Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 97


__ADS_3

"Sejak kapan Mas Dave ada di sini?" tanya Vera menerima uluran tangan suaminya, membuat putra yang melihatnya tak suka.


"Sejak kapan? Kamu tidak perlu tahu. Yang kamu harus tau, sekarang kita pulang. Hari sudah malam. Kasihan anak yang ada di dalam kandunganmu!" ucap Dave yang lagi dan lagi membuat Putra dan Vera terkejut.


"A-anak? Kamu hamil, Ver? Hamil anak dia?" tanya Putra tak percaya.


"Aku ti--"


"Sudah, tidak perlu di tutup-tutupi lagi. Beritahu padanya, kalau kamu lagi hamil anakku. Dan sekarang, kita pulang!" titah Dave dengan senyum manisnya.


"Ta-tapi tunggu dulu, Mas. A-aku belum berpamitan dengan Citra. Dia pasti cemas kalau--"


"Ada pria ini, kan? Biarkan pria ini yang menjelaskan, jika kamu pulang lebih dulu." titah Dave menarik istrinya berjalan meninggalkan Putra yang sedang mematung kebingungan.


"Anak? Jadi, Vera sekarang sedang mengandung anak Om-om itu? Aku tidak percaya. Seharusnya, kamu mengandung anakku, bukan anak dari pria lain. Aku harus melakukan cara, agar Vera kembali jatuh ke dalam pelukanku!" gumam Putra berjalan keluar caffe.


Setelah masuk ke dalam mobil. Vera menepis tangan suami, "Mas, apa-apaan sih, kamu! Kenapa kamu bilang, kalau aku sedang hamil! Aku tidak hamil, Mas! Jangan aneh-aneh!" kesal Vera.


"Biarkan saja! Dari pada dia terus-terusan mengganggumu. Lebih baik, berbohong dan dia tidak akan mengganggu kehidupan kita lagi. Lagi pula, memangnya tidak ada wanita lain di dunia ini. Kenapa harus mengerja-ngejar istri orang!" ucap Dave tak kalah kesal.


"Kamu cemburu, Mas? Wah ... Sebenarnya, kamu sudah jatuh hati padaku, kan? Kamu cemburu, iya, kan? Kamu takut, aku tergoda atau digoda oleh pria lain. Ngaku saja, Mas!" goda Vera membuat Dave menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak cemburu. Dan masalah aku takut kamu tergoda itu tidak benar. Aku melakukan ini, karena aku mengingat amanahku terhadap Zena. Aku sudah berjanji, akan menjagamu. Jadi, aku akan melakukan itu. Jangan terlalu percaya diri. Mana mungkin aku cemburu!" ejek Dave menatap lurus ke depan.


"Oh begitu. Tapi, Mas. Putra akan membongkar status kita, jika aku tidak mau kembali bersamanya. Kira-kira bagaimana? Apa aku kembali saja padanya? Aku tidak mungkin membiarkan Putra bicara kepada semua teman kampusku kalau aku sudah menikah dengan Om-om. Pasti, mereka semua berpikir buruk tentangku!" curhat Vera yang diabaikan Dave.


Merasa diabaikan. Vera mencubit lengan Dave keras, sampai-sampai Dave mengadu kesakitan dan kehilangan konsentrasinya menyetir.

__ADS_1


"Hei! Bisa diam tidak! Aku hampir saja menabrak pembatas jalan!" ucap Dave.


"Aku tanya, kira-kira saranmu seperti apa, Mas?" tanya Vera sekali lagi.


"Itu terserahmu. Aku tidak ikut campur dalam masalahmu!" ketus Dave.


"Baiklah. Aku akan berbicara dengan putra. Jika aku mau bersamanya lagi demi status pernikahan kita agar tidak terbongkar." jawab Vera yang sama sekali tidak di respon oleh suaminya.


Dave membelokkan mobilnya dan mobil mulai masuk ke pekarangan rumahnya.


"Turun! Aku ada sesuatu yang perlu di bahas dengan Lord. Masuklah ke kamar!" titah Dave membuat Vera membuka mobil dan turun. Dia berjalan memasuki rumah suaminya dengan perasaan kesal.


Dave menghubungi Lord. Dia meminta Lord untuk membereskan dan membungkam mulut Putra agar tidak membocorkan rahasia besarnya.


Setelah menghubungi Lord. Dave turun. Dia berjalan masuk menujunya kamarnya. Dan Dave melihat istrinya yang sedang berdiri melamun di dekat jendela kaca besarnya. Segera mungkin, Dave berjalan menghampiri istrinya.


Merasa di abaikan, Dave memegang pundak dan memutar tubuh istrinya sampai menghadapnya, "Apa ucapanku kurang jelas, atau sama sekali tidak di dengarkan olehmu. Aku menyuruhmu tidur, ini sudah malam bukan berdiam diri di sini!" ketus Dave.


"Aku tidak bisa tidur. Aku harus memikirkan dan memberikan keputusan yang terbaik. Aku tidak mau sakit hati lagi, tapi aku tidak bisa membiarkan rahasia ini terbongkar. Kasihan kamu, dan aku. Aku tidak bisa mencari pria lain lagi yang lebih tampan dan mapan darimu, Mas! gumam Vera membuat Dave memutar bola matanya jengah.


"Dasar wanita genit! Pikirannya hanya pria, pria, pria!" ejek Dave.


"Aku bukan genit, Mas! Aku hanya menginginkan hidup bersama seseorang yang mencintaiku. Aku ingin hidup yang lebih berwarna. Saling mencintai, menyayangi, dan--"


"Buang jauh-jauh pikiranmu itu. Ingat statusmu yang sekarang! Aku doakan, kamu hamil secepatnya!" kesal Dave berjalan dan merangkak naik ke atas ranjang.


Mendengar kata umpatan dari suaminya. Vera merinding. Dia menggelengkan kepalanya, 'Aku hamil anak Mas Dave? Jangan dulu, deh! Aku belum bisa mencintai Mas Dave. Aku hanya merasakan kenyamanan dan ketenangan saat bersamanya. Jangan sampai aku hamil!' batin Vera berjalan dan merangkak naik ke atas kasur dekat suaminya.

__ADS_1


"Tidurlah! Jangan terlalu memikirkan hal berat. Aku tidak mau kamu gila. Dan aku di marahi oleh kakakmu Zena!" ujar Dave memejamkan matanya.


'Ish! memang ya, kalau pria sudah mendapatkan apa yang dia mau. Ya sudah, dia seperti tidak membutuhkan apa-apa lagi. Aku hanya meminta saran saja. Semua ini juga menyangkut pernikahan aku dan dia! Benar-benar menyebalkan!' gerutu Vera dalam hati. Dia merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.


Ke esokkan hari. Sesuai dengan ucapan Vera. Kini, dia sedang menunggu telfonnya di angkat oleh Putra.


Sudah panggilan ke lima, tapi Putra sama sekali tidak mengangkatnya.


"Kemana dia? Apa jangan-jangan dia sudah memberitahukan semuanya? Aduh, aku malu. Apalagi, semalam Mas Dave mengatakan jika aku hamil. Mau di taruh mana mukaku!" gumam Vera mencoba menghubungi putra lagi.


Akhirnya setelah sepuluh kali menghubungi putra. Putra mengangkat telfonnya.


"Ada apa?" tanya Putra di seberang sana.


"Apa kamu benar-benar dengan ucapanmu. Kamu akan membongkar status pernikahan aku dengan Mas Dave di depan semua teman-teman kampus? Apa tidak ada rasa kasihan sedikit untukku?" tanya Vera.


"Tidak. Untuk apa aku kasihan denganmu. Kamu saja tidak pernah memikirkan perasaanku! Bagai dengan keputusanmu? Apa kamu mau menjadi kekasihku lagi?" tanya Putra.


"Baiklah demi menyelamatkan pernikahanku dengan suamiku. Aku mau menjadi kekasihmu lagi, tapi dengan satu syarat, rahasia pernikahanku dengan suamiku tidak boleh bocor ke mana pun!" ucap Vera membuat senyum Putra terbit.


"Baiklah. Aku sangat senang sayang. Kini, aku ada permintaan untukmu lagi. Semoga, kamu bisa menuruti permintaanku!" ucap Putra.


"Apa? Jika permintaannya tidak aneh-aneh. Aku akan turuti!" tanya Vera penasaran.


"Gug*rkan kandungmu. Kamu sedang hamil, kan? Aku mau kamu gug*rkan calon anak itu."


"Kamu gila, ya! Dimana hati nuranimu, put!" pekik Vera.

__ADS_1


__ADS_2