
"Okeh, kita bukan siapa-siapa. Dan aku akan menganggapmu sebagai orang lain," ucap Vera membuat Dave melototkan matanya..
"Apa kau bilang, tolong ucapkan sekali lagi. Aku tidak mendengar ucapanmu itu," ujar Dave mencengkram lengan tangan Vera.
"Aww sakit, iya-iya ... aku minta maaf," jawab Vera, "Aku akan menganggapmu suamiku," sambung Vera lagi.
"Awas saja, Jika kau berani mengkhianati ku. Aku akan membunuhmu sewaktu itu juga!" ucap Dave melepas cengkraman tangannya, "Ikut aku!" titahnya lagi.
Tak ingin membantah, Vera mengikuti langkah kaki suaminya yang berjalan memasuki gedung.
Setelah selesai mengurus berkas dan data Vera, akhirnya Vera resmi menjadi mahasiswa di kampus elite di LA.
"Waah ... ternyata pria di sini sangat tampan-tampan. Aku tidak akan menyesal kuliah di sini," gumam Vera yang masih bisa terdengar oleh Dave.
***
"Tolong aku, cari tahu identitas dari wanita ini," titah El pada seseorang di caffe dekat rumah sakitnya.
"Siapa dia? Dan ada masalah apa wanita ini denganmu?" tanya pria tampan yang biasa di panggil Vin.
"Cari tahu saja Vin, kamu tidak perlu tahu alasannya," kesal El menyeruput minumannya.
__ADS_1
Vin menatap lekat foto wanita yang berada di ponsel Kakaknya, "Wanita ini sepertinya masih muda dan di lihat dari wajahnya, dia sangat cantik," ucap Vin memperbesar foto wajah seorang wanita di ponsel El.
"Ambil saja. Jika aku lihat dari data pribadinya, dia masih muda seumuran mu. Kamu bisa mengeluarkan rayuan maut mu itu, tubuhnya juga sangat menggoda. Tapi sayangnya dia pernah keguguran dan aku melihatnya sendiri," ujar El tersenyum tipis.
"Kakak tidak perlu khawatir, karena yang aku butuhkan hanyalah kepuasan sesaat, jika dia pernah keguguran maka, dia bukan wanita baik-baik?" ucap Vin memangku kaki kirinya ke kaki kanannya.
"Mungkin, karena Dave selalu tutup mulut. Aku takut mereka mempunyai hubungan khusus yang tidak aku ketahui," ucap El mengetuk meja caffe berulang kali.
"Kakak cemburu?" tanya Vin terkekeh, "Kakak-Kakak, sampai kapan Kakak mau memendam perasaan Kakak pada Kak Dave. Asalkan Kaka tahu, umur kakak sudah tua, memangnya Kak El mau jadi perawan tua? Cepatlah tembak Kak Dave. Bilang padanya, jika Kakak mencintainya. Ini negara bebas Kak, wanita menyatakan cinta di negara kita itu adalah hal biasa dan wajar," sambung Vin menaik turunkan alisnya.
"Jaga ucapanmu, memangnya siapa yang mau menjadi perawan tua? Kakak juga menginginkan pernikahan. Dan semua itu butuh proses, memangnya kamu mau mendapatkan Kakak Ipar yang jahat dan kejam?" ucap El kesal, dia merebut ponselnya yang berada di genggaman Vin.
"Memang tipe pria idaman Kakak seperti apa?" tanya Vin, "Selain Kak Dave," sambungnya lagi.
"Memang yakin, perhatian itu hanya untuk Kakak?" tanya Vin tersenyum sinis.
"Apa maksudmu! Sebagai adik yang baik, seharusnya kamu mendukung Kakak, bukan menjatuhkan mental Kakak!" ucap El tak suka, dia melototkan matanya karena ucapan adiknya yang membuatnya terkena mental.
Melihat kemarahan di raut wajah Kakaknya, Vin langsung menggelengkan kepalanya, "Bukan seperti itu maksudku Kak! Jadi, maksudku ini, apa mungkin perhatian yang diberikan Kak Dave pada Kakak itu benar-benar perhatian. Siapa tahu Kak Dave melakukan itu semua pada teman wanitanya, termasuk dengan foto wanita cantik yang ada di ponsel Kak El. Karena secara logika, pria tampan dan mapan seperti Kak Dave itu tidak akan puas dengan satu wanita," ujar Vin menjelaskan sedetailnya agar Kakaknya tidak memarahi atau memotong uang jajannya.
"Maka dari itu, Kakak menyuruhmu untuk mencari identitas wanita itu. Karena kakak melihat wanita itu sedang pingsan di kamar Dave," ucap El menjelaskan.
__ADS_1
"Wah ... jika sudah seperti itu, lebih baik ... Kak El relakan Kak Dave untuk wanita itu. Karena setahu aku, Kak Dave tidak pernah membawa seorang wanita ke rumahnya, Jika bukan kekasih atau saudaranya," ucap Vin meminum minumannya.
El menendang kaki adiknya yang berada di bawah meja dengan keras, mengakibatkan pemilik kaki mengadu kesakitan.
"Kakak, kenapa kakiku ditendang. Bisa lebam kan, bagaimana jika tulangku patah atau urat ototku terkilir, memangnya Kakak mau mengobatinya," dengus Vin meraba kakinya yang terkena tendangan dari Kakaknya.
"Itu akibatnya, jika kamu tidak mau berpihak pada Kakak," gerutu El pada Vin, "Cepat cari tahu identitas wanita itu secepatnya, aku sudah kirim foto itu ke ponselmu," ujar El membuat Vin memastikan notif pesan dari Kakaknya.
"Berikan aku uang untuk berobat, aku tidak mau masuk ke kampus dalam kondisi pincang seperti ini. Bisa-bisa semua wanita yang sedang aku dekati kabur," gerutu Vin, tangannya sudah menengadah di depan wajah kakaknya.
"Memangnya kamu lupa hah? Dan memangnya Kakak bodoh? Ingat Vin, kakak seorang dokter. Jangan pernah berbohong pada Kakak!" ucap El, "Kakimu baik-baik saja, dan Kakak akan menghukummu. Kakak tidak akan memberikan uang jajan sepeserpun padamu," sambung El membuat Vin shock.
"Bagaimana bisa! Apa kata temanku jika aku tidak memiliki uang, dan apa kata semua mahasiswi jika seorang Vin tidak bisa membelanjakan wanita yang dikencaninya," ucap Vin bangkit dari duduknya, "Aku tidak mau mencari tahu identitas wanita itu. Biarkan Kakak sendiri yang mencari tahunya," ketus Vin menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Kamu mulai berani dengan Kakak, Vin?" tekan El bangkit dan berkacak pinggang menatap tajam permusuhan antara adik dan kakaknya.
"Memangnya kenapa? Aku sudah besar, dan aku bisa memilih setiap keputusan yang menurutku benar. Jadi sekarang, Kakak pilih kasih aku uang jajan dan aku akan mencari identitas wanita itu secara diam-diam, atau aku tidak mau membantu Kakak karena aku tidak diberi uang jajan. Pilih yang mana coba?" ucap Vin tersenyum, salah satu alisnya bergerak naik turun.
El menggeram kesal, dia meremas tangannya sendiri di depan wajah Vin, "Beruntung kamu masih mempunyai hubungan darah denganku. Jika tidak, sudah kupastikan nyawamu dalam bahaya karena aku akan menyuntikkan obat mematikan dengan dosis tinggi." El berbicara dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Nah gitu dong ... aku jadi enak," jawab Vin mencubit gemas pipi tempem Kakak perempuannya ini, "Sudah waktunya aku berangkat kampus, jangan lupa transfer uang jajan untukku. Bye!" pekik Vin berlari kencang saat El tak terima pipinya disentuh di tempat umum.
__ADS_1
"Vin!" pekik El diabaikan oleh Vin.
Bersambungš