Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 95


__ADS_3

"Mas, kamu tidak bilang, kalau kamu mau di ciuum bibiirnya, bukan pipinya!" kesal Vera.


"Kalau tidak mau, ya, sudah! Aku tidak memaksamu. Kalau mau uang, ya, ciuum aku dulu!" titah Dave.


"Hem!" jawab Vera lalu mendekatkan wajahnya dan menciuum bibiir suaminya. Dave tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia membalas ciumaan dari istrinya.


Vera terkejut, dia pikir, dia hanya menciuum singkat bibiir suaminya, bukan berciuuman seperti ini.


"Mas!" kesal Vera mendorong tubuh suaminya, "Aku sudah rapi. Jangan modus!" ucapnya lagi.


"Hei, siapa yang menciumku? Wajar saja, jika aku terpancing!"


"Berikan uangnya, Mas. Hanya untuk pegangan aku. Aku janji, jika ada sisa, aku akan mengembalikan uangnya. Cepat berikan Mas!" pinta Vera, membuat Dave mengambil salah satu kartu ATM nya dan memberikan pada istrinya.


"Ambil sesuai kebutuhanmu. Dan ingat, semua ini tidak gratis. Aku akan meminta imbalannya nanti!" ucap Dave.


Vera mengambil kartu ATM milik suaminya dan memasukkannya ke dalam dompet. Dia berjalan tanpa ingin mengucapkan terimakasih.


Vera berjalan keluar rumah. Dia bisa melihat temannya Citra sudah menunggu di depan rumahnya.


Lord yang memantau keadaan sekitar pun tersenyum tipis. Dia masuk ke dalam mobil dan mengikuti mobil istri dari tuannya.


Di dalam mobil, Vera yang penasaran pun segera mengeluarkan pertanyaan yang mengisi di pikirannya.


"Cit, tumben ngajak pergi. Ada apa?" tanya Vera.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bersenang-senang denganmu." ucap Citra.


"Tapi aneh. Kamu tumben sekali mengajakku pergi, Cit!"


"Begini, Ver. Sehari tidak bertemu denganmu. Aku jadi sedikit merindukan mu. Maka dari itu, aku mengajakmu keluar. Aku juga mau berbicara sedikit. Aku sedang butuh seseorang untuk mendengar ceritaku. Dan jika aku berbicara lewat telfon. Aku takut, kamu sibuk. Jadi, aku sekalian ngajak kamu pergi aja. Tidak apa-apa kan?" ucap Citra masuk akal.

__ADS_1


"Oh, bilang, dong! Aku jadi tenang."


Citra tersenyum, lalu matanya menatap sekilas Vera yang sedang memainkan ponsel, "Bagaimana hubunganmu dengan Putra? Banyak yang bilang, kalau kamu merebut Putra dari Putri? Dan gosip itu semakin menjadi saat kamu mengeluarkan diri dari kampus?" ucap Citra memulai membuka topik pembicaraan yang serius.


Vera memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Aku dan dia tidak mempunyai hubungan apapun. Aku juga tidak merebut Putra dari Putri."


"Tapi, kenapa banyak yang bilang, kalau kalian pacaran? Dan sikap Putra ke kamu juga berbeda. Walaupun dia suka tebar pesona pada wanita lain. Tapi, cara memperlakukanmu itu berbeda. Aku juga pernah melihat dengan mata kepalaku, sikap putra padamu!"


"Huh! Lupakanlah. Dulu, aku dan dia memang mempunyai hubungan, kita pacaran. Tapi itu dulu, dan dia tiba-tiba menghilang, Cit. Dia menghilang tanpa mengucapkan sepatah kata padaku. Tiba-tiba hilang saja. Lalu, kita di pertemukan di sini. Ya sudah, kita lanjutkan hubungan kita, tapi aku tidak tahu kalau Putra sudah mempunyai kekasih yang tak lain adalah Putri. Ya sudah, kita akhiri hubungan kita. Aku juga sudah mendapatkan orang yang--" ucapan Vera terhenti saat melihat ekspresi wajah temannya, 'Aduh, kenapa aku bisa keceplosan seperti ini. Aku tidak mungkin bicara, kalau aku sudah menikah dengan Mas Dave!' batin Vera.


"Orang apa, Ver? Jangan bilang kamu sudah mendapatkan pengganti putra?" tebak Citra.


"Aku tidak tahu, Cit. Tapi, aku merasa nyaman saat berada di dekatnya, walaupun dia menyebalkan," jawab Vera mengingat suaminya yang menyebalkan.


"Tapi, Putra serius denganmu, Ver!"


"Tapi, aku tidak bisa bersama Putra. Dan putra pun mengerti." jawab Vera.


Vera membuka pintu mobil dan turun di ikuti oleh Citra di belakangnya.


Di satu sisi, Lord yang tetap memantau istri bos nya yang sedang berjalan masuk ke caffe. Matanya membulat sempurna saat melihat mobil putra yang terparkir di halaman caffe.


Lord melihat putra yang masuk ke dalam caffe. Segera Lord menghubungi bos nya.


Dave yang baru saja masuk ke alam mimpinya pun terkejut saat mendengar nada dering ponselnya. Tangannya meraba dan menggeser tombol hijau itu.


"Hem. Ada apa!" tanya Dave yang masih memejamkan matanya.


"Maaf Tuan, saya melihat Nyonya masuk ke dalam caffe dan beberapa menit kemudian, saya melihat pria yang menjadi selingkuhan Nyonya masuk juga ke dalam caffe," ucap Lord membuat mata Dave yang terpejam menjadi terbuka lebar.


"Apa! Mereka bertemu diam-diam di belakangku! Tapi, bukankah istriku bilang, kalau dia kecewa dan membenci pria brengseek itu!" pekik Dave mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Kaki panjangnya dia turunkan dari ranjang dan berjalan menyambar jas, "Kirim lokasi caffe itu. Aku akan menyusulnya. Dan tetap awasi mereka. Berani mereka bertemu dan bermesraan di depan umum. Aku sendiri yang membuat perhitungan pada mereka!" ketus Dave.

__ADS_1


"Baik Tuan!" jawab Lord.


Dave mematikan panggilannya. Dia berlari keluar rumah.


Di satu sisi. Setelah menjatuhkan pantatnya. Vera dikejutkan dengan sosok pria yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Pu-putra!" gumam Vera, matanya menatap Citra meminta penjelasan.


Seakan tahu arti tatapan Vera. Citra tersenyum kikuk. "Maafkan aku, tapi Putra yang merencanakan ini. Aku hanya membantu Putra. Aku kasihan dengannya," ucap Citra.


"Sayang, kita harus bicara. Citra bisa tinggalkan aku dan Vera. Aku mau bicara empat mata." titah Putra, membuat Citra beranjak dari tempat duduknya.


Vera yang melihat Citra berdiri pun segera mencegahnya, "Jangan, Cit. Temani aku, aku tidak mau ada seseorang yang salah paham padaku!" pinta Vera.


"Please, Ver! Kita bicara empat mata. Sebentar saja!" pinta Putra.


"Aku pergi sebentar. Benar yang di ucapkan putra, kalian butuh waktu berdua. Aku tinggal, ya!" ucap Citra pergi.


Melihat kepergian temannya, Vera menggeser tubuhnya agar tidak berdekatan dengan putra.


"Ver, Maafkan aku. Kita balikan, ya!" pinta Putra.


"Tidak bisa. Aku sudah menikah, Put. Kamu juga sudah mempunyai Putri. Jadi, untuk apa kita balikan? Semuanya sudah menjadi kenangan."


"Aku tahu, kamu bicara seperti ini karena kamu kecewa denganku, kan? Aku tahu, kamu tidak mencintai suamimu itu. Masalah Putri, aku akan mengurusnya. Kamu tidak perlu khawatir. Kita balikan, ya, sayang!" pinta Dave memohon.


"Tidak bisa, Put! Aku kecewa denganmu. Aku sudah memutuskan untuk menerima suamiku." ucap Vera tegas.


"Baiklah, kalau kamu tetap tidak mau kembali denganku dan memilih pria lain. Aku terima, tapi aku akan mengumumkan ke seluruh teman kampus, kalau kamu sudah menikah!" ancam Putra.


Vera membulatkan matanya, dia menatap tajam Putra, "Jangan gila, Put! Otakmu benar-benar gila!" ketus Vera.

__ADS_1


"Aku gila karenamu, sayang!" Kita balikan, ya!" pinta Putra memohon.


__ADS_2