Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 148


__ADS_3

"Untuk apa Excel menelfonku sebanyak ini?" gumam Dave lalu mencoba menelfon sahabatnya.


Tut ...


Tut ....


Sedangkan di satu sisi. Merasakan ponselnya bergetar, Excel segera merogoh saku celananya.


"Hallo, Dave! Kau benar-benar menyebalkan!" ketus Excel.


"Hei, kau pelankan suaramu. Telingaku bisa rusak karenamu!" ketus Dave menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Kau yang terlalu menyebalkan. Sekarang, aku tidak mau tahu. Kau harus datang ke Mall. Uang yang kau berikan tidak cukup! Aku sedang di Mall!"


"Apa, tidak cukup?" ucap Dave tak percaya. "Memangnya, apa saja yang kau beli? Dan bagaimana dengan baksonya?" tanya Dave.


"Bakso! Untuk pulang saja aku tidak mempunyai uang. Apalagi untuk membeli bakso!" ketus Excel, "Sekarang, kau datang ke Mall dan bawa pulang aku. Tidak lucu, kalau aku jalan ke rumah jalan kaki. Apalagi, aku tidak terlalu hafal dengan jalanan di kota ini!" ketus Excel.


"Tapi aku tidak bisa datang ke Mall. Aku tidak bisa membiarkan Vera sendiri di rumah. Apalagi dia sedang hamil. Kau pulanglah jalan kaki. Atau, kau kembalikan saja separuh belanjaanmu agar kau bisa pulang!" titah Dave.


"Sejak kapan belanja sayur di Mall dapat di tukar dengan uang, ha? Yang benar saja, Dave! Sekarang, aku tidak mau tahu ... kau harus datang. Kalau tidak datang, aku akan pulang ke rumah asliku!" ancam Excel.


"Pulanglah, jika kau ingin pulang!" titah Dave memutuskan panggilannya.


Tak terasa waktu terus berputar. Dan kini, kehamilan Vera sudah menginjak usia 9 bulan. Hidupnya yang penuh dengan kebahagiaan, membuat tubuh wanita yang sedang mengandung itu semakin berisi.


"Kira-kira kondisi putra bagaimana?" tanya Vera saat berada di taman belakang.


"Aku tidak tahu. Mungkin dia sudah ma ti?" jawab Dave meminum kopinya setelah selesai sarapan pagi.


"Aku serius, Mas! Entah kenapa semenjak aku kabur, Putra tidak pernah datang atau mencari keberadaanku?" gumam Vera.


"Lalu, aku harus memberitahukan keberadaan kita padanya, iya?" kesal Dave.

__ADS_1


"Ah, sudahlah. Bicara denganmu memang susah. Sebaiknya, kamu pergi bekerja saja, Mas! Memangnya, selama 9 bulan tidak jenuh di rumah, ha? Aku saja jenuh, Mas!" ketus Vera.


"Aku tidak mau, seperti dulu lagi. Apalagi tinggal menunggu waktu saja, calon anakku lahir. Aku tidak akan meninggalkanmu keluar rumah!"


"Tapi, Mas! Kasihan Mas Excel. Dia selalu menghandle semua pekerjaanmu! Percuma, kamu beli perusahaan itu, kalau bukan kamu yang mengolah!" ucap Vera.


"Besok aku akan bekerja, tapi setelah anakku lahir!" jawab Dave enteng.


"Memangnya, aku mau lahiran di mana, Mas?" tanya Vera memastikan.


"Semua itu urusanku. Sekarang, kau habiskan sarapan pagimu." titah Dave.


Vera mengangguk. Dia meminum su su ibu hamilnya. "Aku mau ke kamar. Aku mau istirahat!" titah Vera setelah menyelesaikan sarapan paginya.


"Hati-hati!" titahnya Dave membantu istrinya berjalan menuju kamar. "Ver," panggil Dave setelah berhasil merebahkan tubuh istrinya di atas kasur empuk.


"Hem, ada apa?" tanya Vera cuek.


"Istirahatlah. Jika kau merasakan sakit di perutmu, kau teriak saja." titah Dave.


"Hem, istirahatlah!" titah Dave menci um kening istrinya sejenak.


"Terimakasih sudah menjadi suami yang super siaga, ya, Mas. Aku sangat beruntung mempunyai suami sepertimu. Walaupun, aku tidak tahu, kamu mencintaiku atau tidak!" ucap Vera membuat Dave yang mendengarnya tak suka.


"Memangnya, perlakuanku tidak membuktikan seluruh perasaanku padamu, ha!" kesal Dave.


"Tidak. Yang aku tahu, kamu itu ... tipe orang perhatian, penyayang dan dingin. Untuk perasaanmu, aku sama sekali tidak tahu. Karena kamu tidak pernah mengungkapkannya padaku, Mas!" jawab Vera mengusap perutnya yang terasa sakit. 'Kamu yang tenang, sayang. Jangan menendang terus, ibu kesakitan!' batin Vera.


Dave yang melihat ekspresi wajah istrinya pun menautkan ke dua alisnya.


"Kamu kenapa, Ver? Apa perutmu sakit lagi?" tanya Dave panik.


"Tidak, Mas! Rasa sakit itu seperti tiba-tiba hilang dan tiba-tiba muncul. Mungkin karena sudah 9 bulan!" jawab Vera sambil memaksakan senyumnya.

__ADS_1


"Kamu yakin, Ver? Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu!"


"Aku yakin, Mas! Kalau aku merasa sakit dan tidak bisa menahannya, aku pasti akan bilang!" jawab Vera, 'Huh, Huh, Ini benar-benar sakit, melebihi rasa sakit yang biasanya. Aku sudah tidak kuat lagi! Rasanya sangat sakit!' batin Vera.


"Ver, kamu bilang dong! Ekspresi wajahmu membuat aku takut!" ucap Dave.


"Mas, sekarang aku mau bilang, rasa sakit itu menyerangku. Mas, sa-sakit sekali! To-tolong aku, Mas! A-aku sudah tidak kuat!" pinta Vera menarik dan mengeluarkan napasnya bergantian. "To-tolong aku, Mas!" sambungnya lagi.


"To-tolong apa, Ver? Aku harus berbuat apa? A-aku tidak tahu, aku harus menghubungi siapa!" jawab Dave panik. "Aku hubungi Excel saja. Siapa tahu, dia bisa membantu kita!" titahnya lagi.


"Ja-jangan Mas! Hubungi dokter, jangan Mas Excel. Aku rasa, aku mau melahirkan sekarang. To-tolong Mas! Sakit!" pinta Vera menarik paksa kaos oblong yang dikenakan Dave.


"Jangan tarik bajuku. Aku mau menghubungi dokter! Atau begini saja, kita ke rumah sakit saja!" titah Dave.


"Terserahmu, Mas! Mau ke rumah sakit atau panggil dokumen. Itu terserahmu. Yang sedang aku rasakan adalah rasa sakit yang sangat luar biasa. Cepat mas, cepat bantu aku!" pekik Vera mengusap perutnya yang buncit. 'Okeh, ibu mohon padamu. Kamu bisa bertahan kan, sampai ayahmu membawa dokter atau ibu ke rumah sakit? Tolong bertahan?' batinnya.


Dave yang kebingungan pun langsung menggendong istrinya keluar rumah dan masuk ke dalam mobil baru yang beberapa hari lalu datang.


"Kamu duduk dan bertahan. Kita ke rumah sakit!" titah Dave setelah mendudukkan pantat istrinya di bangku samping kemudi.


"Cepat, Mas!" pekik Vera tak tahan.


"Sabar, Ver!" jawab Dave. 'Ya, Tuhan. Selamatkan anak dan ibunya. Aku tidak bisa kehilangan mereka." gumam Dave lirih, dia mulai menyalakan mesin mobil dan mobil pun berjalan keluar rumah.


"Mas, sakit!" pekik Vera mencakar lengan suaminya yang sedang fokus menyetir.


"Ver, jangan seperti ini. Kamu bisa mencelakai kita, loh!" titah Dave berusaha melepas cakaran Vera yang berada di tangan.


"Mencelakai? Kamu bilang, aku bisa mencelakai kamu, Mas?" Aku ini-- Aw ... sakit Mas! Cepatlah! Aku sudah tidak kuat. Apa kamu mau, anakku lahir di mobil?"


"Sabar, kita sedang berada di perjalanan menuju rumah sakit." titah Devan.


"Sabar, sabar! Anakmu sudah tidak sabar melihat dunia, dan ayahnya dengan mudah bicara sabar!" kesal Vera.

__ADS_1


"Terserahmu, Ver! Mau cakar aku pun terserah!' ketus Dave.


__ADS_2