave lalu mengangkat tubuh istrinya, membuat Vera terkejut.
"Mas, aaaaa ... kamu apa-apaan!" pekik Vera saat tubuhnya di gendong oleh suaminya. "Aku berat, dan aku tidak mau mandi bersamamu. Sekarang, kamu lepaskan aku, Mas! Cepat turunkan aku!" pekiknya lagi.
"Hust! Excel bisa dengar kalau suaramu sekencang ini!"
"Ish, katamu ... Mas Excel sedang di luar!" ujar Vera.
"Iya, dia sedang pergi. Dan aku memintanya untuk membelikan semua keperluan kita selama tinggal di sini."
"Terus, kenapa kamu bilang, suruh diam, takut ketahuan Mas Excel?" tanya Vera kebingungan.
Dave tersenyum, lalu mendudukkan pantat istrinya di atas wastafel.
"Kau tahu, aku tidak suka dengan orang yang selalu bertanya. Apalagi pertanyaan itu tidak penting. Aku malas mendengarnya!" ucap Dave.
"Siapa juga yang memintamu untuk menjawab pertanyaanku. Sekarang, kamu bantu aku turun dari wastafel, Mas! Aku tidak bisa turun sendiri. Takut terpeleset!" pinta Vera.
"Tunggu di sini, temani aku mandi." ujar Dave yang mendapat gelengan kecil dari istrinya.
"Aku tidak mau, Mas! Aku ngantuk!"
"Kalau kamu ngantuk, kamu bisa ikut mandi bersamaku!"
"Tidak. Aku menunggumu di sini, tapi jangan minta aku untuk mandi bersamamu!"
"Baiklah. Tunggu di sini, dan hati-hati. Jangan mencoba-coba turun sendiri kalau kamu tidak mau terjadi sesuatu dengan calon anak kita!" ujar Dave.
"Iya, Mas Dave. Sekarang, kamu mandi dan aku akan tunggu kamu di sini. Kamu tenang saja, aku tidak akan turun dari wastafel ini." jawab Vera sambil menampilkan senyum manisnya.
__ADS_1
Dave mengedipkan salah satu matanya dan berjalan menuju bathup.
Vera terkekeh saat melihat tingkah laku suaminya. 'Apa yang dikatakan Mas Excel benar? Kalau kamu begitu mencemaskan aku ketika aku di culik putra?' batin Vera mengayunkan ke dua kakinya bergantian.
Sedangkan di satu sisi. Excel masuk ke dalam Mall. Dia langsung berjalan menuju tempat di mana sayuran-sayuran yang dia butuhkan di jual.
Menggunakan troli, Excel mengambil semua jenis sayuran tanpa melihat harga. "Aku tidak tahu, ini sayuran apa, yang penting warnanya hijau. Mau di masak seperti apa, itu urusan Dave dan Vera." gumam Excel mengambil bayam, sawi, dan lainnya.
Kemudian di dorongnya troli itu menuju rak berisi makanan. Di ambilnya roti, Snack dan jajanan ringan lainnya sampai tak terasa, troli yang di bawa Excel sudah penuh.
"Semuanya sudah aku masukkan. Tinggal bayar ke kasir saja!" lirih Excel mendorong trolinya ke kasir.
Setelah beberapa menit mengantri, kini gilirannya untuk membayar semua belanjaannya.
"Pembayaran cash atau--"
"Cash saja!" potong Excel menyilangkan ke dua tangannya di dada.
"Baik!" jawab pegawai..
"Semua totalnya satu juta rupiah." ucap pegawai kasir.
'Satu juta. Dave memberiku uang satu juta. Tapi pertanyaannya, aku pulang naik apa? Kalau uang satu juta itu di berikan semua.' batin Excel mengeluarkan semua uangnya. "Apa bisa di cancel untuk makanan ini?" tanya Excel lirih sambil menunjukkan dua jajanan ringannya.
"Maaf, barang-barang yang anda beli tidak dapat di cancel lagi!" jawab pegawai kasir.
"Baiklah, ini uang satu juta cash!" titah Excel lemas. 'Siaalan Dave! Setelah keluar Mall, aku harus telfon Dave dan meminta pertanggungjawaban darinya. Tidak lucu, aku pulang jalan kaki. Beruntung, otakku sedikit pintar mengelabui supir taksi tadi. Coba saja, kalau aku bayar seratus ribu ke supir taksi itu. Bagaimana nasibku? Aku bisa saja mempermalukan diriku di tempat umum. Dave, kali ini, kamu bukan sahabatku!' batin Excel mengambil barang belanjaannya dan berjalan keluar Mall.
Setelah keluar Mall, Excel segera mengambil ponselnya. Dia mencoba menghubungi sahabat sekaligus atasannya di tempat dia kerja.
Tut ...
Tut ....
"Angkat, Dave! Aku tidak mau jalan kaki sampai rumah!" gumam Excel berjalan mondar-mandir.
Tut ...
Tut ....
__ADS_1
"Ah, Siaal! Telfon ku tidak diangkat. Pasti mereka sedang bermesraan dan melupakanku! Kalau begini caranya, mau tidak mau ... aku harus berjalan kaki. Tapi tunggu dulu, aku tidak hafal densh atau alamat ley rumah Dave. Bagaimana, aku pulang? Tidak lucu, aku menunggu Dave mengangkat telfonku di depan Mall. Apalagi dengan pakaianku yang seperti orang gila!' keluh Excel mendudukkan pantatnya di lantai depan Mall.
"Biar saja mereka mengiraku orang gila baru."
Di satu sisi, setelah menyelesaikan ritual mandi yang di temani istrinya. Dave berjalan menuju wastafel, sambil menggunakan jubah mandinya.
"Sudah selesai?" tanya Vera saat melihat suaminya datang.
"Kau lihat kan? Aku sudah tampan!" jawab Dave dengan percaya diri.
"Ish, terlalu percaya diri. Tapi tak apalah! Kamu turunkan aku, Mas! Aku mau mandi!" titah Vera merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Kita bertukar posisi?" tanya Dave tak percaya.
"Mulai!" titah Vera. "Sudahlah, kamu pergi dan pakai pakaianmu, Mas!"
"Aku mau menunggumu di sini. Kita gantian!" titah Dave.
"Pergi, atau aku siram kamu pakai air hangat!" ancam Vera.
"Siram saja. Bukankah, itu hal yang menguntungkan. Jika tubuhku basah, aku jadi leluasa untuk--"
"Stop Mas, stop! Please, ya! Jan pernah berpikir aneh-aneh. Bersihkan saja otakmu dari pikiran aneh-aneh!" ketus Vera.
"Otakku berpikir aneh? Dari mana kamu tahu, kalau otakku berpikir aneh, Hem? Mungkin kamu yang berpikir aneh-aneh."
"Aku?" ucap Vera tak percaya. "Mana mungkin aku berpikir mes sum, Mas!"
"Hem, iya iya. Ya, sudah! Cepat mandi!" titah Dave.
"Siapkan pakaian gantiku, Mas! Aku tidak punya sama sekali pakaian ganti di rumah ini!" titah Vera.
"Biar aku hubungi Excel. Aku akan memintanya untuk membeli pakaian gantimu yang baru!" ucap Dave berjalan keluar kamar mandi.
Melihat kepergian suaminya, Vera segera berjalan cepat dan mengunci dengan rapat pintu kamar mandinya.
'Yang benar membelikan pakaian untukku!" pekik Vera.
Dave mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Dia melihat beberapa notifikasi pesan masuk dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Excel.
__ADS_1