
"Diamlah. Dan ikuti mobilnya. Jangan sampai kita kehilangan jejaknya!" titah Dave membuat Excel diam seribu bahasa. Dia semakin menancapkan gas mobilnya, membuat Putra yang tak sengaja melihatnya, langsung menancapkan gas mobilnya.
"Jangan ngebut, Put! Aku takut!" lirih Vera.
"Kenapa? Ada aku di sini. Aku tidak mungkin membuatmu celaka"
"Putra cukup! Aku tidak mau ikut denganmu. Cepat, antarkan aku ke rumah suamiku!" teriak Vera membuat Putra semakin menarik gas sampai-sampai Vera ketakutan.
"Diam! Aku tahu, tanganmu melambai ke mobil belakang, kan? Dan aku yakin, jika mobil yang di belakang, adalah mobil suamimu. Jadi, dengan terpaksa, aku harus mengecoh meraka. Kau tidak perlu takut, sayang!" titah Putra.
"Siapa yang takut? Bukankah, kau yang takut aku mati?" ejek Vera. 'Mas Dave, kamu melihatku, kan? Tolong aku! Aku takut berduaan dengan putra.' batin Vera yang sesekali melirik kaca spion mobil yang di tumpangi.
Melihat arah Vera yang terus menatap ke belakang, membuat putra tersenyum sinis. "Mobilku dan dia, sudah berbeda. Aku tidak yakin, kalau mereka dapat menghadangku!" ejek Putra sambil menatap lurus ke depan.
"Bisa saja! Kau yang tidak tahu, keahlian suamiku juga sekertarisnya!" ketus Vera melambaikan tangannya lagi.
Putra menarik tangan Vera agar tidak keluar dari mobilnya. "Sudah cukup! Aku tidak mau, terjadi sesuatu padamu. Diam dan tatap lurus ke depan!"
"Kau yang diam! Kenapa kau jadi berubah, Put! Ini bukan kamu yang dulu! Kamu yang dulu sangat menghormati dan menghargai aku! Apa pergaulan di sini yang membuatmu menjadi seperti ini? Sekarang, kita bicara baik-baik. Aku tidak mau, melihat sikapmu yang jahat terus!" rayu Vera, 'Semoga saja, Putra mau mendengarkanku! Jadi, aku tidak perlu repot-repot membuang tenagaku untuk melompat dari mobil!' batin Vera.
"Aku berubah karena mu. Dan aku tidak percaya cintamu hanya sebatas satu biji jagung. Aku menunggumu, Ver!"
"Tapi, kamu juga berkhianat padaku, Put! Wanita mana yang hatinya tidak sakit, saat melihat kekasihnya bermesraan dengan wanita lain yang cantiknya melebihi aku!" kesal Vera.
"Sudahlah. Aku khilaf! Lagi pula, sekarang ... aku sudah memilihmu!"
"Tapi aku tidak bisa memilihmu, Put! Keadaan sudah berubah. Aku sudah menikah!" pekik Vera.
"Ceraikan saja suamimu. Dan kita akan menikah," ujar Putra dengan ringannya.
"Bagaimana dengan Putri? Aku dengar, di hamil anakmu!" tanya Vera.
"Aku bisa memintanya untuk melaku--"
"Stop! Aku lagi hamil! Aku tidak bisa memilihmu!" potong Vera yang lagi dan lagi membuat putra kesal. Dia menancapkan gas mobilnya lebih cepat.
__ADS_1
"Put! Kau gila!" teriak Vera. "Kita bisa celaka! Yang benar, kalau mengemudi!" sambungnya lagi.
Putra tersenyum sinis. Dia menatap lurus ke depan. Jalanan yang sepi, dan di sampingnya banyak pepohonan, membuat jalanan itu terkesan lebih menyeramkan.
"Kita mau kemana? Kenapa, kita pakai jalur ini, Put! Ini bukan jalur rumahmu atau pun rumahku!"
"Kita ke bandara!" ucap Putra menatap sekilas wajah shok Vera.
"Apa! Bandara? Kamu jangan gila, Put! Untuk apa kita ke bandara! Aku tidak mau ikut denganmu!"
"Kita kembali ke negara asal kita. Lagi pula, Aku tidak betah di sini. Terlalu banyak pengganggu yang akan merecoki kita!" ucap Putra.
"Tiket! Apa kau sudah membeli--"
"Jangan khawatir. Aku sudah memesan tiket."
"Sialaan, kamu tidak bisa berbuat seenaknya padaku, Put!"
"Kenapa? Lihat, lah! Mobil suamimu, sudah tertinggal jauh. Aku yakin, mereka tidak akan bisa menemukan keberadaan kita!"
Mobil Putra terparkir sempurna di depan lobby bandara.
"Ingat, kalau kamu berani buka suara atau minta tolong ... Maka suamimu akan dalam bahaya. Aku sudah meminta anak buahku untuk mengepung suamimu!" titah Putra melepas sabuk pengamannya.
"Jangan sakiti dia! Dia tidak bersalah! Urusanmu denganku, bukan dengannya!" ketus Vera.
"Intinya, jika ada seseorang yang dekat denganmu. Di saat itu juga, akan menjadi urusanku! Kau mengerti!"
"Aku tidak mau turun!" ketus Vera menyilangkan ke dua tangannya di dada.
"Cepat turun! Jangan membuatku emosi!"
"Siapa yang membuatmu emosi, Put! Aku mau pulang!" ketus Vera.
"Iya, kita akan pulang! Tapi pulang ke negara kita, bukan ke rumah suamimu atau rumahku. Aku yakin, rumahku sekarang ... sudah tidak aman lagi! Kita turun, ya!" titah Putra sambil membelai wajah wanita di hadapannya dengan lembut.
__ADS_1
"Sudah aku bilang berulang kali, jangan sentuh aku! Aku tidak suka di sentuh pria sepertimu!"
"Baiklah. Jika aku memperlihatkan video suamimu. Pasti, kau akan patuh padaku!" ucap Putra mengambil ponselnya dan memutar video yang baru saja di berikan anak buahnya.
Mata Vera membulat sempurna. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Aku tahu, kau merekayasa semua ini, kan? Agar aku takut dan patuh padamu!" ejek Vera membuat Putra terkekeh.
"Yakin? Kalau begitu, kita lihat saja. Apa ini rekayasa atau ini sungguhan." lirih Putra dengan senyum iblisnya.
Putra mencari foto yang di kirimkan anak buahnya. "Lihat, ini. Wajah suamiku, kan? Dan ini, wajah sekertaris suamimu yang tak sadarkan diri. Lihatlah dengan jeli. Pakaian dan mobilnya!" titah Putra memberikan foto Dave yang pingsan di dalam mobil.
'Astaga, Putra benar-benar pria yang nekat! Aku tidak percaya, Putra akan berbuat kejam kepada Mas Dave dan Mas Excel!' batin Vera berusaha mengambil ponsel milik Putra.
Di saat Vera ingin mengambil ponselnya, Putra segera menarik dan menyembunyikan ponselnya. "Mau apa, Hem? Mau menghubungi suamimu itu?" ejek Putra.
"Berikan ponselmu. Aku harus bicara dengan semua anak buahmu. Agar mereka tidak berbuat jahat lagi pada Mas Dave dan Mas Excel."
"Ikut aku. Setelah kita sampai, aku akan berikan ponselku. Bila perlu, aku berikan ponsel keluaran terbaru untukmu!" bujuk Putra.
"Aku tidak mau!" ketus Vera.
"Pilihanmu ada dua. Ikut pergi denganku atau melihat suamimu maati di tanganku! Selama ini, aku sudah cukup sabar menghadapi sikapmu yang selalu bermesraan dengan pria tua itu. Tapi, lambat laun ... aku tidak bisa melihatnya. Aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu, Ver!"
"Tapi, aku sudah tidak memiliki rasa apapun padamu!" ketus Vera.
"Semua keputusan ada di kamu. Jika ingin melihat suamimu lepas dari tanganku, maka aku mau ... kau ikut denganku!" ujar Putra membuat Vera terdiam.
'Apa-apaan ini! Aku tidak bisa membiarkan Mas Dave maati di tangan Putra. Tapi, aku tidak bisa ikut dengannya. Aku sudah nyaman di sini!' batin Vera.
"Aku beri waktu kamu berpikir 5 menit!" titah Putra.
'Apa aku ikuti saja permainan Putra? Aku juga tidak mau melihat Mas Dave babak belur!' batin Vera.
"Bagaimana?" tanya Putra
__ADS_1
"Apa,