
'Aku harus memotret dan mengirimkan pada Kak El, lumayan ... aku bisa peras dia, hahaha ...,' batin Vin mengeluarkan ponsel dan memotret kebersamaan Vera dengan Dave.
"Vin, kau mau apa? Kau mau memotret mereka?" tanya Putri, seketika Putra merampas ponsel milik Vin.
"Hei, kembalikan ponselku!" teriak Vin membuat Vera dan kedua pria yang sedang berjalan menghentikan langkahnya.
Merasa mengenal suara temannya, Vera pun mengedarkan pandangan dan menemukan meja di mana terdapat kekasih dan beberapa teman lainnya sedang berkumpul, seketika tubuh Vera menegang saat melihat ekspresi Putra yang tengah marah.
"Mas, jangan lihat ke belakang, tidak ada apa-apa di belakang," ujar Vera yang tiba-tiba berdiri di hadapan suaminya, dia menangkup wajah suaminya yang ingin menoleh belakang.
"Dan Mas Excel, jangan melihat ke belakang juga. Tiba-tiba aku sangat lapar, bau makanan di sini sangat wangi, perutku sudah keroncongan," pinta Vera sambil memegang perutnya.
"Dave, perutku juga sangat lapar. Mungkin suara yang kita dengar, hanya suara--"
"Lanjutkan langkah kita, aku tidak mau mendengar ocehan kalian," timpal Dave membuat hati Vera terasa lega.
'Akhirnya, Mas Dave tidak melihat Putra, aku tidak bisa bayangkan jika Mas Dave bertemu Putra lagi, pasti Mas Dave mengiraku berkencan dengannya dan semua kebahagiaanku akan hancur,' batin Vera mematung.
"Nyonya, jangan diam saja, ayo kita masuk. Nyonya bilang, Nyonya sudah lapar," titah Excel saat melihat istri sahabatnya melamun.
"Eh, maaf ... ayo kita jalan," ucap Vera kemudian menyusul suaminya yang sudah melangkahkan kakinya terlebih dahulu.
"Selalu saja meninggalkan ku," gerutu Vera yang masih bisa di dengar oleh Excel.
"Memang seperti itu orangnya. Tidak suka keramaian, dan bertindak seenaknya," timpal Excel tiba-tiba.
"Benarkah? Tapi aku pernah melihatnya akrab dengan beberapa orang di Caffe, aku lupa nama caffe nya apa," ucap Vera berjalan berdampingan dengan Excel.
"Oh, mungkin yang dimaksud Nyonya, caffe milik Dave. Memang Dave tidak suka keramaian, tapi sebenarnya dia orang yang sangat lembut, mudah akrab dengan orang lain. Apalagi jika berada di Caffe miliknya, dia akan berbaur dengan pegawainya," ucap Excel membuat Vera bingung.
"Aku tidak maksud dengan ucapanmu, Mas?" ujar Vera menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Maksud Mas, Mas Dave mempunyai Caffe sendiri? Dan Mas Dave tidak membeda-bedakan antara bos dan karyawannya, maka dari itu ... Mas Dave bisa dengan cepat mengakrabkan diri?" jelas Vera dengan detail.
"Ah iya, maksudku seperti itu."
__ADS_1
"Ekhem ... "
"Kalian sedang membicarakan ku?" tanya Dave setelah mereka berada di depan private room.
"Emm tidak Mas, mana mungkin aku berani membicarakan mu di saat ada kau di sini," jelas Vera cengengesan.
"Iya, kami sedang membicarakan mu. Dia bertanya tentang caffe milikmu itu? Kenapa karyawannya sangat begitu hangat padamu. Mungkin saja, istrimu cemburu," ujar Excel membuat Vera melototkan matanya.
"Tidak Mas, itu tidak mungkin. Aku tidak bertanya seperti ini. Sungguh, Mas Excel merekayasa eh maksudku memfitnah ku, Mas!" bela Vera, tangannya mencubit lengan Excel kencang.
"Aww ... sakit,"
"Dave, istrimu sangat agresif. Aku tidak bisa bayangkan jika kalian berada di atas ranjang," ringis Excel berlari sambil mengusap lengan bekas cubitan yang diberikan Vera.
"Mas Dave, aku tidak bertanya seperti itu. Sungguh ... sumpah ... Mas Excel yang mengarang cerita," ujar Vera saat melihat raut wajah suaminya yang sudah berubah.
"Masuklah, jangan pikirkan ucapan Excel. Anak itu memang hobi mengarang cerita," ujar Dave yang kemudian berjalan lebih dulu menyusul sahabat serta sekertarisnya.
'Beruntung, aku aman. Setelah ini, aku harus meminta maaf pada Putra. Pasti dia sangat kecewa dan marah, apalagi ada Putri di sana, sudah pasti wanita itu akan menggosipkan ku yang tidak-tidak,' batin Vera mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Di saat Putra sedang mengontrol emosinya, tiba-tiba ponselnya menyala dan melihat satu notif pesan masuk dari kekasihnya. Segera Putra membuka dan membaca pesan tersebut.
'Maaf sayang, aku benar-benar terpaksa menerima ajakan makan siang dari Mas Dave dan sekretarisnya. Semoga saja, kamu mau mengerti perasaan ku, sayang. Dan maaf aku tidak menegur atau menyapamu, aku tidak mau Mas Dave curiga atau Putri curiga tentang hubungan kita.'
Setelah membaca pesan dari kekasihnya, hati Putra seketika menghangat, genggaman tangan yang begitu erat, seketika memudar dan digantikan dengan senyum manisnya.
'Tidak apa-apa. Aku tahu posisimu, aku akan memaafkan mu. Lain kali, jangan menghubungi Om-Om itu, dan tunggulah di mobil,' send Putra.
Melihat kekasih simpanannya fokus pada ponselnya, tiba-tiba perasaan Putri terasa kesal.
"Put, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Putri membuat Putra mematikan ponselnya dan bergabung dengan temannya.
"Tidak apa-apa," ketus Putra pada Putri.
__ADS_1
'Aku yakin, Putra sedang cemburu karena aku berdekatan dengan Vin,' batin Putri tersenyum bahagia.
"Untuk apa kau memotretnya, Vin. Mereka bukan urusan kita," ucap Putra mengembalikan ponsel milik temannya.
"Memangnya harus aku ucapkan, untuk apa? Bisa saja kan, aku fans Vera," ketus Vin.
'Sial, duitku hilang. Padahal, aku bisa mendapatkan uang yang lebih banyak lagi dari Kak El,' batin Vin menjerit kesal.
"Apa ... kau ingin memberitahukan pada teman sekelasmu atau sekampus, jika mahasiswi baru yang cantik itu simpanan Om-Om?" tuduh Putri membuat Putra beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana, Put?" tanya Putri saat melihat Putra beranjak dari tempat duduknya.
"Aku mau pulang."
"Aku ikut, aku juga harus pulang," timpal Putri.
"Arah kita berbeda. Aku tidak mungkin memberi tumpangan padamu. Lebih baik, kau minta antar Vin saja," tolak Putra.
"Walaupun kita searah, tapi aku tidak mau mengantarkan mu pulang. Kau telah membuat semuanya kacau!" ucap Vin beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Putra dan Putri di restoran.
"Sayang, jangan marah. Sekarang Vin sudah pergi," rayu Putri mengikis jarak dengan Putra.
"Aku tidak bisa mengantarkan mu, Putri. Aku akan memberikan mu uang untuk ongkos perjalanan mu. Lagi pula, di mana teman-teman mu, sebelum aku turun dari mobil, aku melihat mu asik bercanda dengan teman wanitamu," ketus Putra mengambil beberapa lembar dollar untuk diberikan pada Putri
"Aku tidak butuh uangmu. Aku hanya butuh kamu, Put!"
"Aku tahu kau lagi kesal, karena--"
"Cukup! Aku cape! Aku mau pulang!" timpal Putra cepat melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
"Put! tunggu aku!" pekik Putri saat Putra telah meninggalkannya, "Aku ikut, Put!" teriaknya lagi.
***
__ADS_1
"Bagaimana rasa makanan di sini?" tanya Excel setelah Vera menyuapkan potongan steak pertamanya, "Enak bukan?"
Bersambungš