
"Emm ... sangat enak. Tapi, ini terlalu banyak. Memangnya kalian bisa menghabiskan semua makanan ini?" tanya Vera sambil mengunyah makanannya.
"Santai, ada aku. Aku akan menghabiskan semua makanan ini, iya kan ... Dave?" tanya Excel sambil menyenggol lengan sahabatnya itu.
"Diam! Aku tidak mau ada pembicaraan apa pun, sebelum makan siang kita berakhir," ketus Dave.
Merasakan getaran ponsel di dalam tas nya, Vera pun tersenyum, dia meminta izin pada kedua pria di hadapannya untuk pamit ke kamar mandi.
"Aku izin ke kamar mandi, sebentar. Boleh kan?" tanya Vera mengambil ponsel dan bangkit dari duduknya.
"Pergilah!"
"Kau, tidak mau menemani istrimu ke kamar mandi, Dave? Seharusnya pasangan baru, kemana-mana harus bersama ... walaupun hanya ke kamar mandi," goda Excel menyeruput minumannya.
"Tidak perlu Mas, aku juga bisa sendiri," tolak Vera berjalan meninggalkan keduanya di dalam ruangan VIP.
Setelah sampai di dalam kamar mandi tepatnya toilet restoran, Vera langsung membuka dan membaca notif pesan dari kekasihnya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas sempurna saat membaca, bahwa kekasihnya itu mengerti akan keadaannya.
"Hallo, sayang," benda pipih yang dipegang Vera sudah menempel di telinga. Dimatikan kran air yang sempat menyala untuk mengelabui semua mata-mata suaminya.
"Kamu di mana? Apa makan siang itu sudah selesai?" tanya Putra yang baru saja masuk dan mengunci pintu mobil, agar percakapannya tidak di dengar oleh Putri yang sedang mengetuk kaca mobilnya.
"Belum, kemungkinan besar ... aku akan pulang bersama Mas Dave dan sekertarisnya. Lebih baik, kamu pulang saja, Put. Dan suara apa itu? Kenapa aku mendengar suara ketukan di --"
"Biasa, siapa lagi ... ya sudah, aku akan mengantarkan Putri kembali ke rumah. Besok, kita bertemu di kampus seperti biasa ya?" ucap Putra membuat mood Vera memburuk.
'Kamu mengantarnya pulang, berarti kamu masih ada di sini?' batin Vera.
"Sayang, kau dengar aku, kan?" tanya Putra setelah tidak mendapat jawaban dari kekasihnya.
"Iya sayang, aku mendengarkan mu. Ya sudah, aku tidak bisa berlama-lama, aku tidak mau Mas Dave curiga padaku," jawab Vera langsung mematikan panggilan.
***
"Sebenarnya, aku menaruh curiga pada istrimu, Dave!" bisik Excel setelah menatap kepergian Vera.
"Aku tidak tahu, ini feeling ku saja, atau ... mungkin aku terlalu baper, tapi jika dilihat-lihat dari gelagatnya, istrimu seperti sedang menyembunyikan sesuatu," sambung Excel lagi.
__ADS_1
"Biarkan saja, biarkan saja dia menyembunyikan sesuatu. Aku tidak peduli lagi," jawab Dave ketus.
"Dave! Di mana hati nuranimu, dia istrimu, Dia--" ucapan Excel terhenti saat melihat pintu terbuka dan memunculkan sosok Vera dengan wajah tertekuknya.
"Apa yang aku katakan semuanya benar, lihat saja wajahnya. Sebelumnya, dia keluar dengan senyumnya. Sekarang, dia kembali dengan wajah tertekuknya," bisik Excel saat menatap Vera berjalan menuju arahnya.
Melihat raut wajah yang berbeda dari istrinya, tiba-tiba Dave merasakan kecurigaan juga. Dia menatap lekat wajah istrinya yang tiba-tiba murung.
Seakan mengerti tentang perasaan sahabatnya, Excel pun mencoba bertanya. Dia menanyakan beberapa pertanyaan yang kemungkinan besar susah dijawab oleh Vera.
"Ada apa? Kenapa, raut wajahmu tiba-tiba bersedih?" tanya Excel setelah Vera kembali duduk di kursinya.
Dave sudah memalingkan pandangannya pada piring berisi makanannya, tetapi dia sudah menajamkan pendengarannya.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku-aku ... aku hampir terpeleset saat berada di toilet, makanya aku sedikit shock," Jawa Vera gugup. Dia mengambil gelas yang berisi jus dan meminumnya.
Di luar restoran, terlihat Putra sudah membukakan pintu untuk kekasih simpanannya.
"Terimakasih sudah mau mengantarkanku pulang, Put!" ujar Putri tersenyum manis.
"Sama-sama sayang. Sekarang, kau benar-benar ingin pulang, atau ... kita bisa mampir ke suatu tempat? tanya Putra menatap jalanan yang cukup lenggang.
"Ide yang bagus, mungkin bisa mengembalikan moodku yang sedang kacau," ucap Putra melirik sekilas pada wanita di sampingnya.
'Daripada aku menunggu Vera bermesraan dengan pria lain. Lebih baik, aku memanfaatkan waktu itu, untuk bermesraan dengan Putri. Otakmu memang pintar, Put!' batin Putra.
"Maaf, aku sudah membuatmu cemburu sewaktu di resto, Put," ucap Putri tiba-tiba.
"Cemburu?" ulang Putra.
"Iya, aku tahu, kau cemburu saat aku berdekatan dengan Vin, kan?" tanya Putri.
"Ahaha ... tidak masalah, sayang. Kita menjalani hubungan ini diam-diam, dan aku tidak boleh cemburu pada siapapun. Karena, aku tahu ... hatimu hanya untukku," jawab Putra meraih tangan Putri, "Aku yakin, kau setia padaku," sambungnya lagi.
'Yes, akhirnya Putra jatuh juga kedalam pelukanku,' batin Putri membalas genggaman tangan kekasihnya.
"Tapi, bagaimana hubunganmu dengan mantan kekasihmu, Put? Aku harap, kalian tidak mempunyai hubungan apapun. Ingat, dia simpanan pria dewasa, Put," ucap Putri menatap wajah pria di sampingnya yang sedang fokus menyetir.
__ADS_1
"Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengannya. Kau lihat sendiri kan? Bagaimana, dia meninggalkanku sewaktu di taman kampus? Aku sangat membenci momen itu," ujar Putra melirik sekilas wanitanya.
"Aku tahu itu, tapi kenapa ... raut wajahmu berubah, setelah melihat kedatangannya dengan pria itu?"
"Aku terkejut. Aku tidak menyangka, dia akan datang dengan membawa dua pria sekaligus dan diiringi tawa bahagianya. Sudah itu saja," jawab Putra memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah Mall.
"Tunggu, Put!" cegah Putri saat kekasihnya ingin membuka pintu mobilnya.
Seketika Putra menoleh, dia menatap wajah kekasihnya yang sedang gelisah.
"Ada apa?" tanya Putra, "Kenapa gelisah," sambungnya lagi.
Cup.
Putri mencium bibir Putra sekilas, di saat Putri ingin melepas kecupan singkatnya, tiba-tiba Putra menahan tengkuk Putri dan membalas kecupan sekilas itu menjadi ciuman dalam durasi beberapa menit.
"Kita turun!" titah Putri setelah bibirnya terlepas dari bibir kekasihnya.
"No, aku menginginkan lebih dari ini. Kita lakukan di sini," ujar Putra, tangannya sudah masuk meremaass dua gunung kembar milik Putri.
"Emgh ... tapi Put," Putri meleguh di saat tangan kekasihnya meremaass miliknya.
"Kita, tidak bisa melakukannya di sini. Ini tempat parkir," ucap Putri, pandangannya melirik sekitar mobilnya yang sepi.
"Di sini sepi, dan santai saja, kaca mobilku berwarna hitam. Jadi, tidak ada yang mengetahui, jika kita melakukannya, sayang," ucap Putra.
***
"Mas, kita mau kemana?" tanya Vera setelah berada di dalam mobil suaminya, "Aku mau pulang, Mas," sambungnya lagi.
"-_-"
"Mas Excel, kita mau kemana?" tanya Vera setelah tidak mendapatkan jawaban dari suaminya, "Kenapa arahnya berbeda dengan jalur rumah kita?" sambungnya lagi.
"Kita akan--"
"Lanjutkan saja, jangan banyak bicara," potong Dave.
__ADS_1
"Dan kau, jadilah istri yang patuh. Aku tidak akan menjualmu lagi," ujar Dave membuat Vera kesal.
Bersambungš