Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 57


__ADS_3

"Apa! yang benar saja, Put!" jawab Vera menarik tubuhnya, "Kenapa, sekarang ... kau banyak berubah, Put?"


"Berubah? aku tidak pernah berubah. Aku tetap Putra yang kau kenal," jawab Putra menyalakan mesin mobilnya.


"Kita mau kemana, Put? aku bicara pada Mas Dave hanya pergi sebentar!" ucap Vera panik.


"Memangnya kenapa? apa pemotretannya belum selesai?" tanya Putra.


"Aku akan pergi." titah Vera membuka pintu mobil, "Buka pintunya, Put!" sambung Vera saat pintu mobil terkunci, "Ada apa denganmu? kenapa sikapmu berubah?"


"Kau mau tahu, kenapa sikapku berubah?" ucap Putra yang diangguki oleh Vera.


"Aku kecewa denganmu, kau lebih mementingkan pria itu daripada kekasihmu sendiri. Kau sadar tidak? dari kemarin ... kau selalu menghindar dariku. Kau lebih mementingkan dia daripada aku, kekasihmu!" jawab Putra mematikan mesin mobilnya dan meraih kedua pundak Vera, "Tatap mataku Ver! kamu tidak mencintainya, kan?"


"Put, maafkan aku. Jika, beberapa hari ini aku mengabaikan mu, tapi percayalah ... aku sangat mencintaimu. Please! jangan cemburu buta seperti ini."


"Siapa yang cemburu buta, Ver! aku hanya mencemaskan perasaanmu. Aku takut, hatimu perlahan luluh saat dia memperlakukanmu dengan lembut. Udah itu saja," ucap Putra.


"Aku harus pergi!" Vera melepas tangan Putra yang memegang kedua pundaknya.


"Aku tunggu sampai 6 bulan. Aku harap, kamu tidak membohongiku, sayang ...." ucap Putra saat melihat kekasihnya keluar dari mobil.


'Aku tidak berjanji. Perlakuan mu, membuatku tak nyaman. Aku seperti tahanan jika berada di dekatmu, Put!' batin Vera tersenyum dan melambaikan tangannya sebelum mobil Putra benar-benar pergi.


Setelah kepergian Putra, Vera pun berlari masuk ke dalam kantor suaminya. Dia berlari menuju pintu lift yang hampir saja tertutup, segera mungkin ... Vera memencet tombol lift agar pintu lift tidak tertutup.


"Mas Excel ...," sapa Vera saat melihat pemakai lift adalah sekertaris suaminya.


"Masuklah," titah Excel tegas.


"Iya Mas."


Akhirnya Vera melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam lift. Di saat pintu lift tertutup, beberapa menit yang tercipta hanya keheningan. Tidak ada yang berbicara atau memulai percakapan antara kedua manusia tersebut.


Ting ....

__ADS_1


Pintu lift terbuka, di saat Vera hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba lengannya di tarik oleh pria yang berstatus sekertaris suaminya.


"Aku tekankan lagi, jangan pernah membuat hati Dave terluka. Jika, semua itu terjadi, maka ... kau berurusan denganku, camkan itu!" ucap Excel kemudian melepas cengkramannya, "Seharusnya, kau beruntung mendapatkan suami seperti Dave. Dia selalu diam saat melihat kelakuanmu yang menjijikkan. Tapi kali ini, aku tidak bisa diam saat melihat kau bermesraan di depan kantor suamimu sendiri. Ingat! penyesalan ada di belakang, seperti aku sekarang ... aku menyesal karena melindungi mu dari ulat kecil seperti--"


"Apa maksud Mas Excel?" potong Vera, "Mas Excel melihat semuanya?"


"Kau tidak perlu tahu, yang perlu kau tahu ... penyesalan kehilangan seseorang lebih menyakitkan." ucap Excel berjalan keluar lift.


'Aduh, bagaimana ini. Mas Excel bisa mengadukan semua ini pada Mas Dave,' batin Vera mulai melangkahkan kakinya lemas, "Aku tidak mau kehilangan Mas Dave, tapi aku juga tidak mau kehilangan Putra. Aku harus bagaimana? jika boleh, aku akan memilih keduanya," gumam Vera mengusap wajahnya secara kasar berulang kali.


Setelah berjalan dengan terseok-seok, akhirnya Vera sampai di ruangan suaminya. Tanpa ingin mengetuk pintu, Vera langsung saja masuk ke dalam ruangan suaminya.


Dave yang melihat istrinya terlihat lesu pun mengerutkan keningnya sesaat sebelum dia kembali menatap layar komputernya.


"Mas Dave, jangan marah!" rengek Vera menjatuhkan bokongnya di depan suaminya, "Aku salah, tapi aku mempunyai alasan, Mas! Jangan marah!" sambungnya lagi.


"Hei, kau kenapa?" tanya Dave menepuk kedua pipi istrinya pelan.


"Aku salah Mas, hiks ... hikss ...."


"Iya-iya, aku akan memaafkan mu, tapi siapa yang membuatmu seperti ini, hem?" tanya Dave, pikirannya teringat saat dirinya memerintahkan Excel untuk mengawasi istrinya yang ingin bertemu dengan kekasih gelapnya.


"Kita ke kamar, dan kau istirahatlah. Aku ada sesuatu yang harus aku urus," titah Dave mendudukkan istrinya di atas ranjang.


"Tapi maafkan aku, Mas. Jujur aku salah, tapi aku--"


"Sudah-sudah, kau pasti mabuk," ujar Dave mencium aroma alkohol di napas istrinya.


"Aku tidak mabuk, aku hanya meminum 3 botol minuman saja," gumam Vera, tubuhnya seketika ambruk di atas ranjang, "Jujur aku tidak kuat berbohong terus Mas, tapi aku takut kamu pergi!"


Tak ingin mendengar celotehan dari istrinya yang tengah mabuk, Dave segera meluruskan kaki dan melepas sepatu istrinya, tak lupa dia menyelimuti tubuh istrinya.


"Ke ruanganku sekarang!" titah Dave pada Excel setelah panggilannya terhubung.


Setelah menelpon sekretarisnya, Dave pergi meninggalkan istrinya sendiri di kamar dan menunggu kedatangan sekertaris sekaligus sahabatnya.

__ADS_1


Tak sampai 5 menit, akhirnya sekertarisnya tiba di ruangan yang begitu luas dan megah.


Krek ....


"Ada apa kau memanggilku?" tanya Excel berjalan menghampiri Dave yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


Dave menatap sekilas lalu beranjak dari tempat duduknya, "Apa yang kau lakukan pada istriku?" ujar Dave tatapannya sangat tajam, terlihat matanya sedikit memerah.


"Aku tidak melakukan apapun. Sesuai perintah, aku mengikuti dia pergi menemui kekasihnya."


"Dia mabuk! dari mana dia dapat wine?"


"Mabuk?" tanya Excel memastikan, "Mungkin, dia beli atau mengambil di--"


"Jelaskan apa yang terjadi! kenapa istriku kembali dalam keadaan seperti itu. Aku tahu, ini semua karenamu." ucap Dave.


"Aku hanya mengucapkan apa yang seharusnya aku ucapkan. Aku tidak terima hatimu terus tersakiti. Aku tahu, kau sudah menaruh hati dengan istrimu itu kan?"


"Aku hanya geram, kenapa dia menjalin hubungan dengan pria brengsseeek sepertinya. Padahal, jelas-jelas kau lebih baik dan lebih segalanya daripada pria itu," jawab Excel tangannya mengepal erat.


"Dia belum tahu kebusukan kekasihnya, biarkan saja dulu. Kau tahukan, aku selalu mengawasinya? seharusnya ... kau tidak perlu bertindak sejauh ini. Dia istriku, tidak ada yang berhak menyakiti atau membuatnya menangis termasuk kau," ucap Dave berjalan dan menjatuhkan bokongnya di ujung meja kerja.


"Lain kali, jangan bertindak bodoh seperti tadi, aku tidak mau dia ketakutan saat bersama kita. Aku sudah berjanji pada Zena untuk selalu menjaganya."


"Baiklah, semoga saja ... setelah dia sadar nanti, dia bisa mencerna ucapanku."


"Pergilah, lanjutkan pekerjaanmu, kita bertemu di rumah," ucap Dave yang diangguki Excel.


"Okeh ...."


Melihat kepergian sahabatnya, Dave langsung membawa laptopnya menuju ruangan pribadinya, di mana terdapat istrinya yang sedang terbaring dengan keadaan mabuk.


"Apa yang dikatakan Excel memang benar, secepatnya aku harus membuatmu hamil anakku," gumam Dave meletakkan laptopnya dan mencari ponsel istrinya yang berada di tas.


Di saat Dave sedang mencari ponsel milik istrinya, tiba-tiba dia menemukan satu strips obat berukuran kecil, "Apa ini?" gumam Dave mengambil obat tersebut.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2