
Belum sempat Vera keluar kamar mandi, Dave sudah mencegahnya. "Mau kemana? Baru juga bangun tidur, sudah ngantuk lagi. Jangan membohongiku! Sekarang, kamu mandi!" titah Dave.
"Lepas, Mas! Aku tidak mau mandi, aku ngantuk. Lebih baik, kamu bilang pada bibi untuk menyiapkan makanan. Jadi, setelah aku bangun dari tidurku. Sudah ada makanan yang tersaji di atas meja. Aku ngantuk, Mas! Aku tidak bohong!" ucap Vera lalu menguap.
Dave berjalan lalu mengunci pintu kamar mandi. "Jika tidak memakai unsur paksaan, maka selamanya kamu tidak akan mandi. Kita mandi!"
"Mas! Aku tidak mau mandi! Aku ngantuk, Aku mau tidur, hiks ... hiks ... kamu jahat, Mas! Jahat!" pekik Vera diabaikan Dave. Dia lebih memilih menyiapkan air hangat untuk istrinya.
Merasa di abaikan, Vera semakin kesal. Dia menghentakkan ke dua kakinya secara bergantian. "Kamu jahat, Mas! Kamu tidak adil. Kamu selalu memintaku untuk menurut semua permintaanmu, tapi kamu tidak pernah mengerti perasaanku. Aku ngantuk saja di paksa mandi! Dasar suami tidak peka!" pekik Vera yang lagi dan lagi diabaikan Dave.
Setelah menyiapkan air hangat di dalam bathup. Dave berjalan menuju istrinya, "Lepas bajumu, dan mandilah. Aku akan melihatmu sampai selesai!" titah Dave yang mendapat gelengan dari Vera.
"Tidak mau, aku malu!" ketus Vera.
"Vera! Cepatlah! Jangan suka menunda-nunda waktu. Kita bisa seharian berdebat. Turuti perintah suami!" ucap Dave yang mulai frustrasi.
"Aku tidak mau, Mas. Jangan paksa aku!" ketus Vera lalu mendengar suara cacing di dalam perutnya, "Mas, aku lapar!"
"Mandi dulu, baru makan!" titah Dave.
"Aku tidak mau mandi, aku lapar, Mas!" rengek Vera.
"Mandi dulu. Setelah itu, kita makan!"
"Janji? Tapi aku mau makan pakai sate Mas! Sate ayam yang paling enak yang ada di Indonesia!" ucap Vera.
Mendengar ucapan istrinya, Dave menghembuskan napasnya kasar, "Kita sedang di mana, Ver! Jangan aneh-aneh! Sekarang, kamu mandi. Atau aku mandikan kamu!" kesal Dave.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau membelikan untukku, tidak apa-apa. Aku tahu, kok! Kamu kan pelit, sangat pelit! Dan tidak seharusnya, aku meminta sate di Indonesia padamu!" ketus Vera membuka baju tidurnya dan berjalan masuk ke dalam bathup dalam keadaan pol*s.
Dave melihat istrinya yang sedang berendam. Dengan segera, Dave melepas pakaiannya dan masuk ke dalam bathup, membuat Vera semakin kesal.
__ADS_1
"Kamu ngapain masuk ke bathup, Mas! Katanya kamu mau lihat aku mandi! Ya sudah, lihatnya dari dekat pintu saja, tidak perlu masuk ke dalam bathup!" sindir Vera.
'Apa Vera benar-benar hamil? Dari gejalanya memang seperti orang hamil. Dan jika benar, Vera hamil? Berarti sikapnya dari semalam, itu faktor hormon kehamilannya? Ya Tuhan, aku benar-benar stres jika menghadapi sikap Vera yang seperti ini, marah-marah terus!' batin Dave menatap istrinya yang bermain busa.
"Jangan terlalu lama berendam. Ingat, katanya kamu lapar!" ucap Dave mengingatkan istrinya.
"Tidak jadi, Mas. Aku tidak mau makan, sebelum ada sate!" tolak Vera.
"Kita beli, tapi daerah sini saja. Aku pikir ada yang menjual sate di sini," bujuk Dave.
"Tidak mau, Mas. Aku maunya sate yang ada di Indonesia!"
"Selain itu, aku janji, akan menuruti permintaanmu!" ucap Dave kesal.
"Janji, Mas?" ucap Vera memastikan.
"Janji. Cepat katakan, apa yang kamu inginkan!" titah Dave.
"Uang? Uang untuk apa, Ver? Bukankah, semua keperluan sudah di beli Bibi dan Lord?" tanya Dave.
"Mas, sebenarnya, kamu tulus tidak, sih! Aku minta sate tidak di turuti dan aku minta uang ... juga tidak di berikan. Ternyata julukan suami pelit berada di kamu!" kesal Vera.
"Memangnya, kamu mau minta uang berapa dan untuk apa?" tanya Dave lembut. Dia mengambil spon sabun yang di genggam istrinya. "Biar aku bersihkan punggungmu." titahnya lagi.
Vera memutar tubuhnya dan menerima gosokan demi gosokan lembut dari suaminya.
"Mas, aku minta uang satu milyar, kira-kira cukup untuk membeli rumah tidak, ya?" tanya Vera tiba-tiba.
"Rumah? Untuk apa membeli rumah? Kita sudah ada rumah!"
"Biarkan saja, Mas. Aku mau hidup mandiri di negaraku sendiri tanpa kamu, Mas. Jadi, aku mau uang satu milyar untuk membeli rumah menggunakan atas namaku sendiri!" jawab Vera.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin mengirimmu uang sebanyak itu. Bukannya aku tidak punya, tapi aku tidak mau kamu--"
"Kamu apa, Mas? Pasti, kamu tidak ingin kehilanganku, kan? Ngaku saja!" titah Vera.
"Dasar wanita terlalu percaya diri, tidak bisa membedakan mana obrolan serius atau bercanda!" kesal Dave.
"Biarkan saja. Kalau kamu tidak ingin kehilanganku, tinggal katakan saja, seperti ini "Vera, istriku. Jangan pergi tinggalkan aku. Aku bisa gila, bila hidup tanpamu. Dan aku tidak bisa berja--"
"Stop, stop! Buang pikiranmu yang seperti itu. Aku tidak mungkin berpikiran seperti itu!" kesal Dave "Sudah selesai, tinggal giliranku. Kamu gosok seluruh tubuhku. Kita saling bekerjasama," titah Dave.
"Astaga, jika kamu menginginkan balasan seperti ini. Lebih baik, kamu tidak usah menggosok punggung tubuhku. Kita mandi sendiri-sendiri saja! Itu juga tidak akan menguras waktu!" sindir Vera menggosok punggung suaminya kasar.
"Aw ... sakit, Ver! Bisa halus sedikit tidak, sih!" kesal Dave.
"Apa sakit? Dan rasa sakit begitu terasa? Tapi, kamu seorang pria. Seharusnya, seorang pria kuat, tidak sedikit-sedikit sakit, capek!"
"Sudahlah. Jangan banyak bicara. Gosok punggungku dengan benar!" titah Dave.
Setelah acara ritual mandinya selesai, Dave dan Vera keluar kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya masing-masing.
"Bersiap-siaplah! Kita ke rumah sakit!" ucap Dave mengambil pakaiannya di lemari.
"Tidak mau, Mas. Sudah aku bilang, aku tidak mau di bawa ke rumah sakit. Seharusnya, kamu bisa menghargai keputusanku ini. Jangan paksa aku!" kesal Vera.
"Sayangnya, aku tidak butuh penolakan. Yang hanya aku butuhkan, adalah kau ikut pergi ke rumah sakit!"
"Hem! Terserahmu. Percuma, aku debat panjang lebar denganmu. Ujung-ujungnya aku yang mengalah!" kesal Vera mengambil pakaiannya.
'Ke rumah sakit? Bagaimana, kalau gejala ini, gejala orang hamil? Aku hamil anak Mas Dave? Untuk ke dua kalinya, aku hamil. Tapi, itu tidak boleh terjadi, aku tidak mau hamil. Aku dan Mas Dave masih memasuki tahap pengenalan, belum jatuh cinta!' batin Vera.
Sedangkan di satu sisi, Putra sudah memarkirkan mobilnya tepat di dekat rumah Vera yang begitu luas.
__ADS_1
"Aku akan menunggu Vera di sini. Jika, dia tidak keluar, aku sendiri yang akan menyelinap masuk ke dalam kamarnya!" gumam Putra dengan senyum sinisnya, "Kamu harus menjadi milikku, Ver! Harus!"