Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 123


__ADS_3

"Okeh, aku ikut denganmu. Tapi, lepaskan Mas Dave! Aku tidak bisa melihat suamiku tersakiti seperti itu!" jawab Vera lirih.


"Berarti, kamu mau ikut denganku pergi dari negara ini?" tanya Putra.


"Bukan mau, tapi terpaksa!" ketus Vera melepas sabuk pengaman di mobil yang di tumpanginya.


"Lepaskan Mas Dave dulu, baru kita masuk ke bandara!" titah Vera.


"Jangan mengelabuiku, Ver! Kita masuk. Setelah kita sampai di pesawat, aku akan mengirim pesan pada anak buahku untuk membebaskan ke dua pria yang telah mengganggu hidup kita!"


"Sekarang saja!" tawar Vera.


"Masuk! Atau suamimu akan dalam masalah!" ancam putra membuat mau tak mau, Vera turun dari mobil dan masuk ke dalam bandara di ikuti oleh Putra di belakangnya.


'Maafkan aku, tapi aku harus pergi!' batin Vera.


Sedangkan di satu sisi. Dave mengeluh kesakitan saat tubuhnya habis di hajaar oleh beberapa orang yang tidak di kenal.


"Dave, kau tak apa-apa, kan?' tanya Excel memastikan.


"Aku tidak apa-apa. Kau tenang saja! Sekarang, kita cari istriku lagi!" titah Dave.


"Cari kemana lagi, Dave? Kita sudah kehilangan jejak mereka!"


"Dan aku tidak perduli. Dia sedang hamil, Cel! Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya!" ketus Dave berusaha berdiri dengan sekujur tubuhnya yang sakit.


"Aku temani! Dan aku yakin, pasti orang-orang tadi suruhan pria itu. Pria itu sangat licik, Dave!"


"Aku tahu, dia memang sangat licik. Tapi, kita harus menemukannya. Aku tidak mau, kehilangan calon anakku!"


"Calon anak atau ibu dari calon anakmu," goda Excel yang lagi dan lagi membuat Dave menatap tajam ke arahnya.


"Dua dua nya bodooh!" ketus Dave.


"Tapi tunggu dulu, ban mobil kita kempes. Dan tempat di sini sangat sepi. Tidak ada taksi atau tukang ojek yang lewat. Apalagi, ini sudah memasuki malam hari." keluh Excel.


"Aku tidak perduli. Aku bisa berjalan!"

__ADS_1


"Kau gila! Kau mau jalan? Jalan sampai mana, Dave? Kamu aneh sekali! Sudahlah, kita pulang saja! Jangan aneh-aneh!"


"Aku tidak bisa pulang. Aku harus cari istriku!" ketus Dave.


"Okeh, sekarang aku tanya ... kamu mau cari istrimu kemana, ha?" tanya Excel kesal.


'Benar yang di katakan Excel, aku tidak tahu harus cari Vera kemana lagi. Tapi aku bisa coba cari ke rumah Putra. Siapa tahu, mereka ada di sana!' batin Dave.


"Kenapa diam saja, ha? Aku sedang bertanya!" ujar Excel lagi.


"Lalu aku harus mencarinya kemana lagi, ha! Dia sedang hamil anakku!" pekik Dave frustrasi.


"Kita pulang saja! Kita pikirkan cara lain. Jangan gegabah. Belum tentu kita menemukan istrimu dalam keadaan luka seperti ini!"


"Tapi, kalau terjadi sesuatu dengan mereka bagaimana?" tanya Dave.


"Tidak akan terjadi sesuatu pada mereka. Pria itu sangat mencintai istrimu, Dave!" ucap Excel meyakinkan sahabatnya.


Sedangkan di satu sisi. Setelah berada di pesawat, Putra menepati janjinya. Dia meminta anak buahnya untuk melepaskan dua pria yang mengejarnya tadi.


"Semuanya sudah beres! Mereka sudah aku bebaskan. Sesuai dengan janjiku! Dan aku mohon ... kamu tepati janjimu, itu!" ucap Putra.


"Baguslah. Sekarang, kamu istirahat. Aku tidak mau kamu kecapean!" titah Putra.


"Tidak perlu mencemaskanku!" ketus Vera menatap langit malam dari dalam pesawat. 'Huh, putra benar-benar berubah. Sekarang, mau tidak mau aku mengiyakan permintaannya. Aku tidak mungkin egois dan mengorbankan nyawa Mas Dave juga Mas Excel!' batin Vera.


Di saat Vera larut dalam lamunannya. Tiba-tiba pesawat yang di tumpanginya mulai bergerak dan terbang meninggalkan negara yang beberapa bulan ini memberikan suka dan duka.


'Akhirnya Vera ikut denganku! Tapi aku harus berjaga-jaga. Aku tidak bisa membiarkan pria itu mencari vera.' batin Putra.


Dengan sekuat tenaga, Excel dan Dave berjalan tertatih menuju rumahnya.


"Dave, aku sudah tidak kuat lagi. Tubuhku terasa kaku dan nyeri! Kita istirahat dulu, ya!" pinta Excel duduk di pinggir jalan.


"Kita tidak ada waktu untuk duduk di pinggir jalan, Cel." jawab Dave.


"Tapi, Dave! Kau tidak bisa memaksakan tubuhku yang penuh dengan luka lebam!"

__ADS_1


"Terserah. Istirahatlah jika kau mau! Tapi, aku akan tetap berjalan. Aku harus mencari keberadaan pria itu!" ujar Dave tetap melangkah meninggalkan Excel yang tengah bersantai di pinggir jalan.


Melihat sahabatnya pergi, mau tidak mau Excel menguatkan dirinya. Dia berjalan sekuat tenaga menyusul sahabatnya.


"Tunggu aku! Apa kau tidak takut kalau aku pingsan, ha!" ketus Excel yang di abaikan Dave.


"Taksi!" teriak Dave saat melihat taksi yang melintas membuat taksi tersebut berhenti.


"Dave! tunggu aku!" teriak Excel saat melihat sahabatnya masuk ke dalam taksi.


"Cepatlah! Aku tidak mau membuang waktuku! Kita harus mencari keberadaan istriku!" pekik Dave membuat Excel berlari kecil sambil memegang perutnya yang terasa sakit.


Excel masuk ke dalam taksi dan taksi pun berjalan menuju kediaman Dave.


"Dave, setelah pulang nanti. Kau harus kerahkan anak buahmu untuk mencari keberadaan Vera!" saran Excel menyenderkan tubuhnya di kursi.


"Tidak perlu kau ucapkan, aku akan melakukan itu semua. Tapi, aku harus tahu, keberadaan pria itu. Aku takut Vera di sekap di rumahnya!" jawab Dave yang mendapat gelengan kecil dari Excel.


"Tidak mungkin, Dave! Seperti yang aku lihat, pria itu bukan pria boddoh! Pria itu tidak mungkin menyembunyikan Vera di rumahnya. Pria itu pasti membawa istrimu ke tempat lain!" ucap Excel lagi.


"Kau benar. Kesempatan ini adalah kesempatan langka baginya. Dia tidak mungkin membawa Vera ke tempat yang bisa kita gapai. Tapi, kira-kira dia bawa Vera kemana?" tanya Dave kembali berpikir.


"Ya ... mungkin saja, dia bawa Vera ke tempat yang jauh? Seperti luar negeri?" ujar Excel asal.


"Luar negeri?" gumam Dave, 'Apa pria itu akan bawa Vera kembali ke asalnya?' batin Dave.


"Iya, Dave. Kemungkinan dia bawa istrimu ke luar negeri. Kau tahu sendiri kan? Dia seperti orang yang tidak waras!"


"Aku tidak tahu, tapi jika benar ... aku akan susul mereka, aku akan cari mereka."


"Aku ikut denganmu, Dave! Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Kita sahabat!" titah Excel.


"Kau urus saja semua pekerjaanku!" kesal Dave.


"Dave, aku harus ikut kamu! Aku tidak bisa membiarkanmu matti konyol di tangan pria itu! Jangan bantah ucapanku!" kesal Excel.


"Terserahmu saja. Belum tentu, dia membawa Vera ke luar negeri. Aku akan minta anak buahku untuk mencarinya di keliling kota ini!"

__ADS_1


"Itu ide yang bagus." jawab Excel dengan mengacungkan ke dua jempol tangannya.


'Mau kalian pergi ke ujung dunia pun, akan aku kejar!' geram Dave dari dalam hati.


__ADS_2