Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 127


__ADS_3

Tok ...


Tok ....


"Vera, jawab pertanyaanku! Jangan membuatku khawatir!" titah putra lagi.


Di dalam kamar, Vera yang mendengar panggilan dari putra pun langsung berjalan membukakan pintu kamarnya.


Krek!


"Put!" jawab Vera dengan lirih.


"Ver, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Putra.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya lemas," jawab Vera mempersilahkan Putra masuk ke dalam kamarnya. "Aku mau tidur, Put! Kepalaku pusing dan perutku sedikit sakit!" ujarnya lagi.


"Kamu sudah makan?" tanya Putra yang mendapat anggukan kecil dari Vera.


"Sudah. Tapi masih sisa sedikit. Aku sudah kenyang! Terimakasih, ya!" jawab Vera merebahkan tubuhnya di kasur.


'Yes, akhirnya obat itu mulai bereaksi!' batin putra. "Ya, sudah. Kamu istirahat saja! Biar aku yang membereskan semua ini!"


"Terimakasih, tapi boleh aku minta sesuatu?" ucap Vera.


"Katakan, sayang!"


"Aku mau suusuu! Boleh, aku beli suusuu di supermarket. Aku tidak akan kabur!" pinta Vera.


'Aku tidak bisa membiarkan Vera pergi sendiri. Apalagi, dia sedang kesakitan karena efek obat itu!' batin Putra.


"Put! Aku boleh keluar sebentar? Aku janji, aku tidak akan kabur!" pinta Vera memohon.


"Aku tidak akan mengizinkanmu keluar! Biar aku saja yang membelikannya. Kamu tunggu di rumah. Dan jangan mencoba-coba untuk kabur! Aku tidak suka di bohongi! Apa kamu mengerti ucapanku!" titah Putra.

__ADS_1


"Bagaimana aku mau kabur, sedangkan tubuhku lemas seperti ini, put!" jawab Vera.


"Baiklah. Kamu tunggu sebentar! Aku akan pergi ke supermarket depan." titah putra kemudian berjalan keluar kamar.


Melihat putra pergi, Vera tersenyum sinis, 'Sudah aku tebak, aku merasakan kejanggalan saat putra bersikap baik padaku. Dan ternyata, aku bisa buktikan sendiri kalau Putra memberikan sesuatu di makananku. Buktinya, sewaktu aku mengeluh lemas serta perut sakit, putra menampilkan senyum tipisnya.' batin Vera, kemudian berjalan menuju pintu utama rumah. "Aku harus kabur, sebelum putra kembali!" ujarnya lagi.


Krek!


Krek!


Pintu rumah terkunci dari luar. "Ah Siaal! Kenapa pintu rumahnya terkunci. Putra!" geram Vera kembali masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan di satu sisi. Putra menghentikan Taksi yang lewat. Tak henti-hentinya, dia tersenyum saat membayangkan raut wajah Vera yang mengeluh kesakitan. 'Maafkan aku, Ver! Aku terpaksa melakukan semua ini. Dia harus merasakan apa yang aku rasakan dulu! Dia harus merasakan kehilangan! Kehilangan calon anaknya. Setelah itu, kita imbang. Dan aku bisa merebut hati Vera lagi!' batin putra dengan menyilangkan kakinya.


Ke esokkan hari.


Sesuai dengan rencananya. Kini Dave dan Excel sudah berada di Bandara. Tidak ada yang tahu kepergian mereka yang sangat mendadak.


"Sudah aku bilang, kau tidak perlu ikut! Kau urusi saja kantor dan caffe ku!" kesal Dave setelah mendudukkan pantatnya di kursi penumpang pesawat.


"Terserahmu. Tapi setelah sampai nanti! Jangan beritahu Zena, jika Vera hilang! Beritahu saja, kita ada meeting di sini atau pekerjaan di sini. Dan Vera tidak ikut, itu kalau Vera tidak ada di rumah Zena. Tapi kalau Vera ada di rumah Zena, aku akan mengatakan yang sejujurnya!" titah Dave.


"Tapi aku rasa, Vera tidak ada di rumah Zena. Coba kamu pikirkan ... untuk apa pria itu membawa Vera ke rumah kakaknya. Sedangkan kakaknya tahu, kalau Vera sudah menikah? Tidak masuk akal sekali, Dave!" ujar Excel.


"Siapa tahu, Vera kabur saat melihat celah dan dia takut kembali ke kita karena anak buah pria itu? Jadi, dia kabur ke rumah kakaknya?" jawab Dave masuk akal.


"Kau benar, tapi aku tidak bisa memastikan. Lebih baik, kita memastikan sendiri saja!" ujar Excel menatap awan cerah di pagi hari dari dalam pesawat.


Sedangkan di satu sisi, Vera menggeliat. Dia merasakan perutnya yang terasa lapar, bahkan bunyi di perutnya menjadi faktor dirinya terbangun dari tidurnya.


"Aku lapar sekali. Tapi aku harus pura-pura sakit perut di depan putra." lirih Vera lalu mendengar ketukan pintu dari luar kamar.


Tok ...

__ADS_1


Tok ....


"Ver! Kamu sudah bangun?" tanya Putra dari luar kamarnya. "Vera! Jangan bilang kamu kabur!" sambungnya lagi.


"A-aku tidak kabur, Put!" ujar Vera turun dari ranjang dan berjalan membukakan pintu kamarnya.


Krek!


Pintu kamar terbuka lebar. "Semalam aku sudah membelikan apa yang kamu minta, tapi aku ketuk-ketuk kamarmu, tidak ada sahutan! Jadi, aku pikir, kamu sudah tidur duluan!" ujar putra menyodorkan segelas suusuu ibu hamil pesanan Vera. "Minumlah! Semalam tidak terjadi sesuatu padamu, kan?" tanya Putra lagi.


"Semalam perutku terasa sakit, dan--"


"Dan apa, Ver?" tanya Putra penasaran.


"Ada bercak merah. A-aku takut!" lirih Vera, sesekali melirik sekilas ke arah Putra.


"Bercak merah seperti apa? Seperti daaraah?" tanya Putra yang mendapat anggukan kecil dari wanita di hadapannya.


"Iya, aku takut!"


"Lalu sekarang? Apa bercak itu masih keluar?" tanya Putra lagi.


"Terakhir keluar sedikit banyak dan setelah itu aku lemas. Aku seperti pingsan. Boleh, aku pergi? Aku mau cek ke dokter. Aku takut terjadi sesuatu dengan calon anakku!" pinta Vera sambil meminum suusuu ibu hamilnya.


'Apa obat itu sudah bekerja. Dan kini Vera sudah keguguran? Jika benar, dia sudah keguguran. Maka, aku harus merayakan!' batin Putra.


"Put, aku boleh pergi ke dokter, ya!" pinta Vera setelah selesai menghabiskan satu gelas suusuu nya.


"Okeh, aku temani. Aku juga tidak mau terjadi sesuatu denganmu, Ver! Kamu tenang saja! Selama ada aku di sampingmu. Aku akan selalu menjagamu!" ucap Putra mengambil gelas kosong yang berada di tangan Vera. "Sekarang, kamu mandi dan aku sudah belikan satu set pakaian. Kamu bisa pakai pakaian ini. Setelah itu, kita pergi ke dokter! Aku juga takut terjadi sesuatu dengan calon anakmu!" ujar Putra memberikan paper bag yang berisi pakaian untuk Vera.


Vera menerima paper bag tersebut, "Terimakasih, Put! kamu orang yang paling baik! Aku mandi dulu, ya!" titah Vera berjalan masuk dan menutup pintu kamarnya.


Setelah pintu kamar tertutup, Vera menghembuskan napasnya lega.

__ADS_1


"Huh! Akhirnya, perutku terisi juga. Maafkan ibu ya, karena ibu baru bisa memberi suusuu untukmu. Tapi setelah sandiwara ibu selesai, ibu akan membeli semua makanan yang sehat dan bergizi. Ibu janji!" ujar Vera berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Di luar kamar Vera. Putra tersenyum puas. Dia meletakkan gelas kosong itu di sembarang arah, 'Akhirnya, apa yang aku rencanakan bisa berjalan sesuai rencana. Sekarang, aku harus menyediakan banyak tissue karena akan ada kabar buruk yang di dengar oleh Vera!' gumam putra dalam hati.


__ADS_2