
'Siall, bagaimana aku menemui Putra, aku pikir mengelabui Mas Dave sangat mudah, seperti aku mengelabui Lord, tapi ternyata otak Mas Dave lebih pintar daripada otakku,' batin Vera.
'Mau alasan apalagi sekarang, Nyonya Dave,' batin Dave.
Ting ...
Pintu lift terbuka, dengan terpaksa Vera mengikuti langkah suaminya karena tangannya sudah di genggam erat.
"Mas, jangan seperti ini, aku malu," ujar Vera berusaha menepis tangan suaminya.
"Biarkan saja, tidak ada yang melarang kita," jawab Dave.
"Mas Excel di mana, Mas?" tanya Vera mengalihkan pembicaraan, berharap sekertaris suaminya dapat menolongnya.
"Ada urusan apa, kau bertanya tentangnya?" tanya Dave menghentikan langkahnya. Tangan yang sempat menggenggam erat tangan istrinya pun perlahan mengendur.
Melihat tatapan tajam dari suaminya, seketika nyali Vera menciut, dengan reflek dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada apa-apa, Mas. Ya sudah, kita pulang saja, Mas," ucap Vera diangguki oleh Dave.
'Lebih baik, aku pasrah ... besok, aku harus menemui Putra dan menjelaskan semuanya. Aku tidak mau, dia meninggalkanku dan memilih wanita itu. Aku masih mencintai Putra,' batin Vera.
***
Setelah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh sepasang kekasih di dalam mobil. Kini, Putra dan Putri pun saling melempar senyum, kemudian mereka turun dari mobil dengan wajah berseri-seri.
"Terimakasih, sayang ...," ucap Putri saat Putra memperbolehkan dirinya menggandeng lengannya.
"Kali ini, aku akan mentraktir kamu, sepuasnya ...," jawab Putra.
"Sepuasnya?" tanya Putri memastikan.
"Iya, sepuasnya. Aku sudah mendapatkan transferan dari Ayah ku," jawab Putra.
Di saat Putra dan Putri tengah asik berbelanja di Mall terbesar di kotanya, tiba-tiba ponsel Putra berdering. Dengan segera, Putra merogoh dan melihat nama wanita yang sangat dicintainya sedang menelfonnya.
__ADS_1
'Maafkan aku, sayang. Bukannya, aku tidak mau mengangkat telfonmu, tapi aku tidak mau mengecewakan Putri, karena mau bagaimana pun, Putri lah yang selalu ada di saat moodku tidak baik,' batin Putra memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Percuma saja, aku meminta izin ke toilet. Jika, ujung-ujungnya Putra tidak mengangkat telfonku. Sebenarnya, dia kemana? Tumben sekali, dia mengabaikan telfon ku. Apa ... Jangan-jangan Putra masih bersama wanita itu?" gumam Vera meremas ponselnya. Terlihat matanya memerah karena menahan amarah.
"Aku harus mencarinya. Awas saja, jika Putra berani berbuat lebih dengan wanita itu," sambung Vera berjalan keluar toilet.
Baru saja, Vera membuka pintu toilet, dia dikejutkan dengan kehadiran suaminya yang sedang menunggu dirinya di depan pintu toilet. Dan Vera semakin menganga, di saat melihat sekertaris suaminya ikut menunggu dirinya.
"Kalian-kalian sedang apa di sini?" tanya Vera menatap suami dan sekertaris suaminya secara bergantian.
'Menurutku, mereka sama-sama tampan, tapi sayangnya ... mereka sudah dewasa, dan karena mereka ... aku terperangkap dalam jebakan iblis neraka," batin Vera menampilkan senyum manisnya yang terpaksa.
"Menunggumu," jawab Dave enteng.
"A-apa? Menungguku? A-aku tidak salah dengar? Apa kalian mendengar ucapanku di dalam?" tanya Vera panik.
"Percakapan?" ulang Excel, "Memangnya kita manusia jadi-jadian yang bisa mendengar ucapan seseorang dari jarak jauh?"
'Huft ... syukurlah, jika kalian tidak dengar,' batin Vera bernapas lega.
"Ayo kita pulang. Jangan dengarkan Excel, kita di sini ... karena menemani Excel yang kebetulan kebelet dan tidak bisa ditahan," ujar Dave menarik tangan istrinya agar menjauh dari sekertaris sekaligus sahabatnya yang menyebalkan.
"Tidak ada untungnya mengikutimu sampai toilet. Memangnya, aku mau menyetubuhi mu di toilet umum!"
"Mas, jaga bicaramu! Bagaimana, kalau ada karyawan yang mendengar ucapanmu. Bisa-bisa, aku dituduh sebagai simpanan mu juga," gerutu Vera menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti? Mau mencoba bermain di toilet umum?" goda Dave sambil menampilkan senyum manis yang terlihat mengerikan di mata Vera.
"Tidak, jangan Mas. Aku bukan hewan! Aku mau pulang, tapi sebelum pulang, aku mau mampir ke suatu tempat. Mas Dave pulang saja dulu," titah Vera melepas genggaman dan pergi meninggalkan suaminya yang tengah tertawa mengejeknya.
'Begitu menggemaskan, aku tidak percaya ... dia lebih menggemaskan dari yang aku kira,' batin Dave menatap punggung istrinya yang sesekali menolehnya karena kesal.
"Sedang apa di sini. Ayo, ikuti istrimu, jangan biarkan dia pergi sendiri. Atau--"
"Biarkan saja, ada Lord yang akan menjaganya dari kejauhan," timpal Dave, "Sebaiknya, kita lanjutkan saja pekerjaan kita yang sempat tertunda," sambungnya lagi.
__ADS_1
"Hei, bagaimana bisa, seorang direktur utama plin-plan dalam memutuskan sesuatu!" kesal Excel.
Dave menyatukan alisnya, "Siapa yang plin-plan?" tanya Dave berjalan menuju lift diikuti oleh Excel di belakangnya.
"Kau bilang, kita akan mengikuti kemana pun istrimu pergi, tapi kenapa ... sekarang--"
"Aku sudah mempunyai rencana sendiri. Jadi, biarkan dia pergi, tidak membutuhkan waktu lama, aku jamin istriku akan kembali," ucap Dave masuk ke dalam lift diikuti Excel di belakangnya.
Ting ...
Pintu lift terbuka setelah beberapa menit pintu lift tertutup. Dan keluarlah dua pria tampan yang tengah berjalan dengan gagah menuju satu ruangan yang cukup besar dan mewah. Hanya ada satu ruangan di lantai 20, yaitu ruangan Dave, pemilik perusahaan.
"Apa, kau yakin? Istrimu akan kembali dalam hitungan menit?" tanya Excel menjatuhkan bokongnya di depan sofa tempat Dave duduk.
"Kita lihat saja nanti, apakah dia akan kembali, atau dia--"
"Hust!"
"Katakan rencanamu, jangan membuatku penasaran," timpal Excel yang tak sabar.
"Lebih baik, kau tunggu saja. Dan masalah rencana itu, akan menjadi rahasiaku sendiri," ucap Dave menaikkan kakinya ke atas meja, "Sekarang, hitunglah beberapa menit. Aku akan pastikan dia kembali," titah Dave menyenderkan tubuhnya disandaran sofa dengan mata di pejamkan.
"Memangnya aku robot, yang harus bekerja 24 jam untukmu," gerutu Excel.
Di pintu lobby, terlihat Vera sedang bertengkar dengan seseorang. Perdebatan yang luar biasa, membuat security yang berjaga di lobby menahannya di pos satpam.
"Kenapa, Bapak menahan saya! Saya ini--" Vera menggantungkan ucapannya, dia memikirkan bagaimana cara menjelaskan semua kejadian yang tak terduga.
"Maaf, saya hanya menjalankan tugas saja. Jika, ada yang membuat keributan, maka saya akan menindaklanjuti kasusnya kepada hukum," ucap Pak satpam membuat Vera panik.
"Lord, jelaskan semuanya! Aku tidak mau masuk sel!" bentak Vera disaat Lord diam tak ingin menjelaskan semua kejadian yang baru saja terjadi.
"Saya tidak bisa menjelaskan Vera. Ini bukan urusan saya," jawab Lord santai.
"Tangkap saja wanita itu, karena dia ... tubuhku terasa sakit, dan aku akan melakukan visum untuk luka ku ini," keluh seorang wanita yang tengah memegang bekas luka akibat pukulan Vera.
__ADS_1
"Aku tidak bersalah!" ketus Vera, "Dan aku akan melaporkan semua ini--"
Bersambungš