
"Ta-tapi Mas--" ucapan Vera terputus saat bibirnya dibungkam dengan bibir Dave, perlahan Dave menuntun istrinya meninggal tempat tidur lalu merebahkannya.
"Aku akan memuaskan mu," bisik Dave perlahan tangannya melepas pakaian yang dikenakan Vera.
Terlihat dua gundukan besar yang sedari tadi memancing juniornya menegang.
'Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini,' gumam Dave dalam hati sambil melepas brrraa milik istrinya.
"Mas, aku-aku mau ... aku mau buang air kecil Mas, please!"
"Tidak usah berbohong," ketus Dave dengan suara seraknya.
'Aduh, aku harus berbohong apalagi ini,' batin Vera.
"Mas, jus nya di minum dulu, mumpung masih segar," titah Vera.
"Aku--"
Tokk ...
Tokk ....
Ketukan pintu dari luar kamar membuat Dave menghentikan permainan, "Siapa!" teriak Dave dari dalam kamar.
"Cepat keluar! aku tunggu di ruang kerjamu!" pekik Excel mengetuk pintu kamar Dave berulang kali.
"Mengganggu saja!" gerutu Dave, "Aku akan menemui mu 1 jam lagi!" teriak Dave.
"Cepatlah keluar! ada sesuatu yang harus kita bahas. Mengenai kerja sama kita," teriak Excel membuat mau tak mau Dave bangkit dari atas tubuh istrinya.
"Bersihkan dirimu. Setelah itu, turunlah dan kita akan makan malam bersama, kemudian baru kita melanjutkan permainan ini!" titah Dave membenarkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Iya Mas," jawab Vera terpaku saat melihat perlakuan manis dari suaminya.
Setelah kepergian suaminya, Vera bangkit, dia meletakkan bantal di punggungnya, tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik.
'Aku benar-benar senang jika mendapat perlakuan manis dari Mas Dave, rasanya aku benar-benar mempunyai suami yang mencintaiku,' batin Vera kemudian kakinya turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Di ruang kerja Dave, terlihat Excel baru saja memberikan 1 bungkus kotak kecil pada sahabatnya, "Ini, berikan pada istrimu. Aku yakin, rencana kita akan berjalan dengan lancar. Aku juga sudah memerintahkan Bibi sesuai dengan anjuran dokter, jadi kau tidak perlu khawatir. Sebentar lagi, istrimu akan mengandung anakmu. Tinggal sekarang, pintar-pintar mu saja dalam membuat calon anakmu," ujar Excel meminum softdrink yang diberikan Dave untuknya.
"Baiklah, semuanya harus terlihat sempurna. Jangan sampai dia curiga kepada kita," titah Dave membuka kotak kecil lalu menutupnya kembali, "Kenapa harus memakai kotak?" sambungnya lagi.
"Agar tidak ada yang mencurigai ku. Aku bahkan membayar dokter itu dengan sangat mahal," jawab Excel.
"Baiklah, aku akan kembali ke kamar. Dan kau, bisa membersihkan dirimu. Kita bertemu di meja makan untuk makan malam bersama," titah Dave beranjak dari tempat duduknya.
"Semua ini tidak gratis, Dave! kau harus memberikanku imbalan," ucap Excel membuat langkah Dave terhenti. Di ambilnya ponsel yang berada di saku boxeer nya, kemudian memberikannya pada sahabatnya.
"Cukup kan?" tanya Dave diangguki Excel.
"Okeh, cukup. Senang bisa bekerjasama denganmu, kawan!" jawab Excel merangkul pundak sahabatnya untuk keluar bersama.
Setelah keluar dari ruang kerja Dave, mereka berpencar. Excel memasuki kamarnya yang berada di lantai dasar, dan Dave menaiki tangga agar sampai di lantai 2, tempat kamarnya berada.
Krekk ....
Pintu terbuka oleh Dave, perlahan tapi pasti, Dave mencari keberadaan istrinya. Terdengar suara gemercik air dalam kamar mandi.
Setelah berhasil menukar, Dave kembali keluar kamar. Dia berjalan menuruni anak tangga agar sampai di meja makan.
Waktu makan malam hampir tiba, dan sudah terjejer rapi beberapa menu makanan yang sangat menggoda.
"Dave, bagaimana sukses?" tanya Excel setelah berada di meja makan.
"Beres, kita tunggu saja hasilnya. Jika, cara ini membuahkan hasil, maka aku ... akan menaikan gaji mu bulan depan," titah Dave kemudian mendengar derap kaki seseorang yang sedang menuruni tangga.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu terlalu lama," ucap Vera menghampiri dan berdiri di samping suaminya, "Mas, kamu mau makan apa? biar aku ambilkan?" ujar Vera menyelipkan rambutnya ke belakang daun telinganya.
"Dan Mas Excel mau makan apa? biar aku ambilkan juga!" sambung Vera mengambil piring kosong milik suaminya.
"Hei, kenapa kalian berdua bengong?" tanya Vera saat melihat kedua pria di depannya mematung.
Dave tersadar saat istrinya melambaikan tangan di depan wajahnya, kemudian dia melihat Excel yang sedang menatap Vera dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ekhem!" deheman Dave mampu membuat Excel tersadar lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Cantik, istrimu sangat cantik!" ujar Excel menatap Vera lagi.
"Mau kemana? kenapa berdandan?" tanya Dave sambil menunjuk menu makanan yang diinginkannya.
"Tidak kemana-mana, Mas. Katamu, malam ini malam spesial, kita menyambut kedatangan Mas Excel, jadi aku memakai pakaian ini. Memangnya terlihat jelek? atau tubuhku tidak cocok menggunakan dress ini?" tanya Vera melihat dress dengan lengan seperempatnya.
"Siapa bilang? kau sungguh cantik. Dave beruntung mempunyai istri sepertimu yang sangat cantik. Jika boleh, berikan satu temanmu yang sama-sama cantiknya untukku?" ujar Excel.
Bugh!
Tendangan maut yang diberikan Dave untuk Excel membuat Excel meringis kesakitan. Dia mengusap berulang kali kakinya.
"Dave! Apa salahnya aku bernegosiasi pada istrimu. Siapa tahu, dia mempunyai teman atau sahabat wanita yang cantik!" kesal Excel memberikan piring kosongnya pada Vera.
"Jangan!" cegah Dave meraih tangan istrinya, "Biarkan saja, dia mengambil makanannya sendiri. Dia bukan siapa-siapa mu, tidak usah dilayani!"
"Apa gunanya mempunyai tangan yang lengkap, jika makanan harus ada yang mengambilkan!" ucap Dave membuat Excel mendengus kesal.
"Suamimu sedang cemburu!" ketus Excel mengambil makanannya sendiri.
Uhuk ...
Uhukk ....
Dave tersedak makanannya saat mendengar ucapan dari sahabatnya yang terlalu blak-blakan.
"Jangan dengarkan, lebih baik ... kau duduk, dan makan makananmu!" titah Dave yang di patuhi Vera.
Setelah mengambil makanannya, Vera menjatuhkan bokong di kursi samping suaminya.
'Apa yang dikatakan Mas Excel benar? Mas Dave cemburu denganku?' batin Vera, tak terasa kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Pasti sedang memikirkan ucapanku kan?" tanya Excel saat melihat senyuman di bibir Vera.
"Tidak-tidak Mas," jawab Vera dengan wajah merah merona.
Bersambungš
__ADS_1