
Vera menggelengkan kepalanya, "Tidak Mas, ini untuk Mas. Dan aku sengaja membuatkan khusus untuk Mas," tolak Vera secara halus.
"Baiklah, karena kamu berani melawanku, maka aku akan memberikan hukuman untukmu. Kali ini hukumannya sangat nikmat," ucap Dave menyeringai, membuat Vera mengambil gelas itu cepat.
"Hehehe ... aku becanda Mas, jangan dimasukkan hati. Lagipula siapa yang berani melawanmu. Dan aku sangat terharu, karena kamu sudah mau memberikan minuman ini untukku," jawab Vera tersenyum kaku. Dia membayangkan rasa jus itu.
"Sekarang minumlah, aku mau melihatmu meminum jus itu. Kamu tahu, rasa jus buah naga itu sangat enak," ujar Dave menatap wajah wanita di hadapannya.
"E-enak ya Mas, baiklah ... aku akan meminumnya," jawab Vera, 'Sekarang aku tahu, kamu sedang mengerjai ku Mas, awas lihat saja nanti! Aku akan membuat perhitungan padamu!' batin Vera menahan nafasnya dan meminum jus yang terasa aneh.
"Sudah Mas, aku tidak terlalu suka dengan buah naga," ujar Vera bohong.
"Mulai saat ini dan detik ini juga, kamu harus menyukainya sayang, habiskan," titah Dave mengusap punggung Vera dengan senyum tipis tapi terlihat mengerikan di mata Vera.
"Ja-jangan mengusap punggungku Mas, aku bisa tersedak. Dan biar aku habiskan sisanya di dapur, sekalian aku akan membawa mangkuk bekas buah mu itu," ucap Vera membalas senyuman suaminya.
'Memangnya aku tidak tahu, kalau kamu akan membuang jus itu. Rasakan, bagaimana rasanya jus buah naga dengan garam. Pasti rasanya sangat aneh,' batin Dave menatap ekspresi wajah istrinya.
"Habiskan di sini, aku lihat setelah kamu meminum setengahnya, wajahmu tidak pucat lagi dan lelahmu seperti hilang seketika," ujar Dave menarik tangannya dari punggung sang istri.
"Benarkah?" jawab Vera tersenyum manis walaupun di dalam hatinya sedang menahan kesal yang luar biasa, 'Bisa-bisanya dia bicara seperti itu. Tentu saja lelahku hilang, karena sudah digantikan dengan amarah yang menggebu-gebu. Ingin rasanya aku pukul kamu dengan tongkat besi Mas,' batin Vera lalu meminum jus nya kembali.
"Nah, jika seperti ini aku senang melihatnya. Aku bahagia mempunyai istri yang sangat patuh pada suaminya. Bagaimana rasa jus itu, pasti manis kan?" tanya Dave.
"Manis Mas, manis sekali. Seperti aku melihat senyumu yang sangat manis," jawab Vera membuat mata Dave menatap tajam, "Ehh ... aku tidak bermaksud menghinamu, aku berbicara jujur, wajahmu memang manis," sambung Vera saat melihat tatapan tajam dari suaminya.
__ADS_1
"Aahh begitu. Aku akan memberikanmu hadiah lagi, karena sudah memuji wajahku yang tampan dan manis," ujar Dave, "Mendekatlah, dan letakkan saja gelas kotor itu di meja," lanjut Dave lagi membuat bulu kuduk Vera merinding.
'Apa aku salah berbicara? Seharusnya tidak. Bukankah tadi aku mengucapkan kata pujian bukan hinaan,' batin Vera meletakkan gelas kotor di meja dan merapatkan tubuhnya pada suaminya
"Mas, tidak perlu memberikanku banyak hadiah. Aku jadi terharu," ucap Vera.
"Apa menyenangkan hati istri sendiri tidak boleh, mari kita lakukan sesuatu yang sempat tertunda," bisik Dave menyelipkan rambut yang menutupi wajah cantik Vera ke belakang telinga, "Aku tahu ini bukan pertama kalinya, karena kau pernah melakukannya dengan kekasihmu sampai menghasilkan calon buah hati di rahimmu," sambung Dave meraba leher jenjang Vera.
'Siall, dugaanku benar. Hadiah macam apa ini,' batin Vera berusaha menyingkirkan tangan nakal suaminya yang sedang meraba setiap tubuhnya, "Mas, sudah malam. Aku harus--" ucapan Vera terhenti saat tengkuknya di tekan pelan dan bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Dave.
Awal niat ingin menggoda istri kecilnya, Dave justru terbawa permainannya sendiri. Melihat leher mulus serta belahan dada Vera membuatnya ingin menyetubuhi istrinya lagi.
'Tidak ada salahnya, jika aku menyetubuhinya. Aku adalah suaminya,' batin Dave dengan tangan berkeliaran melepas pengait brra yang berada di punggung Vera.
Setelah tidak ada pemberontakan dari istrinya, Dave mulai perlahan membuka pakaian milik istrinya.
Setelah pakaian istrinya terbuka, dia bisa melihat dua gunung kembar milik istrinya.
"Mas, hentikan, besok hari pertamaku kuliah. Aku tidak boleh datang terlambat," ucap Vera saat pikiran waras. Dia merasakan kenikmatan surga dunia saat Dave memainkan lidahnya di pucuk gunung kembarnya.
Seakan tuli, Dave semakin memainkan lidahnya dan meremas gunung kembar satunya.
Desahaan demi desaahhan pun lolos dari mulut Vera. keinginannya memperingatkan suaminya hilang seketika.
Penyatuan di lakukan oleh mereka berdua tanpa memikirkan dendam atau kebencian. Hanya ada rasa hangat yang menyatukan mereka dalam malam kedua pernikahannya.
__ADS_1
'Aku tidak ingin mengandung anaknya. Aku mau kuliah, dan aku tidak mau kuliah dengan perut besar. Secepatnya aku harus membeli pil KB, toh kita sama-sama tidak saling mencintai,' batin Vera saat pertempuran sudah berakhir. Ditatapnya wajah pria yang sudah tertidur pulas di sampingnya.
"Wajahnya tampan, tapi sikapnya sangat-sangat menyebalkan," gumam Vera lalu menarik selimutnya sampai leher.
Ke esokan harinya, Vera terbangun lebih dulu. Dia sudah siap dengan pakaian barunya.
"Hai kebebasan, aku datang," gumam Vera pelan sambil menatap dirinya yang sudah rapih di pantulan cermin.
"Lumayan selera sekertaris itu, setidaknya aku tidak akan kepanasan," sambungnya lagi.
"Kau, kau tidak membangunkanku!" pekik Dave saat melihat jam di dindingnya sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"A-aku tidak mau mengganggu Mas Dave. Lagipula Mas Dave tidur dengan nyenyak," ucap Vera memasukkan beberapa buku kosong ke dalam tasnya.
'Ya Tuhan, aku mempunyai istri seperti tidak mempunyai istri,' batin Dave menggeram kesal.
"Tunggu aku. Aku tidak mengizinkanmu pergi sendiri ke kampus!" seru Dave menurunkan kakinya lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Ta-tapi Mas, ja--"
"Berani keluar dari kamar ini tanpa sepengetahuanku. Artinya kamu memilih bermain di atas ranjang dan mengabaikan kuliahmu!" timpal Dave membuat Vera mematung.
'Apa-apaan ini, dia mengancamku?' batinnya tidak percaya.
Bersambungš
__ADS_1