
Vera mengangguk, lalu masuk ke dalam mobilnya, 'Tapi, bagaimana dengan wanita itu? Apa ... aku bisa merebut Putra dari wanita itu?'
"Aku akan coba," gumam Vera mengagetkan Lord yang baru saja menjatuhkan bokongnya di kursi kemudi.
"Nyonya, ada apa? Apa yang akan di coba?" tanya Lord, lirikan matanya melirik tajam pada wanita yang duduk di bangku belakang.
"Hah! Apa? Aku tidak berbicara apapun," jawab Vera santai, "Aku melihat video make up di youtube, dan aku akan mencobanya. Jangan terlalu kepo sama hidup orang, Lord. Urusi saja, kehidupan pribadi mu sendiri," sambung Vera.
"Maafkan Saya, Nyonya. Saya pikir, anda sedang berbicara dengan saya," ucap Lord menyalakan mesin mobilnya.
"Cepat jalan. Aku tidak sabar sampai kampus," titah Vera malas.
"Baik Nyonya."
Setelah beberapa menit, mobil yang ditumpangi Vera membelah jalanan kota yang cukup luas. Akhirnya mobil mereka memasuki gerbang kampus dan terparkir dengan sempurna di parkiran kampus.
'Jika aku meminta mobil, pasti tidak akan diberikan. Kan Mas Dave terlalu sensitif,'
'Tapi, jika aku tetap di kawal olehnya, hidupku juga tidak akan pernah bebas. Bagaimana aku bisa mencari kesenangan di luar sana tanpa diketahui suamiku,' batin Vera melamun.
"Nyonya, kita sudah sampai," ucap Lord setelah membukakan pintu mobil belakang.
"Nyonya?" ulang Lord lagi.
Mendengar kata 'Nyonya', Vera langsung tersadar dari lamunannya. Dia membungkam mulut Lord dengan tangannya.
"Sudah, aku peringatkan berulang kali, jangan pernah memanggilku Nyonya saat di kampus. Bagaimana, jika semua orang tahu? Bisa-bisa, aku di blacklist dari kampus ini. Kamu mau, aku adukan ini pada Mas Dave?" ucap Vera lirih tapi penuh penekanan.
"Maafkan saya, Vera," ucap Lord.
"Jangan meminta maaf, jika hobimu mengulang kesalahan yang sama," gerutu Vera, yang keluar dari mobil dan berjalan mendahului anak buahnya.
'Aku harus mencari keberadaan Putra. Aku akan bicarakan semuanya, terkecuali pernikahan sesaatku,' batin Vera yang sesekali menoleh belakang, untuk memastikan anak buah suaminya tidak mengikuti setiap langkahnya.
"Aku bisa gila, setiap hari diawasi olehnya."
"Ver?" panggil seorang pria yang sudah menunggunya di lorong kampus yang sepi. Di mana Vera pernah melihat pria yang dicintainya bermesraan dengan wanita lain.
Merasa ada yang memanggil namanya, Vera langsung mengedarkan pandangannya dan melihat sosok pria yang dirindukan sedang berdiri diujung lorong. Dengan sigap, Vera berlari dan memeluk pria yang tak lain adalah Putra.
__ADS_1
"Aku merindukanmu yang dulu, sayang," ucap Putra membalas pelukan wanita yang sangat dicintainya.
"Kamu sudah memaafkan ku kan?" sambungnya lagi.
Vera melepaskan pelukannya, kemudian menganggukkan kepalanya, "Aku sudah memaafkan mu, Put. Maaf, kemarin aku emosi," jawab Vera memeluk Putra kembali.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kok, jika aku berada di posisimu, pasti aku akan marah juga," ucap Putra mengecup pucuk kepala wanitanya.
"Setelah ini, ikut aku. Aku sudah bicara dengan Ayah tiriku, jika aku akan melamar mu."
"Melamar?" ulang Vera melepaskan pelukannya.
"Secepat itu?" sambungnya lagi.
"Iya, aku tidak mau kehilanganmu lagi. Jadi, aku sudah memutuskan untuk melamarmu dan menjadikan mu sebagai istriku. Kita bisa hidup bahagia di sini, kuliah bersama, tinggal bersama dan semuanya serba bersama sampai maut memisahkan," jawab Putra mencubit gemas pipi Vera.
"Tapi, aku belum siap, Put!"
"Kenapa? Bukankah, kebahagiaan wanita terletak--"
"Kita jalani hubungan kita secara diam-diam. Dan untuk menikah, aku belum bisa. Apalagi harus tinggal bersamamu. Aku membutuhkan waktu, Put!" timpal Vera cepat.
"Siapa pria itu sayang?" tanya Putra.
"Emm dia ... dia pria yang sudah memungut ku, dan Kakak tiri ku, sudah menitipkan ku padanya. Maka dari itu, aku tidak bisa memenuhi semua keinginan mu sekarang, sayang," jawab Vera.
"Aku akan bicarakan ini pada Kakak tiri mu. Di mana dia? Bawa aku ke tempat Kakak tiri mu sekarang juga,"
"Aku tidak mau kehilanganmu untuk kedua kalinya, Ver."
"Tidak bisa Put! Kakak tiri ku berada di Indonesia. Tolong mengerti perasaan ku," ucap Vera lirih. Pandangannya tak mampu menatap wajah tampan Putra.
"Hei, kenapa? Ada apa?" tanya Putra, kedua tangannya menangkup wajah cantik Vera, "Jangan menangis, aku ada di sini," sambungnya lagi sambil menarik tubuh Vera ke dalam pelukannya.
"Jangan menangis, sayang."
'Bagaimana aku tidak menangis, Put. Aku sudah menikah, dan aku benar-benar tersiksa dengan pernikahan itu, aku dituntut patuh pada suamiku, aku tidak mencintainya, Put. Aku hanya mencintaimu,' batin Vera melingkarkan tangannya pada pinggang Putra.
"Sayang, jangan menangis. Ada apa, hem? Ceritakan semuanya padaku. Jika aku bisa membantu, aku pasti akan membantumu," titah Putra mengusap punggung wanitanya yang bergetar.
__ADS_1
'Tidak mungkin aku menceritakan pernikahan ku padamu, Put. Aku tidak mau membuat mu ilfil atau membenciku,'
Hikss ...
Hikss ....
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya merindukanmu, maafkan sikapku yang kemarin. Aku benar-benar sedang emosi," jawab Vera diselingi isak tangisnya.
"Tidak apa-apa. Sebaiknya kita pergi dari sini. Bahaya jika ada yang melihat kita, di sini," ucap Putra melepaskan pelukannya.
"Kamu masih berhubungan dengan wanita itu, Put?" tanya Vera, memandang wajah pria yang sangat dicintainya.
Putra tersenyum, tangannya terulur untuk menghapus sisa air matanya yang membasahi pipi mulus Vera, "Maafkan aku, Putri tidak ingin mengakhiri hubungannya denganku. Tapi, aku berjanji, akan mengakhiri secepatnya, demi kamu," jawab Putra.
"Jangan Put, aku tidak mau dia marah padaku. Jika kamu mengakhiri hubungan mu dengannya, maka orang pertama yang akan dia cari adalah aku. Aku tidak mau--"
"Itu tidak akan terjadi sayang. Selama aku berada di dekatmu, tidak akan ada seseorang yang berani menghina mu."
"Put, aku mohon. Jangan akhiri hubungan kalian. Kita bisa menjalani hubungan ini diam-diam. Kita bisa--"
"Aku tidak bisa. Aku tidak mau melihatmu menangis lagi karenaku," timpal Putra.
"Aku berjanji, aku tidak akan menangis atau bersedih saat aku melihat mu sedang bersamanya. Lagi pula, dia hanya simpananmu saja kan?" ucap Vera tersenyum, dia meraih tangan pria dihadapannya, "Percaya padaku. Aku kuat."
"Baiklah, aku akan menuruti semua keinginan mu," jawab Putra mengecup punggung tangan Vera.
"Terimakasih.Tapi ... tolong rahasiakan hubungan kita dari semua teman-temanmu, ya?"
"Kenapa? Kenapa, aku harus merahasiakan hubungan kita?"
"Aku tidak mau simpananmu sakit hati, Put. Dan agar semuanya adil," jawab Vera memeluk pria dihadapannya lagi.
'Maafkan aku, yang sudah berbohong padamu. Tapi, aku berjanji, aku akan menyelesaikan masalahku dengan Mas Dave, agar kita bisa bersama,' batin Vera.
"Kita kembali ke kelas," titah Putra melepaskan pelukan kekasihnya.
"Sayang!" pekik seorang wanita.
Bersambungš
__ADS_1